Freeport Butuh Rp43 Triliun Selesaikan Smelter di Gresik

Senin, 17 Jun 2019 21:36 WIT
Tony Wenas

TIMIKA | PT. Freeport Indonesia mengaku masih mencari pinjaman yang diperkirakan mencapai Rp 40-43 triliun untuk membiayai pembangunan Pabrik Pemurnian (Smelter) di Gresik, Jawa Timur.

Presiden Direktur PT. Freeport Indonesia Clayton Allen Wenas atau Tony Wenas di Timika, Senin (17/6), mengatakan, salah satu opsi pinjaman antaralain pendanaan melalui bank.

Ia menyebutkan cukup banyak bank yang berminat mendanai mega proyek tersebut. Sejauh ini ada sekitar 15 bank, baik asing maupun nasional yang sedang dalam proses pembicaraan.

"Sedang kita bicarakan dengan beberapa bank. Kira-kira yang dibutuhkan sekitar 2,8 miliar dolar sampai 3 miliar dolar," kata Tony Wenas.

Dana sebesar US$ 2,8 miliar hingga US$ 3 miliar atau setara Rp 40-43 triliun untuk membangun konstruksi lanjutan dan fasilitas pabrik pemurnian di atas lahan seluas 100 hektar. 

Sejauh ini Freeport, kata Tony, telah menggelontorkan dana hampir Rp2 triliun untuk beberapa tahap pembangunan, antaralain pengadaan lahan dan study engineering design. 

"Pembangunan smelter itu lahannya sudah siap ada100 hektar, sudah rata, sementara kita lakukan pemadatan. Kita lagi pasang Prefabricated Vertical Drain (PVD), itu supaya tanahnya lebih padat lagi," kata dia.

Selanjutnya, tengah dilakukan finalisasi front end engineering design (FEED) atau teknik dasar yang merupakan study akhir detil konstruksi bangunan smelter berkapasitas 2 juta ton. 

"Pembangunan smelter diperkirakan sampai 2023. Total produksi Freeport disesuaikan dengan kapasitas smelter ini. Sementara pembangunan konstruksi smelter, kita dibolehkan untuk ekspor sementara," katanya. 

Ia menambahkan, smelter harus dibangun di kawasan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Manyar, Gresik, Jawa Timur, atas berbagai pertimbangan yang sangat teknis. 

"Banyak faktor kenapa pembangunan dilakukan di Gresik, antaralain asam sulfat yang akan dimanfaatkan oleh petrokimia, keberadaan listrik dan ketersediaan infrastruktur lainnya," kata dia.

Untuk kebutuhan daya listrik saja, dibutuhkan pembangkit berkapasitas 100-200 mega watt. (rum/SP)

Kategori:
Bagikan