Duka Mendalam Warga Toraja Papua Barat Iringi Pemakaman Mantri Patra

Selasa, 25 Jun 2019 14:48 WIT
Bupati Teluk Wondama Bernadus Imburi memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum sebelum dimakamakan. (Foto: Diyanto Sarira/SP)

TIMIKA | Warga Toraja di Teluk Wondama, Papua Barat, diliputi duka mendalam atas wafatnya Patra Marinna Jauhari, mantri asal Palopo, Sulawesi Selatan, yang dianugerahi Pahlawan Kemanusiaan.

Warga Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Teluk Wondama, ikut mengiringi pemakaman Mantri Patra yang dipimpin Bupati Teluk Wondama Bernadus Imburi di Wasior, Senin (24/6).

Jenazah Mantri Patra diberangkatkan dari rumah kontrakannya dan diarak ke aula Dasar Wondama yang terletak di kompleks perumahan Pemkab Teluk Wondama. 

Di aula dilaksanakan acara pelepasan jenazah dipimpin Bupati Teluk Wondama Bernadus Imburi kepada pihak keluarga. Hadir keluarga almarhum dari Seriti, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.

"Selanjutnya jenazah dibawa ke tempat pemakaman," kata Francesco, salah satu warga IKT Teluk Wondama dikutip Torajadaily.com pada Selasa (25/6).

Alumni Akademi Keperawatan Kamanre Palopo asal Seriti ini terbilang aktif di berbagai kegiatan IKT Teluk Wondama. Mantri Patra dikenang sebagai sosok yang bersahaja oleh warga IKT. 

“Saya sendiri biasa kumpul bareng dengan almarhum, mulai dari penjemputan di bandara sampai pengantaran ke pemakaman. Hampir semua warga IKT terlibat,” ujar Francesco.

Mantri Patra meninggal dunia akibat sakit malaria yang tak tertangani kala bertugas di Kampung Oya, Distrik Naikere, wilayah pedalaman Teluk Wondama, Papua Barat, pada Selasa 18 Juni 2019 lalu. 

Jenazah Pahlawan Kemanusian itu baru bisa dievakuasi setelah mulai membusuk, empat hari kemudian, menggunakan helikopter yang merupakan satu-satunya sarana transportasi ke wilayah itu. 

Oya tempat Patra bertugas, merupakan salah satu kampung di pedalaman distrik Naikere yang masih terpencil dan terisolir. Tidak ada akses jalan darat apalagi sarana telekomunikasi.

Wilayah di perbatasan antara Teluk Wondama dengan Kabupaten Kaimana ini hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki atau menggunakan helikopter.

Pada awal Februari lalu, Mantri Patra bersama seorang rekannya diantar dengan helikopter ke Kampung Oya. Mereka dijadwalkan bertugas selama tiga bulan dari Februari hingga Mei untuk kemudian dijemput kembali diganti petugas berikutnya.

Hingga akhir Mei 2019 belum juga ada helikopter yang datang menjemput. Persediaan bahan makanan berupa beras, minyak goreng yang dibawanya pada tiga bulan lalu pun telah lama habis. Demikian pula stok obat-obatan. Semuanya telah habis dipakai. 

Namun, Patra yang tinggal seorang diri setelah temannya sesama perawat memutuskan turun ke kota Wasior dengan berjalan kaki memilih tetap bertahan. Ia terus memberi pelayanan medis dengan kondisi apa adanya. 

Hari terus berlalu, helikopter yang ditunggu tak juga tiba, namun kesetiaan Patra tetap tak luntur. Dia terus bertahan meski di hatinya memendam kecewa terhadap instansi tempatnya bekerja hingga akhirnya dia jatuh sakit.

Mengetahui kondisinya kian memburuk, seorang warga kampung Oya memutuskan berjalan kaki untuk memberitahukan kondisi sang mantri kepada kepala Puskesmas Naikere.

Meskipun demikian, tetap saja tidak
ada helikopter yang datang untuk mengevakuasinya ke kota guna mendapat perawatan medis. Pada 18 Juni 2019, Patra menghembuskan nafas terakhir di tempat tugasnya di Oya.

Dia meninggal dalam kesendirian, tanpa ada keluarga, teman maupun kerabat yang mendampingi Pahlawan Kemanusiaan itu. (rum/SP)

Kategori:
Bagikan