Kasus Perceraian di Mimika Meningkat, Gugatan Istri Paling Dominasi

Kamis, 04 Jul 2019 11:31 WIT
Humas Kantor Pengadilan Agama, Bahri Conoras.(Foto: Yunita/SP)

TIMIKA | Hingga Juni 2019 tercatat 47 istri mengajukan cerai terhadap suaminya di Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Mimika, Papua. 

Humas Kantor Pengadilan Agama, Bahri Conoras menyebutkan, dari 77 perkara yang ditangani sejak Januari hingga Juni 2019,  47 merupakan gugatan cerai yang dilayangkan kaum hawa. Sementara sisanya cerai talak atau yang diajukan suami. 

Sedangkan pada tahun 2018, pihaknya menangani 185 pekara dengan jumlah gugatan cerai sebanyak 107 kasus. 

"Perceraian di Mimika seluruhnya dari tahun 2018 berjumlah 185 dengan kasus yang berbeda, tetapi kasus yang paling menonjol adalah gugat cerai berjumlah 107. Dan tahun 2019 kasus cerainya berjumlah 77 dengan kasus yang berbeda juga, dan yang paling menonjol juga kasus gugat cerai sebanyak 47," sahut Bahri ditemui di kantornya, di Jalan Yos Sudarso, SP 1, Rabu (3/7).

Dari total 77 perkara yang sudah ditangani Pengadilan Agama hingga Juni 2019, tercatat 43 kasus perceraian disebabkan karena terjadi pertengkaran dalam rumah tangga. Sedangkan pada tahun 2018 dengan kasus serupa sebanyak 56.

"Perceraian yang terjadi di Mimika kebanyakan kasusnya karena perselisihan dan pertengkaran yang terus-menerus terjadi dalam rumah tangga mereka, dengan data pada tahun 2018 jumlahnya 56 kasus dan tahun 2019 berjumlah 43 kasus," tuturnya.

Bahri menjelaskan, sebelum putusan cerai diputuskan dalam persidangan, maka antara suami dan istri dipertemukan terlebih dahulu untuk dilakukan mediasi agar sekiranya pernikahan yang telah dilakukan dapat rujuk kembali.

"Karena ada hakekatnya pernikahan dinilai sebagai salah satu ibadah untuk mematuhi perintah Allah SWT," katanya. 

Namun, lanjut Bahri, karena kebanyakan kasus gugat cerai dilayangkan perempuan yang mengutamakan hati atau perasaan, sehingga  saat dilakukan meditasi mereka menolaknya untuk rujuk kembali dengan suaminya. 

"Jadi mereka (perempuan) rata-rata saat mediasi menolak untuk rujuk kembali," pungkasnya. (Cr-03/SP)

Kategori:
Bagikan