seputarpapua.com

Gegara Teriak Pencuri, Epen Diproses Hukum Tentang Penghasutan 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Gegara Teriak Pencuri, Epen Diproses Hukum Tentang Penghasutan 
PRESS RELEASE | Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto menyampaikan kronologis penangkapan para tersangka, Sabtu (3/8). (Foto: Sevianto Pakiding/SP)

TIMIKA | Seorang pria terpaksa menghadapi tuntutan hukum lantaran diduga memprovokasi terjadinya persekusi berujung tewasnya Clay Andre Numberi di Jalan Elang, Timika, Papua pada Desember 2017 silam. 

Tersangka kasus pembunuhan itu baru terungkap setelah para tersangka sempat buron setahun lebih. Empat orang kini telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut. 

Empat tersangka yaitu WWM alias Wiwi (32), SL alias Saril (44), dan AHS alias Ali Suat (34). Kemudian SJ alias Epen alias Revan diproses dalam berkas terpisah terkait kasus pengahasutan sebagaimana dimaksud dalam pasal 160 KUHPIdana.

Kasus ini terjadi pada 3 Desember 2017 sekira pukul 04.00 WIT dini hari. Ketika itu SJ alias Epen mengejar korban Clay Andre Numberi ke arah Jalan Elang Timika sambil berteriak pencuri dan provokasi. 

Para tersangka kemudian mencegat dan memukuli korban hingga jatuh tersungkur. Tersangka WWM alias Wiwi langsung menikam korban menggunakan pisau di bagian belakang hingga tewas. 

Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto mengatakan, SJ alias Epen ditetapkan tersangka karena diduga melakukan provokasi sehingga para tersangka lain melakukan persekusi dengan menganiaya korban hingga tewas.

"Pada saat korban berlari ke arah pelaku, SJ memprovokasi pelaku untuk melakukan penganiayaan. Menurut informasi sementara, korban diteriaki pencuri. Ini sedang didalami," kata Kapolres Marlianto, Sabtu (3/8). 

Kapolres menegaskan, tidak ada satu pun aturan yang membolehkan persekusi seperti yang dilakukan para tersangka tersebut. Tragisnya, persekusi atau main hakim sendiri ini mengakibatkan korban tewas. 

"Itu sangat tidak diperbolehkan tindakan main hakim sendiri. Ketika ada orang yang diduga melakukan tindak pidana, seharusnya diamankan dan diserahkan kepada pihak berwajib, bukan dihakimi," tandas Kapolres. 

Kapolres Marlianto juga mengatakan, jika ada yang merasa dizolimi, harusnya melapor ke pihak berwajib. Tidak boleh kemudian mengambil langkah sendiri, misalnya dengan mengumpulkan kelompoknya kemudian menghakimi.

"Kasus yang terjadi di Jalan Elang Timika  ini sebagai tindakan tegas terkait adanya persekusi di Kabupaten Mimika," pungkas Marlianto.

Reporter: Sevianto Pakiding
Editor: Aditra

 

 

Berita Terkait
Baca Juga