Jelang Lebaran, Dinas Peternakan Mimika Temukan Daging Tak Layak Konsumsi

Senin, 27 Mei 2019 15:07 WIT
Dinas Peternakan Kabupaten Mimika saat melakukan inpeksi mendadak kepada penjual daging di Jalan Hasanuddin. (Foto: Muji/SP)

TIMIKA | Untuk memastikan ketersediaan bahan atau produk asal hewan, Dinas Peternakan (Disnak) Kabupaten Mimika melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke beberapa tempat penjualan daging, baik daging ayam maupun sapi.

Pantauan seputarpapua.com di lapangan, sidak penjualan daging dibagi menjadi dua tim. 

Tim pertama dipimpin langsung Kepala Disnak Mimika, Ir.Yosefin Sampelino. Tim ini melakukan sidak ke beberapa tempat, seperti lapak-lapak di pasar sentral, Jalan Hasanuddin, Jalan Budi Utomo, dan Supermarket Diana.

Sementara tim kedua dipimpin Sekretaris Disnak Mimika, drh. Sabelina Fitriani. Tim ini menyisiri area pasar lama, Jalan KH Dewantara, Yos Sudarso, Belibis, dan Cenderawasih.

Dari sidak tersebut, tim menemukan dibeberapa tempat penjualan daging yang tidak layak dikonsumsi. 

Seperti di Pasar Sentral, tim menemukan daging sapi, ayam, bebek, dan rusa tak layak konsumsi. Sementara di Jalan Hasanuddin ditemukan hati dan ampela ayam yang juga tidak layak dikonsumsi. 

Adapun total daging yang tidak layak dikonsumsi seberat 17,52 kilogram. Jumlah ini terdiri dari daging sapi 2,4 kilogram, daging ayam 9,85 kilogram, daging bebek 0,2 kilogram, daging rusa 0,7 kilogram, hati dan ampela ayam 3,37 kilogram.

Selain itu juga, ditemukan 1 kilogram pentolan dari daging sapi yang tidak layak dikonsumsi. 

Semua daging tersebut kemudian dibawa untuk diteliti lebih lanjut di laboratorium milik Disnak. 

Kepala Disnak Mimika, Ir.Yosefin Sampelino mengatakan, sidak ini merupakan kegiatan rutin, khususnya pada perayaan hari-hari besar keagamaan, seperti Idul Fitri dan Natal. Dimana tentunya kebutuhan terhadap daging akan meningkat tinggi.

Dari kebutuhan itulah, pihaknya melakukan sidak, untuk memberikan kenyakinan dan kepastian kepada konsumen atau masyarakat bahwa produk pangan asal hewan ini aman, serta layak untuk dikonsumsi disaat lebaran nanti.

“Aman dan layak yakni daging tersebut tidak rusak dan mengandung bahan-bahan yang berbahaya, seperti formalin. Serta pencemaran mikrobanya tidak terlalu banyak,” kata Yosefin.

Yosefin mengaku, sidak tidak hanya dilakukan menjelang hari raya keagamaan, tetapi rutin dilakukan setiap dua bulan sekali dengan mengambil sampel daging untuk dilakukan penelitian di laboratorium guna diketahui sebaran mikrobanya.

“Kami terus melakukan secara rutin setiap dua bulan. Ini dilakukan, agar daging-daging ini dijual dengan layak dan aman untuk dikonsumsi. Serta melakukan pembinaan terhadap para pedagang tersebut. Kalau ada temuan, maka kita beritahukan kesalahannya dimana,” terangnya. (mkr/SP)

Kategori:
Bagikan