Rayakan Waisak, Keluarga Buddhayana Lebih Mencintai Indonesia

Minggu, 19 Mei 2019 14:40 WIT
Umat Buddha di Mimika saat merayakan Tri Hari Suci Waisak 2019/2563 TB. (Foto: Muji/SP)

TIMIKA | Puluhan umat Budha di Mimika, Minggu (19/5) merayakan Hari Tri Suci Waisak 2019/2563 Tahun Buddis (TB) di Cihara Cetiya Giri Loka, Kampung Naena Muktipura (SP6), Mimika, Papua.

Perayaan Hari Tri Suci Waisak diwarnai dengab pelaksanaan ibadah Puja Bakti Tri Suci Waisak yang dipimpin Romo Kartyadi. 

Ketua Majelis Budhayana Indonesia (MBI) Kabupaten Mimika, Jemmy Mulyono yang membacakan pesan Waisak 2563 TB/ 2019 dari Sangha Agung Indonesia mengucapkan sujud syukur kepada Triratna, sebagai penghormatan kepada Adi Buddha, karenankebajikannya ummat Budha kembali berkumpul memperingati Tri Suci Waisak 2563 TB. 

Perayaan Tri Suci Waisak sebagai momen mengingat kembali tiga peristiwa agung, yaitu kelahiran Bodhisatwa Siddhartha (M.iii.120), Pencapaian Pencerahan Bodhisatwa Siddhartha menjadi Samasammbuddha Gotama (M.i.249), dan parinirwana Buddha Gotama (D.ii.156), saat purnama di bulan Vesakha. Ini merupakan salah satu upaya membangkitkan dan meningkatkan keyakinan.

"Tema dalam perayaan Hari Tri Suci Waisak 2563 TB adalah mencintai tanah air Indonesia," katanya.

Dikatakan Bangsa Indonesia terdiri lebih dari 1.340 suku dan telah memiliki tradisi luhur turun-temurun, hingga menjadi budaya dan falsafah. Falsafah bangsa Indonesia saat ini dikenal dengan nama Pancasila, yang menjadi dasar pemersatu dan perilaku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun, saat ini budaya jauh dari nilai kearifan, pendidikan jauh dari keteladanan, agama jauh dari ketentraman, kebhinekaan jauh dari kesatuan, dan Pancasila jauh dari terapan. Ini menandakan lunturnya cinta tanah air terhadap Indonesia.

"Oleh itu, Buddha mendorong para siswa, agar memiliki kecintaan terhadap tanah air. Dimana mereka terlahir dan tinggal untuk tumbuh berkembang. Beliau memberikan pesan: Para biku, Aku izinkan mempelajari Dharma dengan bahasamu sendiri (Vin.ii.139). Maka, dalam perkembangannya agama Buddha dibelahan dunia, memiliki bentuk budaya yang berbeda-beda," terangnya.

Ia mengatakan, Buddha hanya merubah perbuatan buruk menjadi perbuatan baik, bukan merubah budaya dan falsafah negara. Di Indonesia, sejak kejayaan Sriwijaya hingga sekarang perkembangan agama Buddha tidak merubah budaya yang menjadi kekayaan bangsa.

Terlihat jelas, peninggalan agama Buddha masa lampau berupa bangunan candi dengan corak seni dan budaya nusantara, bukan luar negeri.

"Semboyan pemersatu bangsa 'Bhinneka Tunggal Ika' (KS.139.5) adalah karya seorang Guru Dharma, putra bangsa di zaman kerajaan Majapahit di abad 14. Ini semua bukti wujud agama Buddha mencintai tanah air Indonesia. Di era setelah kemerdekaan bangsa Indonesia, hingga sekarang," katanya.

Pelopor kebangkitan agama Buddha Indonesia, yaitu Mendiang Mahabiksu Jinarakkhita, Mahathera menekankan umat Buddha Indonesia harus mencintai tanah air. Ini dilakukan melalui gerakan agama Buddha Indonesia, bukan agama Buddha di Indonesia, dengan ciri kepribadian bangsa Indonesia.

Gerakan ini dikenal sebagai Buddhayana yang merupakan ajaran Buddha asli, dengan melihat keragaman budaya dan metode memiliki satu esensi, yaitu pembebasan. Mendiang Mahabiksu Jinarakkhita, Mahathera mengedepankan pandangan non-sektarian untuk melihat secara objektif kebhinekaan yang ada di Indonesia.

"Inilah wujud mencintai tanah air yang diajarkan Buddha dari zaman lampau hingga sekarang.  Sangha Agung Indonesia mengajak seluruh Keluarga Buddhayana Indonesia, untuk kembali menggali nilai-nilai kearifan budaya Indonesia, memberikan keteladanan bagi generasi, menjadikan agama sebagai sumber ketentraman, kebhinekaan sebagai kekuatan persatuan, dan Pancasila sebagai dasar dan perilaku hidup dalam berbangsa, bernegara dan beragama," tuturnya.

Serta senantiasa memiliki perbuatan, ucapan, pikiran berdasarkan cinta-kasih; saling berbagi, tidak saling menyakiti, dan mengharga segala bentuk perbedaan (A.iii.288-89).

"Semoga momentum peringatan waisak menguatkan kembali Cinta Tanah Air masyarakat Indonesia. Sehingga terus terjaga keutuhan bangsa dan NKRI," ungkapnya.(mkr/SP)

Kategori:
Bagikan