Pegiat HAM Didorong Laporkan Penemuan Lima Jasad Terkubur di Nduga

Jumat, 11 Okt 2019 23:06 WIT
Lokasi penemuan lima jasad terkubur di Distrik Iniye, Nduga. (Foto: Facebook)

TIMIKA | Beberapa hari terakhir warga digegerkan penemuan lima jasad warga yang telah membusuk terkubur di dalam semak-semak di Distrik Iniye, Kabupaten Nduga, Papua.

Dari informasi yang beredar, kelima jasad itu ditemukan oleh warga Nduga bersama aktivis Jaringan Pembela HAM (JapHAM) Pegunungan Tengah Papua, pada Kamis (10/10).

Disebutkan, jasad warga sipil Nduga itu diduga telah terkubur sejak 20 September 2019 lalu. Kondisi jasad sudah rusak, dan ditutupi dengan dedaunan lalu ditimbun dengan tanah. 

"Korban warga sipil atasnama Yuliana   Dronggi (35 thn), Jelince Bugi (25 thn), Macen Kusumbrue (26 thn), Tolop Bugi (13 thn), dan Hardius Bugi (15 thn)," tulis akun facebook KNPB pada Kamis 10 Oktober. 

Disebutkan pula, kelima jasad warga sipil tak berdosa yang ditemukan dalam kondisi mengenaskan itu tertembak oleh pasukan TNI, kemudian sengaja dikubur di semak-semak. 

Kepala Penerangan Kodam XVII Cenderawasih Kolonel CPL Eko Daryanto dengan tegas membantah dan menyayangkan tudingan terhadap TNI sebagai pelaku pembunuhan kelima warga tersebut. 

"Perlu adanya fakta-fakta dan data forensik maupun hasil otopsi korban. Jadi tudingan tersebut sangat tidak berdasar dan belum pasti kebenarannya," kata Kolonel Eko Daryanto, Jumat (11/10).

Ia juga menyayangkan pemberitaan bahwa telah terjadi penembakan dilakukan oleh aparat TNI yang mengakibatkan lima warga sipil tewas dan dikubur di Distrik Iniye, Nduga. 

“Jangan membuat berita yang faktanya belum dapat dipertanggung jawabkan dan cenderung menuduh atau mengkambing hitamkan aparat," katanya. 

Menurut Daryanto, Indonesia adalah negara hukum sehingga jika ada kasus semacam ini semestinya dilaporkan melalui jalur hukum. Jasad korban juga, sebutnya, dapat diotopsi untuk memastikan penyebab kematiannya. 

"Kenapa tidak diotopsi dulu, dicari apa penyebab meninggalnya 5 orang tersebut, bukan langsung membuat tudingan seoalah-olah TNI yang melakukan penembakan atau pun pembunuhan," ujarnya. 

Ia menyarankan kepada keluarga korban untuk melakukan otopsi terhadap kelima jasad yang ditemukan tersebut, untuk menguak fakta-fakta yang sebenarnya. 

Disamping itu, Daryanto mendorong pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) untuk membuat laporan resmi kepada pihak kepolisian. 

"Langkah-langkah tersebut akan lebih terhormat dan elegan sehingga nantinya tidak menjadi isu-isu yang berdampak negatif di lingkungan masyarakat," katanya. 

Institusi TNI, tambah dia, akan mendukung sepenuhnya dan menghormati jika akan dilakukan proses hukum dengan membentuk tim gabungan untuk menginvestigasi kasus tersebut. 


Reporter: Sevianto
Editor: Misba

 

 

Kategori:
Bagikan