MUI Mimika: Idul Fitri di Indonesia akan Bersamaan

Kamis, 30 Mei 2019 18:41 WIT
Ustad Amin Ar,S.Ag

TIMIKA | Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Mimika, Ustad Amin,Ar, S.Ag mengatakan, 1 Syawal 1440 H sebagai perayaan Idul Fitri di Indonesia akan dilakukan secara bersamaan, baik itu Nahdatul Ulama (NU) maupun Muhammadiyah.

Kata dia, untuk menentukan waktu lebaran, maka digunakan dua metode, yakni hilal (melihat bulan) dan hisab (perhitungan hari). 

Dari dua metode tersebut, maka untuk hisab sudah ada. Sementara menurut hilal masih menunggu bulan berdasarkan pemantauan.

“Berdasarkan metode hisab, baik dari NU, Muhammadiyah, dan pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama (Kemenag) RI, untuk pelaksanaan 29 Ramadan 1440 H, hilal masih belum terlihat masih dibawah ufuk. Karenanya, Ramadan tahun ini digenapkan menjadi 30 hari. Sehingga lebaran nanti dilakukan secara bersamaan, yakni 5 Juni 2019 nanti,” kata Amin di Gedung Serbaguna Babussalam, Kamis (30//5).

Sementara untuk hilal atau pemantauan melihat bulan, masih menunggu dan akan diputuskan melalui rapat Isbat Kemenag RI.

“Saya sudah yakin, lebaran nanti akan jatuh pada 5 Juni nanti,” ujarnya.

Kedepan, Mimika Jadi Tempat Melihat Hilal

Ketua MUI Mimika mengatakan, pada saat dirinya mengikuti pengkaderan Da’i di Jayapura beberapa waktu lalu, Kakanwil Kemenag Papua akan mendukung alat pemantau hilal untuk Mimika.

“Dari itu, kami akan berkoordinasi dengan Kemenag Mimika untuk tindaklanjutnya,” katanya.

Kata dia, selain Mimika masih ada empat daerah yang akan dijadikan tempat pemantau hilal di Papua, yakni Merauke, Biak, Nabire, dan Serui.

Apabila lima daerah ini, termasuk Mimika sudah memiliki alat pemantau hilal, maka pemeirntah pusat bisa langsung menggelar sidang isbat pada pukul 17.00 WIB, berdasarkan hasil pemantauan dari Papua.

“Jadi kalau di Papua ada alat pemantau hilal, maka pemerintah bisa mengumumkan lebaran lebih cepat. Karena ada perbedaan dua jam dibandingkan wilayah Indonesia Barat,” terangnya.

Menurutnya, setelah lebaran nanti, pihaknya akan melakukan survei tempat pemantau hilal. A dua tempat yang kemungkinan dijadikan patokan, yakni Pulau Puriri dan Pulau Bidadari.

Pemilihan dua pulau ini, karena faktor terbit dan tenggelamnya matahari, yang dijadikan patokan dalam melakukan pemantauan untuk melihat hilal. 

“Untuk penentuan hilal dilihat, apakah dibawah atau diatas 2 derajat. Kalau di atas maka segera lebaran. Namun kalau dibawah, menurut NU dan pemerintah belum bisa dilakukan lebaran. Tapi Muhammadiyah sudah bisa, karena hilal sudah muncul,” jelasnya.

Karena itu, tahun depan hilal sudah bisa dilihat dari Mimika. “Alat untuk pantau hilal nanti tidak dipasang permanen, tapi bisa diangkat atau dibawa kembali setelah digunakan,” ujarnya.(mkr/SP)

Kategori:
Bagikan