Tim Gabungan Amankan Tiga Warga di Kwamki Narama

Sabtu, 18 Mei 2019 22:28 WIT
AKBP Agung Marlianto

TIMIKA | Tim gabungan TNI-Polri di Mimika, Papua mengamankan tiga warga di Kwamki Narama saat melaksanakan patroli gsbungan, Sabtu (18/5). 


Ketiga orang tersebut kedapatan membawa alat perang dan senjata tajam tradisional. Mereka dikenakan  Undang undang Darurat nomor 12 tahun 1951.


Kapolres Mimika, AKBP Agung Marlianto mengatakan, patroli gabungan ini dilakukan untuk  mengantisipasi beredarnya isu akan dipindahkannya pertikaian antar warga di Ilaga, Kabupaten Puncak ke Kwamki Narama, Timika. 


“Isu dipindahkannya medan konflik tersebut, merupakan dampak pembunuhan yang terjadi di Kwamki Narama pada saat peresmian gereja beberapa waktu lalu,” kata Kapolres saat ditemui di Pusat Pelayanan Polres Mimika, Sabtu (18/5).


Ia menjelaskan, beberapa waktu lalu di Kwamki Narama sudah ada perdamaian yang digagas oleh Ketua DPRD Mimika. Dimana, terhadap pelaku pembunuhan yang dari kelompok Alom sudah dilakukan penangkapan dan sekarang sedang dalam proses hukum. Sedangkan pelaku dari kelompok sebelah, ditenggarai saat ini berada di Ilaga. 


"Kita sedang pantau keberadaannya. Kalau nanti dia turun, akan dilakukan pengejaran oleh tim khusus. Ini untuk membuktikan bahwa penegakan hukum tidak akan berhenti," Ungkap Kapolres. 
 

“Terhadap perdamaian sebagai bentuk adat, kami sangat apresiasi. Silahkan melakukan perdamaian. Namun harus berhenti, tidak boleh ada korban lagi. Tapi disayangkan kemarin sore, sekitar jam 3 sore ada upaya memperkeruh suasana. Dimana seolah-olah mengangkat isu percobaan pembunuhan terhadap korban atas nama Michael Hagabal,” terangnya.


Setelah kita dalami dan kita lakukan pencarian, ‘alamdulillah’ tadi Sabtu (18/5) pagi kita berhasil mengungkap dan menangkap pelakunya. Dan ternyata tidak ada kaitannya dengan pembunuhan itu. Tapi isu yang beredar ini seolah-olah diungkit bahwa itu adalah dampak dari tidak selesainya perdamaian yang dilaksanakan dulu.


“Akar masalahnya karena adanya perselingkuhan. Dan korban ini dituduh melakukan perselingkuhan, kemudian dilakukan persekusi. Dimana dalam kondisi mabuk,” jelasnya.


Ia mengatakan, agar tidak memperluas masalah ini menjadi konflik terbuka, tentunya TNI-Polri  yang merupakan representasi negara harus hadir memberikan jaminan rasa aman kepada masyarakat luas. Khususnya di Kwamki Narama bahwa perbuatan tersebut harus segera dihentikan. 


“Sehingga tadi malam, dilakukan penertiban dan berhasil kita amankan 3 orang yang membawa alat perang tradisional. Padahal jauh sebelumnya, kami sudah ingatkan tidak boleh ada alat perang dalam bentuk apapun. Dan kalau ada yang bawa akan diproses dengan Undang-undang Darurat,” tuturnya.

 
Kapolres menambahkan, pihaknya menyakini kalau Kwamki Narama akan maju kedepannya. Tentunya yang perlu dijaga adalah masyarakat tidak termakan isu-isu yang memprovokasi, sehingga terjadinya konflik.


“Mari tutup buku terhadap masalah yang lalu. Dan kita jelang era keemasan di Kwami Narama. Tentunya, dengan menjaga keamanan yang kondusif, karena itu pondasi bagi kemajuan suatu wilayah,” ungkapnya. (mkr/SP)

Kategori:
Bagikan