Soal Dokter Gadungan, Ini Penjelasan Dinkes Mimika

Sabtu, 19 Okt 2019 12:02 WIT
Reynold Ubra

TIMIKA | Hadi Susanto alias HS yang mendirikan Klinik  B-Care di Jalan Budi Utomo sejak tahun 2012-2018 diduga melakukan praktek dengan berprofesi sebagai dokter gadungan. Aksi pelaku mulai terkuak setelah polisi menangkapnya.

Menyikapinya, Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika, Reynold Ubra menjelaskan, Dinkes hanya memberikan rekomendasi untuk diterbitkan izin  fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan sesuai aturan yang berlaku.

"Dinkes tidak pernah memberikan izin maupun rekomendasi kepada tersangka," kata Reynold kepada Seputarpapua.com, Jumat (18/10) malam.

Yang  dilakukan Hadi Susanto, kata Reynold tentu sudah menyalahi aturan kesehatan, aturan tentang kode etik kedokteran dan aturan terkait tenaga kesehatan.

"Kami setiap tahun pasti melakukan pengawasan terhadap seluruh fasilitas kesehatan pemerintah maupun swasta," katanya.

Sebelumnya HS diringkus di Jalan Matoa 2 Oktober lalu, setelah polisi menerima laporan dari warga atau pasien yang pernah menjalani perawatan di Klinik B- Care.

Wakapolres Mimika, Kompol I Nyoman Punia mengatakan,  HS sengaja menggunakan gelar atau bentuk lain dan menimbulkan kesan kepada masyarakat bahwa dia (HS) adalah dokter atau dokter gigi, yang telah memiliki surat registrasi dokter atau surat ijin praktek.

“Tindak pidana ini sebagaimana pada pasal 77 juncto pasal 73 ayat 1, Undang undang RI nomor 29 tahun 2004, tentang praktek kedokteran dan pasal 378 KUHP tentang penipuan. HS bisa dipidana penjara paling lama lima tahun dan denda Rp150 juta,” kata Wakapolres di Pusat Pelayanan Polres Mimika, Jumat (18/10).

HS juga tidak terdaftar di organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Itu artinya HS bukan seorang dokter resmi.

Wakapolres menjelaskan, kasus ini berawal dari laporan masyarakat yang merasa tidak sesuai dengan pelayanan. 

Dari laporan tersebut, Satreskrim Polres Mimika melakukan penyelidikan dan penyidikan dengan melakukan pemeriksaan terhadap saksi serta telah mengamankan HS. 

“HS sudah jalankan praktek kedokteran sejak 2012-2018, dengan membuka Klinik B Care di Jalan Budi Utomo (yang kini sudah berubah nama menjadi Klinik Mitra Medika. Perubahan nama ini karena adanya perubahan manajemen, red),” katanya.

Pada praktek kedokterannya, HS mengambil sampel darah, melakukan penyuntikan dan memasang infus. 

“HS berani menyuntik vitamin ke pasien. Tindakannya sangat berbahaya. Dalam arti, apabila suntikan ini alergi terhadap pasien maka bisa mengancam jiwa,” terangnya. 

Hasil pemeriksaan, HS sendiri mengaku sebagai dokter lulusan Universitas Indonesia serta lulus S3 Kedokteran luar negeri, dan pernah praktek di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Namun disaat ditanyakan, HS mengaku bahwa ijasahnya terbakar sehingga tidak bisa menunjukkannya.

“Setelah dicek ke Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika, tidak ada nama HS yang mengajukan ijin praktek. Dan tidak mengakui bahwa HS ini seorang dokter. (sebenarnya) HS lulusan D3 Analis Kesehatan,” tuturnya.

Reporter: Misba
Editor: Aditra

 

Kategori:
Bagikan