seputarpapua.com

Nurman Karupukoro Hidupkan Budaya ‘Kamoro Kakuru’ Lewat Festival Kampus Biru

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Nurman Karupukoro Hidupkan Budaya 'Kamoro Kakuru' Lewat Festival Kampus Biru
M Nurman Karupukaro. (Foto: Mujiono/SP)

TIMIKA | Untuk memeriahkan perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 74 dan menghidupkan budaya ‘Kamoro Kakuru’ (pesta Kamoro), M Nurman Karupukaro menggagas Festival Kampus Biru.

Nurmam yang merupakan anak Suku Kamoro (salah satu suku besar yang mendiami pesisir pantai Kabupaten Mimika)  juga anggota DPRD Mimika ini mengatakan, Festival Kampus Biru digelar untuk mengangkat budaya Suku Kamoro ke pentas yang lebih besar, karena beberapa tahun lalu Kamoro Kakuru’ sering dilakukan,  namun sekarang tidak lagi dilaksanakan tanpa alasan jelas. 

“DPRD Mimika pernah memasukkan anggaran untuk menghidupkan kembali ‘Kamoro Kakuru’. Tapi, tidak dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Alasannya apa, saya tidak tau jelas,” kata Nurman di Kantor DPRD Mimika, Rabu (7/8).

Untuk itu dirinya berinisiatif menggagas ‘Festival Kampus Biru yang tujuannya untuk mengangkat budaya Suku Kamoro, walaupun skalanya kecil. 

“Budaya Suku Kamoro ini sangat banyak, mulai tari-tarian, ukiran, cerita moyang, sampai kepada alamnya sendiri, dan masyarakatnya yang perlu kita lestarikan dan kembangkan,” katanya.

Sementara pemilihan Kampus Biru (bukan nama perguruan tinggi). Nurman menjelaskan, kampus biru itu merupakan pantai, dalam bahasa Kamoronya ‘wau katri’ (pantai katri). Dan dinamakan kampus biru, karena pantai ini dijadikan tempat persinggahan para masyarakat Kamoro, yang notabenenya hidupnya tidak lepas dari sungai dan laut. Atau dikenal dengan 3 S (sampan, sagu dan sungai).

“Karena, dijadikan tempat persinggahan, maka masyarakat mendirikan tenda atau terpal yang berwarna biru. Sehingga sampai sekarang ini pantai tersebut dikenal dengan kampus biru,” terangnya.

Ia menjelaskan, pada Festival Kampus Biru ini akan dilakukan beberapa kegiatan yang sifatnya perlombaan. Karena ini juga untuk memeriahkan HUT RI ke 74 nanti.

“Intinya, pelaksanaan festival ini untuk mengangkat budaya Suku Kamoro agar tetap lestari dan terjaga sampai pada anak cucu kita nanti,” katanya.

Pada pelaksanaannya nanti tidak memordenisasi budaya yang ada. Sehingga sifatnya natural dan alami, apa yang terjadi di kehidupan masyarakat Suku Kamoro.

 

alt text

Ukiran hasil karya warga Suku Kamoro (Foto: Dok SP)

 

Festival ini akan dimeriahkan dengan panggung hiburan, baik itu tari-tarian, ukir-ukiran, dan lainnya. "Karenanya, kita persilahkan kepada masyarakat untuk memamerkan apa saja, walaupun skala kecil,"kata Nurman. 

Sementara untuk perlombaan, akan ada lomba balap perahu jonson 15 PK, perahu ketinting, dayung dan permainan anak-anak.

“Untuk lomba tidak dipungut biaya. Sehingga masyarakat Kamoro yang ingin ikut, maka disilahkan datang langsung ke lokasi dan kami tidak menerima pendaftaran. Kalau didaftar, akan memberatkan panitia karena berhubungan dengan transportasi,” tuturnya.

Mudah-mudahan pada saat pelaksanaan nanti, yakni 17-18 Agustus 2019 cuaca bagus dan tidak hujan. Apabila kondisi kurang mendukung, maka pelaksanaannya akan mundur.

“Karena festival ini sifatnya sederhana, sehingga siapa saja boleh hadir. Tapi kami tidak menyediakan banyak fasilitas tempat menginap. Sehingga, kalau datang membawa alat sendiri dipersilahkan,” ungkapnya.

Penulis : Mujiono
Editor: Misba Latuapo

 

Berita Terkait
Baca Juga