Peduli Sanitasi, SD Permata Papua Bekali Siswinya Pendidikan Menstruasi

Minggu, 06 Okt 2019 19:41 WIT
Kepala SDIT Permata Papua, Witri, saat memberikan materi menstruasi kepala siswi kelas 6. (Foto: Anya Fatma/SP)

TIMIKA | Menstruasi merupakan siklus alami bulanan bagi perempuan. Menstruasi dan menjaga kebersihan selama menstruasi tentu sudah dipahami betul oleh perempuan dewasa. Namun bagaimana dengan perempuan yang masih duduk di bangku sekolah dasar?

Sejak dahulu, pembelajaran menstruasi kepada anak perempuan diajarkan langsung oleh orang tua di rumah. Hingga saat ini, hal tersebut dinilai masih tabu untuk diajarkan kepada anak-anak di tingkat sekolah dasar. 

Di Timika, Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Permata Papua, merupakan salah satu sekolah yayasan yang menjadi satu-satunya sekolah dasar yang mengajarkan pendidikan menstruasi kepada siswinya mulai dari kelas 4, 5 dan 6.

Kepala SDIT Permata Papua, Witri menjelaskan, pendidikan menstruasi di sekolahnya mulai berjalan sejak tahun 2015. Pelajaran ini sendiri masuk didalam program keputrian yang ada di sekolahnya yang sudah lama berjalan.

Witri menceritakan, pada Tahun 2015 sejak dirinya baru masuk ke SDIT Permata Papua, ada kejadian yang mana WC di sekolah tersebut mampet. Setelah disedot, ternyata banyak pembalut wanita menyumbat saluran kloset.

"Kalau program keputrian sudah berjalan lama sebelum saya masuk sekolah ini. Tapi kalau khusus untuk haid baru pas saya masuk, karena saya melihat ada kasus pembalut yang banyak itu makanya saya masukkan di materi ini," katanya saat diwawancara usai memberikan Materi menstruasi kepada siswi kelas 6, di SDIT Permata Papua, Jl Poros SP V, Timika, Jumat (4/10).

Materi ini diberikan khusus kepada anak perempuan mulai dari kelas 4, 5 dan 6 baik yang sudah maupun yang belum mengalami menstruasi. Materi ini diberikan pada hari Jumat dimana anak laki-laki melaksanakan sholat Jumat dan anak perempuan mengikuti pelajaran tersebut mulai dari pukul 12:00 hingga 13:00 WIT.

Jumat 4 Oktober, Jurnalis Seputar Papua diperkenankan untuk mengikuti proses pembelajaran materi menstruasi yang pada saat itu diikuti oleh siswi kelas 6. Para siswi terlihat sangat antusias dan responsif mengikuti materi yang diajarkan. Hari itu, materi diberikan langsung oleh Kepala Sekolah.

 

alt text

Kepala SDIT Permata Papua, Witri menunjukkan wastafel penunjang sanitasi dan menjelaskan waktu cuci tangan yang di terapkan bagi siswa di sekolahnya. (Foto: Anya Fatma/SP)

 

Dalam proses pembelajaran kepada anak-anak, Witri menjelaskan tentang apa saja yang harus disiapkan anak saat berangkat ke sekolah ketika sedang mengalami menstruasi. Apa yang harus dilakukan anak ketika mengalami kelelahan, perasaan marah dan sedih yang berlebihan saat mengalami menstruasi.

Saat menstruasi, sebagian besar perempuan akan mengalami nyeri di bagian perut. Dalam penjelasannya, Witri juga menyebutkan jamu yang harus diminum oleh anak-anak ketika merasakan nyeri dengan memberikan pertanyaan kepada anak-anak apa nama jamu tersebut.

"Jamunya warnanya kuning," Jawab seorang siswi.

Siswi lainnya menjawab "botolnya kuning ustadzah" 

Witri kemudian membenarkan jawaban tersebut yang mana jamu yang diminum untuk meredakan rasa nyeri menstruasi berwarna kuning.

Dalam proses pembelajaran, Witri juga membawa alat peraga (pembalut) untuk ditunjukkan kepada anak-anak bagaimana bentuknya, cara memakainya dan membuangnya.

