Mengintip Kekhusukan Salat Tarawih di Masjid Terdalam di Dunia

Rabu, 29 Mei 2019 00:27 WIT
Suasana Salat Tarawih di Masjid Baabul Munawwar milik PT Freeport Indonesia, yang terletak di kedalaman 1.700 meter dari permukaan bumi. (Foto: Ist/SP)

TIMIKA | Tak terasa, Bulan Ramadan 1440 H sudah memasuki 10 hari ketiga. Bagi warga muslim di seluruh dunia, Ramadan merupakan bulan istimewa penuh rahmat dan ampunan. Dan bagi yang mampu, diwajibkan untuk berpuasa dari fajar hingga matahari tenggelam. 

Waktu berbuka puasa ini tentunya menjadi waktu yang paling ditunggu-tunggu, karena selain untuk melepas lapar dan dahaga, momentum berbuka juga bisa digunakan untuk bercengkrama dengan keluarga dan kerabat.
 
Ibadah lainnya yang biasa dilakukan di Bulan Ramadan adalah salat Sunnah Tarawih selepas Isya. Bagi kaum muslim kebanyakan, salat Tarawih berjamaah biasanya dilakukan di surau atau masjid terdekat. 

Sementara bagi karyawan muslim PT Freeport Indonesia yang bekerja di dalam perut bumi, ibadah salat Tarawih dilaksanakan di Masjid Baabul Munawwar, yang terletak Tembagapura, Timika, Papua, dan di kedalaman 1.700 meter dari permukaan bumi.
 
Masjid yang diresmikan pada bulan Juni 2016 itu memang didirikan oleh menejemen PT Freeport Indonesia untuk memudahkan para karyawannya yang beragama Islam untuk menunaikan ibadah salat lima waktu. 

Memasuki Bulan Ramadan, masjid dengan nama yang bermakna “pintu tempat cahaya” itu juga digunakan untuk berbuka puasa bersama. Dan mendirikan salat Tarawih bagi karyawan muslim yang bekerja disalah satu lokasi tambang terbesar di Indonesia itu.
 
“Adapun untuk kegiatan selama Bulan Ramadan, diusahakan setiap hari Jumat itu paling tidak seminggu sekali kami adakan buka bersama di Masjid Baabul Munawwar,” ujar karyawan PT Freeport Indonesia yang juga merupakan pengurus Masjid Baabul Munawwar, Budi Sutrisna.

Dalam kesehari-hariannya, Budi bertugas sebagai general foreman di Deep Mill Level Zone (DMLZ) atau tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia.
 
Karyawan yang aktif mengikuti kegiatan di Masjid Baabul Munawwar kebanyakan berasal dari bagian operasional tambang bawah tanah, seperti bagian mekanik, konstruksi, operator, elektrik, instrument dan lainnya. 

Budi menjelaskan bahwa saat berbuka puasa, biasanya mereka menghentikan pekerjaan mereka sejenak untuk membatalkan puasa, sekaligus menunaikan ibadah salat Magrib. 

Setelah itu, mereka akan kembali ke posnya masing-masing untuk kemudian berkumpul kembali di masjid, dan menunaikan salat Isya serta Tarawih.
 
“Di sela waktu antara Magrib dan Isya, para karyawan biasanya mengikuti ‘safety meeting’ di bagiannya masing-masing. Meeting ini dilakukan untuk mengingatkan para pekerja terkait keselamatan kerja. Bagaimanapun juga keselamatan kerja merupakan prioritas utama,” katanya. 

“Jadi, setelah mereka selesai pembagian tugas, sekitar kurang lebih setengah jam, mereka kembali ke masjid untuk melaksanakan shalat Isya secara berjamaah dan dilanjutkan Tarawih. Setelah itu mereka kembali ke pekerjaannya masing-masing, melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawabnya,” tutur Budi.
 
Khusus di hari Jumat, karyawan muslim akan mendapatkan menu berbuka yang berbeda dari biasanya. Selain itu, pihak pengurus masjid juga mendatangkan Ustadz khusus dari Yayasan Masyarakat Muslim (YMM) untuk memberi tausiah.
 
“Kami mengundang Ustadz dari YMM untuk jadi imam, sekaligus penceramah di kuliah tujuh menit (kultum). Di samping itu, juga dilaksanakan berbagai kegiatan lainnya yang bisa mengeratkan silaturahmi diantara para Jemaah. Alhamdulillah, mereka cukup gembira, cukup ramai, dan menyambut positif kegiatan ini,” ungkap Budi.(mkr/SP)

Kategori:
Bagikan