Unjuk Rasa di Timika Rusuh,  Aparat Terluka

Rabu, 21 Agu 2019 18:05 WIT
ANARKIS | Aparat keamanan membubarkan pengunjuk rasa anarkis yang melakukan perusakan di sepanjang jalan Cenderawasih, Timika, Papua, Rabu (21/8/19). (Foto: Sevianto/SP)

TIMIKA | Unjuk rasa ribuan warga menolak rasisme, persekusi, dan seruan referendum atau penentuan nasib sendiri bangsa Papua Barat di Mimika, Provinsi Papua, Rabu (21/8), berujung rusuh. 

Massa awalnya berkonsentrasi di Tugu Perdamaian Timika Indah, Kota Timika, ibu kota Kabupaten Mimika. Mereka kemudian berjalan kaki dengan kawalan aparat ke Kantor DPRD Mimika di Jalan Cenderawasih.

Sepanjang jalan, beberapa perwakilan pengunjuk rasa berorasi menyinggung perlakuan rasis terhadap orang Papua dan menyeruhkan referendum dengan yel-yel 'Papua Merdeka'.

Beberapa saat setelah tiba di Kantor DPRD, atau sekitar pukul 11.00 WIT massa mulai rusuh dan melempari gedung kantor DPRD, merusak berbagai fasilitas parlemen, serta mengobrak abrik salah satu pos security. 

Aksi massa berhasil diredam aparat gabungan TNI dan Polri secara persuasif. Orasi kemudian berlanjut kembali dengan penyampaian aspirasi salah satunya oleh tokoh masyarakat Mimika, Hans Magal.

Hans Magal mengatakan, perlakuan rasisme dan persekusi yang dialami mahasiswa Papua di Kota Malang, Surabaya dan Semarang, telah menimbulkan trauma dan luka fisik sejumlah korban. 

"Ini menjadi bukti kongkret bahwa isu rasisme belum mampu diredamkan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata Hans.

 

alt text

 

Rusuh

Usai serangkaian penyampaian orasi, sekitar pukul 13.00 WIT kepolisian menarik kendaraan penerangan untuk pengeras suara yang digunakan pengunjuk rasa. 

Tak lama kemudian, sejumlah pengunjuk rasa mulai rusuh. Aparat keamanan dihujani batu oleh pengunjuk rasa sambil berhamburan keluar dari halaman Kantor DPRD Mimika. 

Mereka juga merusak puluhan kendaraan yang terparkir di depan kantor DPRD, termasuk kendaraan polisi, TNI, bus  pengangkut pasukan, hingga mobil pemadam kebakaran tak luput dari amukan massa. 

Salah satu anggota Polres Mimika Ajun Inspektur Polisi Reza berlumuran darah setelah terkena lemparan batu di kepala. Seorang anggota TNI lainnya terluka dan ikut dilarikan ke rumah sakit. 

Aparat keamanan melepaskan gas air mata dan tembakan peringatan ke udara. Ribuan massa lalu berhamburan ke dua arah, sebagian ke arah Kota Timika, sebagian lagi ke arah Kuala Kencana.

Massa melakukan perusakan berbagai fasilitas seperti hotel, kios, dan kantor-kantor pemerintahan di sepanjang jalan sekitar 1 Kilometer dari Kantor DPRD ke arah Kuala Kencana. 

Fatimah, seorang janda berusia 70 tahun dievakuasi polisi dari kios miliknya yang mulai terbakar. Fatimah kaget sekelompok orang tiba-tiba melintas di depan kiosnya sambil melempar batu dan menyulut api. 

"Mereka bakar kios di sebelah, saya panik kasian. Saya sempat kasih air minum dan kue ke mereka lalu pergi," kata Fatimah yang kini tinggal sebatang kara. 

Tidak hanya itu, Hotel Grand Mozza Timika ikut menjadi sasaran lemparan batu yang membuat kaca-kaca depan hotel bintang empat itu porak poranda. Tak terkecuai sejumlah kendaraan yang terparkir di halaman hotel ikut dirusak. 

Massa juga merusak dan nyaris membakar salah satu gudang sepeda motor bekas, serta melempari kaca-kaca jendela Kantor KPPN dan Kantor BPJS Ketenagakerjaan. 

Berangsur Kondusif

Hingga pukul 15.30 WIT situasi berangsur-angsur kondusif. Aparat keamanan berhasil memukul mundur pengunjuk rasa anarkis dan berpatroli mengawasi beberapa titik yang menjadi konsentrasi massa. 

Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto mengatakan, pihaknya tidak mentolerir unjuk rasa anarkis apalagi ditunggangi kepentingan politik yang diarahkan pada seruan referendum atau Papua Merdeka. 

"Aksi seputar mengutuk tindakan rasisme itu masih kami tolerir, akan tetapi sudah berkembang dengan isu politik identitas dan lebih menonjol adalah itu referendum. Ini yang tidak kita benarkan sama sekali," kata Marlianto.

Sejauh ini, katanya, kepolisian telah mengamankan 20 orang pengunjuk rasa anarkis untuk diproses hukum. Mereka melakukan perusakan dan menyerang aparat dengan lemparan batu. 

"Tidak ada yang membenarkan unjuk rasa yang berujung anarkis. Kemudian ada beberapa yang ditemukan membakar fasilitas. Kami masih inventarisir berapa kerugian yang ditimbulkan," katanya. 


Reporter: Sevianto
Editor: Misba Latuapo

 

 

Kategori:
Bagikan