POM dan Komnas HAM Investigasi Empat Warga Tewas Diduga Tertembak di Asmat

Senin, 27 Mei 2019 21:26 WIT
Kolonel Inf Muhammad Aidi

TIMIKA | Pangdam XVII/Cenderawasih Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Yosua Pandit Sembiring bertindak cepat berkoordinasi dengan semua pihak menyusul kerusuhan di Distrik Fayit, Kabupaten Asmat, yang mengakibatkan empat warga tewas diduga tertembak, Senin (27/5). 

Mayjen TNI Yosua Pandit Sembiring telah berkoordinasi dengan Kapolda Papua Brigjen Pol Rudolf Albert Rodja serta Komnas HAM Papua, dan membentuk tim investigasi guna mendapatkan keterangan yang akurat akibat peristiwa berdarah itu.

Tim investigasi yang terdiri dari unsur Pomdam XVII/Cenderawasi, Kumdam XVII/Cend, Kesdam XVII/Cend, Korem 174/ATW, Polda Papua dan Komnas HAM Papua, rencananya langsung bertolak ke distrik Fayit, Asmat, Selasa (28/5) besok. 

Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi mengatakan, tim investigasi tersebut akan dipimpin langsung oleh Danrem 174/ATW Brigje TNI R. Agus Abdurrauf.

"Rencananya besok pagi, tim investigasi akan berangkat ke Fayit, Asmat," kata mantan Dandim Jayawijaya itu, Senin malam.

Pasca kejadian, kata Kolonel Aidi, pasukan  TNI/Polri 25 personel bersama pegawai Kesbangpol Kabupaten Asmat telah tiba di distrik Fayit untuk mengamankan situasi. 

"Sampai laporan ini kami diterima, massa sudah berhasil ditenangkan dan situasi sudah mulai kondusif," katanya. 

Kata Aidi, awalnya massa berjumlah sekitar 350an orang menyerang  Kantor Distrik Fayit hingga mengakibatkan kantor porak poranda, termasuk rumah salah seorang anggota DPRD Asmat, Handayani ikut menjadi sasaran amuk massa.

Melihat situasi anarkis yang terjadi, secara spontan empat anggota TNI di Pos Ramil, yang berjarak sekitar 50 meter dari kantor distrik, keluar dari pos untuk berusaha mengendalikan massa anarkis yang telah mengepung kantor distrik. 

"Salah seorang anggota posramil mengeluarkan tembakan ke atas untuk menghalau massa, namun massa justru semakin beringas dan berbalik menyerang anggota TNI tersebut," ungkap Aidi. 

Lanjut Aidi, dalam situasi terancam memaksa salah seorang anggota posramil melepaskan tembakan sambil mundur ke arah Pos untuk menyelamatkan diri, serta mengamankan pos dengan kekuatan yang sangat terbatas.

Akibat kejadian itu, empat orang tewas atasnama Xaverius Sai (40), Nikolaus Tupa (38), Matias Amunep (16), dan Frederikus Inepi (35). Kemudian satu korban alami luka tembak atasnama Jhon Tatai (25).

"Korban Jhon Tatai yang mengalami luka tembak pada siku tangan kanan dan kiri, saat ini sudah dievakuasi RSUD Asmat," jelas Aidi. 

Adapun penyerangan dan perusakan kantor distrik diduga dilakukan massa pendukung salah satu Calon Legislatif (Caleg), yang tak terima hasil Pemilu Legislatif 2019. 

Protes anarkis menyusul seorang Caleg merasa mendapatkan kursi legislatif, namun yang bersangkutan digantikan orang lain dari partai yang sama oleh ketua partai tersebut. 

"Tidak terima dengan keputusan tersebut,  Caleg yang bersangkutan mengerahkan massa sekitar 350 orang menggunakan senjata tajam dan senjata tradisional," ungkap Kolonel Aidi. (rum/SP)

Kategori:
Bagikan