Kapolres Mimika: NKRI Sudah Final

Jumat, 13 Sep 2019 16:16 WIT
Kapolres Mimika, AKBP Agung Marlianto. (Foto : Anya Fatma/SP)

TIMIKA | Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto dengan tegas menyatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah final dan tidak boleh diotak-atik oleh siapapun. 

Hal ini disampaikan dalam acara Deklarasi Damai yang digelar di Gedung Eme Neme Yauware, Kamis (12/9).

"Kita memang masih ada menghadapi masalah yang belum tuntas, ini seperti jerami yang bawahnya itu masih ada bara," kata Kapolres.

Kapolres mengungkapkan, beberapa waktu lalu terjadi aksi unjuk rasa berujung anarkis di berbagai wilayah di Papua dan Papua Barat  merupakan dampak dari isu yang berkembang di Surabaya, Semarang dan Malang yaitu masalah rasisme, ujaran kebencian dan persekusi. 

Segala bentuk tindakan tersebut harus diproses hukum. 

"Kita semua disini menantang adanya isu rasisme, ujaran kebencian dan persekusi. Tidak boleh ada di Kabupaten Mimika, di NKRI. Karena kita semua bersaudara kita harus berdiri sama tinggi, duduk sama rendah dan kita harus punya derajat yang tinggi," tutur Kapolres.

Di Mimika, pelaku penyebab terjadi kericuhan pada 21 Agustus di Kantor DPRD Mimika, dan sekitar Jalan Cenderawasih telah diproses. 

Menurut Kapolres, dalam aksi demo menolak rasisme itu awalnya berlangsung damai, namun karena adanya penumpang gelap hingga terjadi kericuhan.

"Jelas, tidak bisa kita pungkiri ada penumpang gelap itu sudah pasti. Ada yang memanfaatkan panggung untuk bisa mendongkrak keinginannya, kepentingan kelompok tertentu, kepentingan untuk mengejar kekuasaan dan kepentingan faktor ekonomi," ungkap.

Kapolres lebih lanjut menegaskan, NKRI sudah final dan tidak boleh diotak-atik. Sejarah tidak bisa dibolak-balik dan itu sudah final bahwa Papua adalah bagian yang tidak terpisahkan dari NKRI.

"Oleh karena itu saudara-saudara kita yang masih berseberangan dengan kita, kita ajak kembali. Mereka bagian dari kita juga, hanya pemikiran yang belum seragam," ujarnya.

Negara  saat ini kata Kapolres sedang diuji, dan ujian ini tidak akan berhenti. Ujian ini bagaikan sirkus.

Bahkan beberapa waktu lalu diuji dengan konflik sosial yang mana konflik itu horisontal antara satu komunitas dengan komunitas lain. Meski demikian, semua itu dapat dilalui bersama. 

"Itu ujian yang berat, tapi Alhamdulillah bisa kita lewati," katanya.

Reporter: Anya Fatma
Editor: Aditra

 

 

Kategori:
Bagikan