Freeport Didik ‘Fresh Graduate’ Papua Jadi Seorang Pebisnis

Rabu, 29 Mei 2019 21:02 WIT
EVP Human Resource Development PT Freeport Indonesia Achmad Didi Ardianto saat menyerahkan sertifikat kepada lulusan Papuan Bridge Program angkatan 17. (Foto: Muji/SP)

TIMIKA | Sebagai salah satu perusahaan tambang terbesar di dunia yang berada di Papua, Indonesia, PT Freeport Indonesia (PTFI) terus berkomitmen mengembangkan kualitas sumber daya manusia (SDM) masyarakat setempat. 

Salah satu bentuk komitmen yang dilakukan oleh PTFI adalah dengan membuka Papua Bridge Program (PBP). Dimana, hingga kini sudah menghasilkan ratusan lulusan di jenjang perguruan tinggi.

Seperti pada Rabu (29/5) PTFI melalui Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN) kembali melepas 12 orang lulusan PBP angkatan 17.

Pelepasan sendiri dilaksanakan di Aula IPN, yang dihadiri dan ditutup oleh EVP Human Resources Development PTFI, Didi Achmad Ardianto, VP Papuan Affair Departmen, Frans Pigome, dan Ketua Yayasan IPN, Claus Wamafma.

Papua Bridge Program angkatan 17 ini terbagi dalam tiga tahapan, yakni tahap pertama selaama 4 bulan yang berupa masa pengembangan bersama (MBP) atau pelatihan di IPN.

Tahap kedua, selama 2 bulan dilaksanakan di Timika dan di daerah asal. Dan tahap ketiga selama 3 bulan yang merupakan masa pendampingan bisnis.

“Seharusnya yang ikut di PBP angkatan 17 sebanyak 15 siswa. Tapi tiga orang mengundurkan diri, sehingga tersisa 12 orang,” kata Senior Manager IPN, Soleman Faluk.

Selama masa pelatihan ini, para siswa dididik dan dilatih oleh trainer yang handal di bidangnya. Menariknya, ini merupakan pendidikan gratis dengan istilah "the power of kepepet" atau memanfaatkan peluang. 

"Tujuannya, memberikan keberanian, serta menciptakan kepribadian diri dan cara mendapatkan peluang," kata Soleman. 

 

alt text

 

EVP Human Resource PTFI, Didi Acmad Ardianto mengatakan, program ini didesain dengan pola pembelajaran dan pelatihan khusus sehingga menghasilkan tenaga kerja berkualitas siap pakai. 

Program ini sebagai bentuk komitmen PTFI dalam mengembangkan masyarakat Papua, serta berkontribusi untuk kemajuan SDM dan daerah. 

“PBP dibuat dan bertujuan untuk mengembangkan diri, tentunya dalam dunia bisnis. Serta untuk menumbuhkan kepercayaan, agar menjadi sukses,” katanya.

Didi mengingatkan kepada lulusan ini, bahwa untuk menjadi sukses itu hanya ada dua kunci, yakni kesempatan/peluang dan persiapan. Kesempatan lewat, maka tidak akan sukses. Ada kesempatan, tetapi tidak ada kesiapan, maka itu juga tidak bisa.

“Oleh karena itu, tumbuhkan percaya diri dan asah terus potensi yang ada pada diri pribadi,” ujarnya.

Didi juga memberikan pandangan motivasi terkait ilmu pedang. Pedang itu, awalnya adalah besi yang tidak dianggap. Tetapi ketika ditangan sang empu (ahlinya), maka besi yang using itu menjadi sebuah pedang yang bagus. 

Tetapi perlu diingat, pesan Didi, untuk bisa menjadi pedang yang bagus, butuh proses, dibakar dan ditempa sampai menghasilkan pedang berkilau dan tajam. 

“Yang tidak kalah pentingnya adalah rasa syukur atas apa yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena dengan bersyukur kita akan bisa menikmati apa yang didapatkan. Dan terus berupaya, agar itu menjadi sebuah kenikmatan yang luar biasa,” kata dia. 

Sementara VP Papua Affair Department, Frans Pigome mengatakan, kesuksesan seseorang itu ditentukan oleh karakter masing-masing, dan dengan totalitas. 

Ditambah lagi, yang juga paling penting, adalah adanya sinkronisasi antara tubuh, jiwa, dan roh. Dan ini harus terjaga sebagai semangat. Kalau ini dijaga, maka kesuksesan akan menghampiri.

Selain itu, katanya, jangan pernah bergantung kepada seseorang, tapi harus percaya kepada diri sendiri dengan memaksimalkan kemampuan yang ada.

"Jangan berharap kepada seorangpun yang menolong. Kalaupun ada itu berkat. Tapi yang penting adalah percaya pada diri sendiri, untuk mengembangkan potensi,” ujarnya.

Ketua Yayasan IPN, Claus Wamafma mengatakan, program PBP merupakan terobosan yang dilakukan oleh PTFI. Dimana ini merupakan komitmen dari perusahaan untuk terus mengembangkan potensi SDM masyarakat Papua.

“Freeprot sendiri, sudah memiliki ratusan binaan. Namun kebanyakan masih tergantung dengan PTFI. Namun kami terus berupaya dan bekerja untuk terus melakukan kegiatan yang menyentuh masyarakat,” tuturnya.

Kata dia, program PBP ini merupakan pelatihan dengan memberikan pembekalan bisnis. Dengan tujuan, bisa menciptakan peluang usaha yang bagus. 

“Kami inginkan, adanya usaha mandiri yang dikelola diri sendiri bukan orang lain. Sehingga banyak muncul pebisnis-pebisnis Papua yang handal. Karena selama ini, hanya mengandalkan proposal. Dimana setiap hari kita menerima 7 proposal dari masyarakat,” bebernya. (mkr/SP)

Kategori:
Bagikan