Tokoh Mimika Geram Sebut Non-Papua Masuk Program Beasiswa Otsus

Selasa, 18 Jun 2019 19:22 WIT
Wilhelmus Pigai

TIMIKA | Tokoh masyarakat Mimika Wilhelmus Pigai mengaku geram begitu menerima informasi adanya non Papua masuk dalam daftar calon penerima beasiswa yang dibiayai dana Otonomi Khusus (Otsus) Papua 2019.

Wilhelmus mengatakan telah melihat daftar nama 90 siswa di Mimika calon penerima beasiswa tersebut terdapat beberapa siswa bermarga non Papua, salah satunya berasal dari SMA Negeri 1 Mimika. 

"Ada beberapa nama yang bukan bermarga orang asli Papua yang dinyatakan lulus seleksi untuk beasiswa tahap pertama," kata Wilhelmus kepada Seputarpapua, Selasa (18/6).

Mantan Anggota DPR Papua ini mengaku belum mengetahui pasti alasan tim seleksi meloloskan siswa bermarga non Papua, tetapi yang pasti program tersebut hanya dikhususkan bagi Orang Asli Papua (OAP).

"Saya kurang tahu apakah sekolah tidak menyeleksinya dengan baik atau ada kekeliruan dari tim seleksi provinsi," kata dia.

Menurut Wilhelmus, yang dimaksud OAP adalah berdasarkan garis keturunan ayah-ibu Papua dan ayah Papua-ibu non Papua. Atau menganut sistem patrilineal, adat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ayah. 

"Gubernur Lukas Enembe menegaskan program ini khusus untuk OAP. Tidak ada disebutkan non Papua. Yang penting dia menganut sistem patrilineal, bermarga Papua," katanya.

Ia menegaskan, seleksi penerimaan beasiswa Otsus melalui program 'siswa unggul Papua' ini dilakukan secara terbuka agar seluruh suku dari 29 kabupaten/kota di Papua mendapat kesempatan yang sama.

"Seleksi tidak seperti dulu lagi, dilakukan tertutup. Di masa kepemimpinan Gubernur Lukas Enembe-Klemen Tinal saat ini sudah digelar secara terbuka," kata Wilhelmus.

Untuk itu, Wilhemus berharap program Gubernur Papua yang sangat baik ini dapat memberikan kesempatan besar bagi anak asli Papua, untuk mengikuti pendidikan lanjutan ke luar negeri. 

"Saya pikir itu jelas, uang bersumber dari dana Otsus yang ditetapkan di APBD provinsi. Sehingga dana ini sedianya dimanfaatkan untuk membiayai anak-anak asli Papua," tukasnya. 

Ia mengingatkan setiap sekolah mengajukan siswanya dengan hati-hati, begitu juga kepada tim seleksi dari Biro Otonomi Khusus Provinsi Papua, agar cermat dalam memverifikasi calon penerima beasiswa secara baik. 

"Jika ada sekolah yang bermain, tahun berikutnya dan seterusnya sekolah itu tidak bisa diberikan kesempatan lagi," tegasnya. (rum/SP)

Kategori:
Bagikan