Korban Penembakan di Asmat Terpaksa Relahkan Lengannya Diamputasi

Minggu, 02 Jun 2019 20:33 WIT
Pangdam Cenderawasih Mayjen TNI Yosua Pandit Sembiring bersama Ketua Komnas HAM RI Perwakilan Papua-Papua Barat Frits Ramanday membesuk korban di RS Bhayangkara Jayapura, Sabtu (1/6). (Foto: Pendam XVII Cenderawasih)

TIMIKA | Kodam XVII Cenderawasih memastikan tetap memproses hukum prajurit TNI yang menembak 4 warga hingga tewas saat rusuh protes hasil Pemilu Legislatif di Distrik Fayit, Kabupaten Asmat, Senin (27/5) lalu.

Kepala Penerangan Kodam XVII Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi mengatakan, meski telah dilakulan rekonsiliasi namun proses hukum tetap berjalan termasuk terhadap provokator yang menyulut kerusuhan berujung jatuhnya korban jiwa.

"Peristiwa ini tentunya meninggalkan duka mendalam bagi semua pihak, terutama pihak pelaku kerusuhan sekaligus korban dan pihak TNI sendiri," kata Kolonel Aidi dalam keterangan, Minggu (2/6).

Selain korban tewas, protes anarkis pendukung salah satu Calon Legislatif juga mengakibatkan seorang korban alami luka tembak, yakni Jhon Tatai (26), yang harus merelahkan lengan kirinya diamputasi.

"Kemarin, Sabtu (1/6), korban penembakan yang mengalami luka tembak di tangan telah dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara di Jayapura dalam rangka mendapatkan perawatan terbaik," kata Aidi.

Pangdam XVII/ Cend Mayor Jenderal TNI Yosua Pandit Sembiring didampingi para staf bersama Ketua Komnas HAM RI Perwakilan Papua/Papua Barat Frits Ramanday telah membesuk korban di RS Bhayangkara Jayapura. 

"Dalam kunjungannya, Pangdam menyampaikan rasa prihatin mendalam dan berbela sungkawa sebesar-besarnya terhadap seluruh korban, termasuk kepada Jhon Tatai yang mengalami luka tembak di kedua tangan, dan tangan kiri sampai siku terpaksa diamputasi," tutur Aidi. 

Pangdam juga mewakili seluruh prajurit TNI Kodam XVII/Cend  terutama pelaku penembakan, Serka Fajar, menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas peristiwa berdarah tersebut.

"Kita semuanya selaku anak-anak Tuhan tidak ada yang menghendaki hal ini terjadi, namun hal ini sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa dan harus kita terima dengan berlapang dada," ujar Pangdam, demikian Aidi.

Adapun akibat kejadian tersebut, empat orang tewas atasnama Xaverius Sai (40), Nikolaus Tupa (38), Matias Amunep (16), dan Frederikus Inepi (35). Kemudian satu korban alami luka tembak atasnama Jhon Tatai (25). 

Korban tewas maupun luka-luka tertembak dari senjata milik anggota Pos Ramil Fayet, Serka Fajar, yang terpaksa melepaskan tembakan setelah terpojok dikepung ratusan massa pendukung salah satu Calon Legislstif (Caleg).

Menyikapi kejadian itu, Pangdam XVII/Cenderawasih Mayor Jenderal TNI Yosua Pandit Sembiring langsung berkoordinasi dengan semua pihak untuk membentuk tim investigasi guna mendapatkan keterangan yang akurat. 

Tim investigasi yang terdiri dari unsur Pomdam XVII/Cenderawasi, Kumdam XVII/Cend, Kesdam XVII/Cend, Korem 174/ATW, Polda Papua dan Komnas HAM Papua, langsung bertolak ke Asmat keesokan harinya pasca kejadian, Selasa (28/5). 

"Salah satu fakta yang terungkap dari investigasi, mulai penyebab kerusuhan anarkis, ada upaya himbaun secara persuasif. Kemudian tembakan peringatan, hingga akhirnya Serka Fajar terpojok pada sudut bangunan, dan dihadapkan pada pilihan menjadi korban atau menjatuhkan korban," ungkap Aidi. 

Untuk diketahui, peristiwa penyerangan dan perusakan oleh massa pendukung salah satu Calon Legislatif di Distrik Fayit, Asmat, lantaran tak terima hasil Pemilu Legislatif 2019. 

Protes anarkis menyusul seorang Caleg merasa mendapatkan kursi legislatif, namun yang bersangkutan digantikan orang lain dari partai yang sama oleh ketua partai tersebut. 

Tidak terima dengan keputusan tersebut,  Caleg yang bersangkutan mengerahkan massa sekitar 350 orang menggunakan senjata tajam dan senjata tradisional dan melakukan aksi protes anarkis. (rum/SP)

Kategori:
Bagikan