Hadi Susanto Tidak Terdaftar di Ikatan Dokter Indonesia Timika

Sabtu, 19 Okt 2019 16:15 WIT
dr Leonard Pardede,SpOG(K)

TIMIKA | Dari sekitar 200 dokter yang menjadi anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Timika, tidak ada nama Hadi Susanto (HS).

Ketua IDI Cabang Timika, dr Leonard Pardede,SpOG(K) mengatakan, semenjak 2006 dirinya menjadi dokter di Timika, dan menjadi Ketua IDI Cabang Timika, belum pernah mendengar nama HS dalam organisasi IDI.

"Jadi selama saya jabat Ketua IDI di Timika, HS tidak pernah mendaftarkan dan tidak ada nama menjadi anggota IDI," kata Leo sapaan akrabnya saat dihubungi seputarpapua.com melalui telepon, Sabtu (19/10).

Kata dia, dulunya untuk mendapatkan ijin praktek seorang dokter harus mendaftarkan diri ke Dinas Kesehatan (Dinkes). Namun sekarang, kepengurusannya sudah di Dinas Perijinan Terpadu Satu Pintu (DPTSP). Itupun harus mendapatkan rekomendasi dari IDI. 

"Tujuannya, untuk mendapatkan legalisasi dari pemerintah daerah," katanya. 

Ia menerangkan, untuk mendapatkan rekomendasi dari IDI, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Seperti dokter yang bersangkutan memiliki surat registrasi atau sudah teregistrasi di PB IDI.

Memiliki ijasah dokter dari universitas yang menamatkan, dan memiliki keanggotaan IDI. 

"Dengan memiliki keanggotaan IDI, maka bisa kami lacak, apakah dokter beneran atau tidak. Ditambah dengan dokumen pendukung, seperti KTP dan surat lainnya," terangnya.

Leo mengatakan, untuk keanggotaan IDI pihaknya terus melakukan pendataan agar mengetahui dokter itu prakteknya dimana. 

Namun apabila tidak mendaftakan diri di IDI, maka pihaknya juga tidak mengetahui apakah dia dokter sungguhan atau tidak. 

"Seperti HS ini tidak terdaftar dalam anggota IDI. Itu masalahnya mas," ujar Leo.

Sementara untuk pengecekan terhadap klinik-klinik, bukan ranah dari IDI. Ini karena, IDI lembaga profesi yang hanya mengayomi dokter. Itupun yang terdaftar sebagai anggota IDI.

"Sementara untuk ijin klinik itu dilakukan oleh pemerintah daerah," ujarnya.

Sampai saat ini, pihaknya belum terima laporan dari masyarakat yang dirugikan terhadap praktik dokter gadungan. Dan terungkapnya kasus dokter gadungan, karena ada yang melaporkan ke polisi.

"Tidak ada laporan dari masyarakat yang dirugikan," tuturnya.

*Masyarakat Harus Pintar*

Mensikapi hal tersebut, Leo mengimbau kepada masyarakat harus mengenali dokter yang memberikan pelayanan. Dan rata-rata dokter memiliki tempat praktek di fasilitas kesehatan, apakah itu puskemas, rumah sakit ataupun mandiri maupun klinik.

Kalau mandiri, bisa dilihat dari plang prakteknya. Kalau ada surat ijin praktek, maka masyarakat tidak terkecoh. Kalau tidak ada ijin praktek, bagaimana mau percaya itu dokter.

"Jangan tiba-tiba membuka praktek dokter di suatu tempat, tapi tidak memiliki ijin. Selain itu harus melihat track record dari dokter tersebut," katanya.

Selain itu, masyarakat atau pasien bisa membandingkan dengan dokter lainnya. Dan itu dilakukan kalau merasa tidak puas dengan penjelasan dokter tersebut.

"Saya selalu anjurkan ke pasien, jika penjelasannya kurang masuk, maka bisa bandingkan dengan dokter lain. Agar pasien tidak merasa terkecoh atau dimanfaatkan. Dan intinya, masyarakat harus lebih pintar," ungkapnya.

Hadi Susanto Dokter Gadungan

Sebelumnya, Hadi Susanto ditangkap polisi karena mengaku sebagai dokter gigi. 

Pria berusia 62 tahun ini ditangkap polisi setelah laporan dari tiga pasiennya yang tidak puas dengan pelayanan Hadi.

Polisi kemudian mengembangkan kasus tersebut. Belakangan diketahui Hadi bukanlah seorang dokter. Dia hanya lulusan D-3 analisis. 

Namun dari pengakuan Hadi kepada pasiennya, dia merupakan lulusan S1 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, lulusan S3 luar negeri dan  pernah bekerja di Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo.

Hadi diketahui sejak tahun 2012 hingga 2018 dipercayakan mengelola Klinik B-Care di Jalan Budi Utoma, Kota Timika. Klinik itu kini sudah pada 2018 lalu.

Selama di klinik tersebut,  dia berpraktik layaknya seorang dokter mulai pengambilan sampel darah, memasang infus dan melakukan penyuntikan terhadap pasien.

Sejak klinik itu ditutup, Hadi tetap melakukan praktik kedokteran secara tersebelung hingga akhirnya ditangkap polisi di rumah kos-kosannya di Jalan Matoa, Kota Timika, pada 2 Oktober lalu. 

Polisi menyita berbagai alat kesehatan, dan sejumlah kartu identitasnya yang tertulis pekerjaannya adalah dokter.

Hadi kini dijerat pasal 77 jo pasal 73 (1) Undang-Undang nomor 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran, dan atau pasal 378 KUHP dengan hukuman penjara paling lama lima tahun.

Reporter: Mujiono
Editor: Aditra

 

Kategori:
Bagikan