Akibat Aksi Vandalisme, Seluruh Toilet di Sekolah ini Tak Dapat Digunakan

Minggu, 13 Okt 2019 20:45 WIT
DIRUSAK | Kepala SD YPPK Kaugapu Frederika Lefteuw mengatakan seluruh toilet di sekolahnya dirusak oknum tak bertanggung jawab. (Foto: Hadija/SP)

TIMIKA | Fasilitas toilet di SD YPPK Kaugapu, Distrik Mimika Timur, Kabupaten Mimika, Papua, kini tidak lagi terpakai. Padahal, toilet itu merupakan bantuan dari Pemerintah Kampung (Pemkam) setempat.

Kepala Sekolah Dasar (SD) YPPK Kaugapu Frederika Lefteuw S.Pd, mengatakan salah satu toilet di sekolah itu dibangun dari bantuan Pemkam Kaugapu sebesar Rp35 juta yang bersumber dari Dana Desa tahun 2018.   

"Jadi waktu itu kita bangun toilet, namun hanya terpakai sekitar satu minggu. Setelah itu rusak parah, sampai sekarang tidak pernah dipakai lagi," kata Frederika kepada Seputarpapua di kantornya.

Frederika menerangkan, rusaknya toilet hingga tak layak digunakan akibat aksi vandalisme (perusakan) oleh oknum-oknum pemuda yang tidak bertanggung jawab di wilayah itu. 

"Dirusak entah oleh siapa, namun yang perusakan semacam ini biasa dilakukan anak-anak muda yang putus sekolah, kemudian mabuk dan lain sebagainya," ungkap Frederika. 

Saat berkunjung ke SD YPPK Kaugapu, Frederika mengajak Jurnalis Seputarpapua untuk melihat kondisi sekeliling sekolah, terutama bangunan toilet siswa dan toilet guru yang kini dalam keadaan rusak parah.

Tampak kondisi toilet memang sudah sangat tidak layak pakai. Daun pintu hingga bak penampungan air sudah dirusak. Rumput yang tumbuh tinggi mengepung toilet menandakan bangunan itu sudah tidak terpakai bertahun-tahun.  

Menurut Frederika, sudah berbagai cara dilakukan untuk menjaga fasilitas milik sekolah namun berulang kali pula dirusak oknum tak bertanggung jawab. 

Meski begitu, Ia menyadari bahwa mungkin karena sekolah itu belum memiliki pagar keliling sehingga siapa pun bebas keluar masuk lingkungan sekolah dan merusak fasilitas. 

"Kami berulang kali ganti gembok toilet itu tetapi saja tetap dirusak dan akhirnya kedua toilet siswa pun ikut rusak dan tidak dipakai lagi hingga sekarang," katanya. 

Dengan tidak berfungsinya seluruh toilet di lingkungan sekolah, memaksa para guru harus ke rumah kepala sekolah yang tidak begitu jauh dari lokasi sekolah apabila hendak ke kamar kecil.

"Sementara kalau anak-anak (siswa) mau BAB (buang air besar) mereka juga terpaksa pulang ke rumahnya dulu, tapi nanti mereka balik lagi," kata Frederika.

 

alt text

Kondisi toilet rusak parah dan sudah sejak lama tidak bisa digunakan. (Foto: Hadija/SP)

 

Ketika ditanya terkait usaha pihak sekolah melakukan perbaikan fasilitas tersebut, Frederika mengatakan hal itu baru bisa terealisasi jika sekolah mendapat bantuan dari yayasan atau pihak mana pun.

"Nanti saja (diperbaiki) siapa tau ada rezeki dari yayasan atau yang lainnya baru kami akan perbaiki," ujarnya.  

Dirinya juga mengaku sudah beberapa kali membahas hal itu dengan Kepala Kampung Kaugapu saat ini namun belum juga mendapat jawaban pasti. 

"Saya sudah beberapa kali sampaikan, tiap ketemu pasti saya suarakan tapi begitulah belum ada respon, jadi apabila ditanyakan apakah akan minta lagi saya tidak mau," katanya. 

Sementara menyangkut kebersihan siswa, kata Frederika, sekolah telah menerapkan program cuci tangan sebelum dan sesudah makan. Sebelum masuk ke kelas, para siswa juga wajib ikut membersihkan sekeliling kelas mereka. 

Hanya saja, sekolah ini juga kesulitan air bersih. Air yang dipakai pada saat cuci tangan diambil dari sumur di rumah kepala sekolah, yang disalurkan ke penampungan di rumah salah seorang guru. 

"Air itu diisi dalam jerigen yang sudah kita buat untuk tempat cuci tangan anak," ujar Frederika sembari menunjukkan jarak rumahnya ke sekolah. 

YPPK Kaugapu adalah salah satu dari 15 sekolah di Kabupaten Mimika yang tahun ini menjadi sekolah binaan UNICEF dan pemerintah daerah khususnya Pokja AMPL untuk program sanitasi sekolah.

Dukungan

Pemerintah Kampung Kaugapu selama ini memang selalu mendukung kemajuan SD YPPK Kaugapu mengingat walaupun sekolah itu berstatus swasta/yayasan namun mendidik hampir 90 persen anak asli Mimika asal Kamoro dan Amungme. 

Kepala Kampung Kaugapu Xaverius Kapirapu mengatakan, pihaknya untuk sementara fokus pada pembangunan TK Kaugapu sehingga bantuan ke SD YPPK untuk perbaikan toilet masih menunggu Dana Desa tahap ketiga dan empat. 

"Nanti setelah dana desa tahap berikutnya ini cair, baru kami akan anggarkan untuk perbaikan toilet itu," kata dia.

 

alt text

Salah satu toilet merupakan bantuan Pemkam Kaugapu ikut dirusak. (Foto: Hadija/SP)

 

Selain Pemkam Kaugapu, Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), kabarnya juga akan turut membantu SD YPPK Kaugapu untuk perbaikan toilet. 

Ini merupakan salah satu program yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia dengan dukungan Bank Dunia. Program ini dilaksanakan di wilayah pedesaan dan pinggiran kota. 

District Coordinator Mimika, Lukas Melkianus Daulima membenarkan bahwa Pamsimas akan memberikan bantuan dana kepada SD YPPK Kaugapu.

"Kami sudah survei juga kesana dan sepertinya yang akan kami bantu untuk membangun kembali toilet yang baru pada siswa karena kedudukan toilet siswa sekarang yang sudah rusak itu jaraknya lumayan jauh dari bangunan kelas," kata Melky kepada Seputarpapua.com.

Bahkan, Pamsimas juga akan membenahi akses jalan menuju toilet dan membuat bangunannya lebih menarik dan tidak membosankan bagi anak-anak.  

Namun, terkait total anggaran yang akan diberikan Pamsimas kepada SD YPPK Kaugapu belum bisa dipastikan karena harus melalui penganggaran setelah hasil survei yang dilakukan dilaporkan. 

Selain bantuan dana untuk pembangunan toilet, Pamsimas juga akan memberikan bantuan air bersih. Karena berdasarkan hasil survei, minimnya air bersih juga membuat toilet tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal selama ini. 

"Jadi untuk SD YPPK Kaugapu, kami akan bantu sarana air bersih dalam bentuk penampungan air hujan, karena kebetulan di Mimika sendiri tingkat curah hujan tinggi," kata Melky. 


Reporter : Hadija Laisouw
Editor: Sevianto

 

Kategori:
Bagikan