Ajudan Panglima Tinggi Separatis Papua Menyerahkan Diri

Sabtu, 08 Jun 2019 17:52 WIT
Telangga Gire (30) menyerahkan diri bersama tiga rekannya beserta satu pucuk senjata api jenis moser. (Foto: Dok Pendam Cenderawasih)

TIMIKA | Telangga Gire (30), pengawal (ajudan) Panglima Tinggi sayap militer Papua Merdeka Gen. (TPNPB) Goliath Tabuni,  menyerahkan diri dan berikrar kembali ke pangkuan NKRI. 

Telangga Gire menyatakan kesetiaan kepada NKRI di hadapan Dandim 1714/PJ Letkol Inf Agus Sunaryo didampingi 25 anggotanya di Kampung Wurak, Distrik Illu Kabupaten Puncak Jaya, Sabtu (8/6). 

Kepala Penerangan Kodam XVII/ Cederawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi mengatakan, Telangga Gire menyerahkan diri bersama tiga orang rekannya, Piningga Gire (25 ), Tekiles Tabuni (30) dan Perengga (27).

Anggota kelompok bersenjata Papua yang bergerilya di wilayah Puncak Jaya tersebut, dilaporkan turut menyerahkan satu pucuk senjata api jenis Mosser dan sejumlah amunisi kaliber 7,62 mm.

"Menurut Telangga bahwa senjata tersebut adalah milik polisi yang dirampas pada saat penyerangan Polsek Karubaga, Kabupaten Tolikara tahun 2013 silam," kata Kolonel Aidi, Sabtu.

Penyerahan diri keempat mantan separatis, kata Aidi, berawal dari komunikasi dengan seorang anggota Kodim 1714/PJ Sertu Jefri May yang berlangsung sejak tanggal 5 Mei 2019. 

Menurut Telangga, demikian Aidi, dirinya dengan beberapa orang rekannya sudah lama ingin menyerahkan diri namun tidak tahu bagaiman caranya lantaran takut ditembak oleh TNI/Polri.

Namun setelah mengenal Jefri May dan kawan-kawannya, terjalin komunikasi secara intens baik via telepon maupun dengan pertemuan secara langsung. 

Selama masa perkenalan dan proses komunikasi, Sertu Jefri selalu melaporkan perkembangan kepada Dandim Letkol Inf Agus Sunaryo untuk mendapatkan petunjuk. Agus menitip pesan bahwa TNI menjamin keselamatan mereka bila ingin menyerahkan diri secara sukarela.

"Kita semua bersaudara, mari bersama-sama membangun Papua untuk masa depan generasi kita yang lebih baik, Papua sudah merdeka dalam bingkai NKRI," pesan Dandim dikutip Aidi. 

Aidi mengatakan, Telangga beserta kelompoknya secara diam-diam mengamati interaksi TNI dengan rakyat yang terlihat sangat baik. Ia juga melibat TNI membantu rakyat, termasuk membantu membangun jalan dan fasilitas lainnya.

Akhirnya, pada Kamis 6 Juni  2019 Pukul 17.00 WIT, 4 orang anggota Kodim dipimpin Sertu Jefri May melaksanakan pertemuan dengan Telangga di Distrik Tingginambut. Mereka kemudian menyatakan tekad untuk menyerahkan diri kembali ke pangkuan NKRI.

"Hari itu juga mereka diantar ke Makodim untuk menghadap Dandim di Distrik Mulia, Puncak Jaya," ungkap Kolonel Aidi. 

Dandim Puncak Jaya Letkol Agus lalu berkoordinasi dengan Bupati Puncak Jaya, Yuni Wonda, tentang keinginan anggota KKSB tersebut kembali ke Pangkuan NKRI. Bupati pun menyanggupi akan memberikan pekerjaan dan memperbaiki rumah mereka. 

Dari hasil pertemuan dengan Dandim, Telangga Gire mengaku senjatanya disimpan di Kampung Wurak, Distrik Illu. Ia berjanji akan menyerahkan senjata tersebut dan akan mengajak tiga orang kawannya.

Kemudian pada hari yang telah disepakati, Sabtu (8/6), Dandim beserta 25 orang tim pengaman berangkat ke Kampung Wurak untuk menjemput Telangga Gire beserta senjata yang dijanjikan. 

"Proses penyerahan diri berlangsung aman dan lancar. Saat ini Telangga Gire dkk beserta senjatanya sudah berada di Makodim dalam rangka pendataan," kata Aidi. 

Sementara itu Bupati Puncak Jaya berencana akan melaksanakan upacara penerimaan warga pada hari Selasa (11/6) pekan depan, dengan mengundang warga Mulia, Puncak Jaya.

"Bupati juga berjanji akan memberikan pekerjaan serta membangun rumah untuk anggota KKSB lainnya jika bersedia menyerahkan diri kembali ke pangkuan NKRI," tuturnya. 

Merasa Tertipu

Kolonel Aidi menyebut, anak buah Goliath Tabuni tersebut merasa tertipu janji-janji pimpinan mereka bahwa tidak lama lagi Papua akan merdeka dan mereka akan diberi jabatan tinggi dalam pemerintahan. 

"Ternyata semuanya itu tipu-tipu saja. Kami bertahun-tahun hidup menderita di hutan, kepanasan, kedinginan, kehujanan, kelaparan dan lain-lain. Tiap hari hanya makan petatas dan keladi ambil dari kebun warga," kata Aidi mengutip pengakuan Telangga.

Di samping itu, para anggota KKSB juga memikirkan anak-anaknya ke depan, terkait bagaimana mereka harus sekolah agar bisa hidup lebih baik.

"Kami mau kerja yang baik-baik agar anak-anak diurus menjadi orang yang berhasil," kata Telangga yang mengaku punya anak 13 orang dari empat orang istri dan semuanya masih kecil-kecil.

Telangga juga mengajak seluruh rekan-rekannya yang masih di hutan agar segera kembali ke pangkuan NKRI agar bisa hidup normal sebagai masyarakat warga Negara Indonesia.

"Bahwa apa yang kita perjuangkan selama ini, hanya mimpi-mimpi kosong. Kasihan anak keturunan kita. Mereka harus kita siapkan agar mereka bisa hidup lebih baik di masa yang akan datang," kata Telangga. 

Untuk diketahui, Goliath Tabuni adalah panglima tinggi Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), setelah reformasi melalui TPN-OPM di Biak yang bermarkas di Perwomi. 

Goliath Tabuni resmi dilantik menjadi pimpinan TPNPB di Markas Tingginambut 11 Desember 2012. Ia bersumpah di hadapan dewan militer Papua sesuai sumpah janji militer TPNPB. (rum/SP)

Kategori:
Bagikan