Begini Tuntutan Pengunjuk Rasa di Timika Melawan Rasisme

Rabu, 21 Agu 2019 23:33 WIT
DEMO | Ribuan massa memadati Jalan Cenderawasih, Timika Papua. (Foto: Sevianto Pakiding/SP)

TIMIKA | Unjuk rasa ribuan warga yang tergabung dalam Solidaritas Rakyat Papua di Timika Bersatu Melawan Rasisme, Rabu (21/8), berujung rusuh. Sejumlah fasilitas dirusak dan tiga aparat keamanan terluka. 

Koordinator aksi 'melawan rasisme' di Timika, Adolfina Kuum, mengatakan aksi yang berujung rusuh membuat tuntutan tidak sempat dibacakan setelah massa berhamburan dari kantor DPRD Mimika. 

Adapun pernyataan sikap itu, kata Adolfina, memuat enam poin tuntutan antaralain meminta referendum (penentuan nasib sendiri) "Bangsa Monyet" sebagai simbol perlawanan rakyat Papua Barat. 

"Hancurkan rasisme. Buka ruang demokrasi seluas luasnya bagi bangsa Papua Barat," kata Adolfina kepada Seputarpapua.com, Rabu malam. 

Ia juga menegaskan bahwa rakyat Papua bisa melakukan hal yang sama atas perlakuan amat tak pantas terhadap mahasiswa Papua di Surabaya, Malang, Semarang, disusul di Makassar. 

"Tangkap dan adili pelaku persekusi di Malang, Surabaya, Semarang dan Makassar," tegas Adolfina, yang juga sebagai aktivis kemanusiaan asal Suku Amungme, Mimika.

Sementara itu, Adolfina menjelaskan kronologis unjuk rasa di Kantor DPRD Mimika sehingga akhirnya berujung rusuh dan menimbulkan berbagai kerusakan. 

Menurut Adolfina, awalnya massa berkonsentrasi di Bundaran Tugu Perdamaian Timika Indah. Akan tetapi, sejumlah massa aksi menginginkan untuk menyampaikan aspirasi langsung di kantor DPRD. 

Oleh kepolisian, kata Adolfina, menahan massa aksi tetap berkonsentrasi di sekitar Timika Indah sesuai pemberitahuan atau ajakan yang sebelumnya disampaikan melalui selebaran. 

Sekitar pukul 09.30 WIT, terjadi negosiasi yang berbuntut Adolfina sempat ditangkap lalu digiring oleh enam anggota Brimob ke Mapolres Mimika. Ia ditahan sekitar 30 menit, lalu kemudian dilepaskan kembali. 

"Massa aksi yang bertahan sempat marah dan meminta agar saya dikembalikan ke situ. Akhirnya saya dilepaskan dengan menjamin bahwa unjuk rasa akan tetap berjalan damai," katanya.

Adolfina menyebut, situasi kemudian mulai berubah setelah terjadi penggabungan massa begitu banyak dari segala penjuru terus berdatangan hingga mencapai ribuan orang. 

Orasi perwakilan masing-masing daerah seperti Sorong, Jayapura, Kaimana, dan lainnya sempat berlangsung aman di depan Kantor DPRD Mimika. 

Namun, pengunjuk rasa meminta agar Bupati Mimika Eltinus Omaleng dan Ketua DPRD Elminus B. Mom hadir langsung mendengar aspirasi mereka. Permintaan itu pun belum mendapat kepastian. 

Adolfina lalu meminta tolong kepada Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto agar sebaiknya menjemput Bupati Eltinus Omaleng untuk memenuhi permintaan pengunjuk rasa. 

"Saya kasih kesempatan kepada bapak Kapolres bicara, ternyata massa aksi mulai ribut," katanya.

Menurutnya, ketidak hadiran bupati dan ketua DPRD salah satunya yang memantik kekesalan pengunjuk rasa. Ditambah adanya provokator membuat massa aksi terpancing melakukan perusakan dan pelemparan batu. 

"Memang ada provokator dan sebagainya, tidak lama terjadi pelemparan batu hingga massa mulai berhamburan," kata dia. 

Setelah sebagian massa berhamburan keluar dari halaman kantor DPRD, Adolfina bersama beberapa koordinator lapangan lainnya bsrusaha menenangkan massa yang bertahan di kantor DPRD. 

"Masih ada sekitar 35 orang bertahan di dalam. Kami tunggu sampai jam 16.00. Namun penyampaian oleh polisi bahwa situasi sudah tidak memungkinkan, akhirnya kami berdoa lalu pulang," jelasnya. 

Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto memastikan situasi di Timika hingga Rabu malam sudah kondusif. Aparat keamanan akan melakukan patroli dialogis 1x24 jam.

"Situasi sudah pulih kembali, semua aktivitas sudah normal. Meski pun sempat terjadi bentrok dengan pengunjuk rasa yang bertindak anarkis, namun semua dapat dikendalikan," kata Marlianto. 

Reporter: Sevianto
Editor: Misba Latuapo

 

 

Kategori:
Bagikan