"Jadi kita bawa alat peraga langsung walaupun anak-anak malu-malu. Supaya ketika mereka dapat (menstruasi) betulan mereka sudah siap begitu," tuturnya.

Kiren, siswi kelas 6 yang belum mengalami menstruasi, mengaku pelajaran tersebut sangat bermanfaat untuk dirinya. 

"Pelajaran ini bermanfaat sekali supaya nanti pas saya menstruasi sudah tidak takut lagi," tutur Kiren.

SDIT Permata Papua yang tahun ini menjadi sekolah binaan YP2KP-UNICEF untuk program sanitasi sekolah telah menunjukan kualitasnya. Selain sudah menerapkan infrastruktur sanitasi yang baik, didukung juga kebijakan sekolah yang baik seperti pelajaran dini menstruasi. 

Witri mengungkapkan, pelajaran menstruasi yang diberikan kepada siswi ini juga diketahui oleh para orang tua. Dengan demikian, diharapkan bisa menjadi pengingat untuk anak-anak agar bisa terus menjaga kebersihan saat menstruasi.

"Setelah diberikan materi ini, ada perubahan yang cukup baik Alhamdulillah di WC ini tidak pernah mampet dan WC baru juga kita lumayan tegas dan mudah-mudahan tidak ada mampet lagi," jelasnya.

Saat berkunjung ke sekolah tersebut, tidak hanya mengikuti pelajaran tentang menstruasi di kelas, Jurnalis Seputar Papua juga diajak untuk melihat toilet sekolah, baik untuk anak laki-laki maupun perempuan.

 

alt text

Kepala SDIT Permata Papua, Witri menunjukkan fasilitas di toilet anak perempuan. (Foto: Anya Fatma/SP)

 

Di luar toilet ditempelkan tulisan tentang adab atau aturan masuk WC. Masing-masing memiliki delapan ruangan untuk WC, dua ruangan untuk kamar mandi dan satu ruang untuk ganti pakaian. Toilet juga dicat dengan warna-warna yang cerah.

Setiap toilet memiliki empat wastafel yang digunakan untuk mencuci tangan. Sekolah ini juga menerapkan program cuci tangan.

"Jadi disini anak-anak cuci tangan setiap jam istirahat. Istirahat pertama di jam 9 dan kedua di jam 12," jelas Witri.

"Untuk yang mendukung menstruasi, di toilet kita siapkan keranjang tempat kresek untuk membuang pembalut bekas pakai atau kotor dibungkus, kemudian dibuang di tempat sampah yang ada dibawahnya," jelas Witri.

"Jadi kresek itu selalu ada tersedia disitu dan juga tempat sampahnya," katanya lagi.

Untuk di toilet perempuan, setiap WC di dekat kran air ditempelkan tulisan 'dilarang membuang pembalut di toilet'.

"Makanya itu, memang kita perlu melakukan edukasi ya untuk pengetahuan kepada anak perempuan untuk bersih dan sehat dengan membuang pembalut di tempatnya," kata Witri. 

Sementara untuk kebutuhan pembalut, sekolah juga menyiapkannya dengan menyimpannya di UKS. Setiap siswi dibolehkan untuk mengambil jika membutuhkan.

"Kadang anak-anak juga bawa sendiri, kita sarankan juga untuk mereka bawa persiapan," tuturnya.

Selain pembelajaran tentang menstruasi di Program Keputrian, juga diberikan pembelajaran tentang keterampilan yang dibutuhkan oleh anak perempuan. Pelajaran ini diberikan oleh semua guru perempuan di sekolah tersebut.

"Kalau di Jumat lain ada materi tentang memasak sederhana, menjahit kancing yang lepas, baju yang robek," tuturnya.

Menurutnya, pelajaran ini memang masih sangat sederhana, tetapi ini bertujuan agar anak-anak memiliki bekal dasar untuk dirinya sendiri dan juga bagaimana bisa diterapkan di rumah untuk membantu ibunya.

"Kemudian juga mereka nanti kan setelah lulus SD ada yang ke pondok, jadi sudah ada bekalnya untuk bisa hidup sendiri, bersih dan sehat," kata Ustadzah Witri.


Reporter: Anya Fatma
Editor: Sev

 

Kategori:
Bagikan