Minimnya Toilet Ikut Menghambat KBM di SD Al Ishlah

Senin, 21 Okt 2019 19:58 WIT
Bagian Kesiswaan SDS Plus Al-Ishlah, Mulardin, memperlihatkan kondisi toilet. (Foto: Hadija/SP)

TIMIKA | Keterbatasan toilet yang tersedia di sekolah rupanya bukan hal sepeleh. Kondisi ini bahkan bisa menghambat kegiatan belajar mengajar (KMB).

Demikian halnya di Sekolah Dasar Swasta Plus Al-Ishlah, di Jalan Hasanuddin, Kompleks Irigasi, Timika, Papua. Sekolah ini hanya memiliki dua toilet yang dapat difungsikan untuk 500 murid lebih.  

Pantauan Jurnalis Seputarpapua, Sabtu (19/10), minimnya toilet yang tersedia membuat para murid harus mengantre jika hendak buang air kecil. Apalagi, dua toilet yang tersedia juga dipakai para guru. 

"Memang sering terjadi antrean panjang para murid di toilet. Itulah yang sedikit menghambat dalam proses kegiatan belajar mengajar/KBM," kata Bagian Kesiswaan SDS Plus Al-Ishlah, Mulardin.

 

alt text

Kondisi toilet di SDS Plus Al-Ishlah (Foto: Hadija/SP)

 

Keterbatasan toilet diperparah lagi dengan rendahnya kesadaran murid menjaga kebersihan. Akibatnya, tercium bau tak sedap di sekitar toilet. Tidak hanya itu, tempat pengambilan air wudhu juga tampak kurang bersih. 

"Cleaning service sebenarnya ada, tapi mereka baru akan aktif ketika toilet yang baru dibangun mulai difungsikan," ujar Mulardin. 

Adapun pihak sekolah tengah berupaya menambah sarana toilet. Setidaknya enam unit toilet dan dua unit MCK (mandi cuci kakus) saat ini sedang dalam proses pembangunan. 

"Insya Allah bulan depan tambahan toilet yang dibangun sudah bisa selesai dan langsung dioperasikan, dan juga toilet untuk guru sudah bisa dipisahkan dengan siswa," kata Mulardin. 

Air Bersih

Menyangkut ketersediaan air bersih di SDS Plus Al-Ishlah terbilang cukup memadai. Pasokan air bersih di sekolah tersebut bersumber dari sumur bor yang terletak tidak jauh dari lokasi sekolah. 

Sekolah yayasan yang berdiri sejak tahun 2013 itu memanfaatkan air bersih untuk keperluan di toilet, untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, juga untuk mencuci tempat perbekalan murid maupun guru. 

"Kalau air bersih saat ini cukup memadai," kata Mulardin. 

Awalnya, kata Mulardin, air yang diambil dari sumur bor pertama sedikit berwarna kekukuningan. Pihak sekolah kemudian membuat sumur bor kedua, airnya cukup jernih dan layak digunakan. 

"Alhamdulillah air saat ini sedikit lebih baik, dari pihak sekolah juga sedang berencana untuk menambah saringannya jadi airnya bisa lebih jernih lagi," jelasnya.

 

alt text

Jerigen air bersih untuk program cuci tangan di SDS Plus Al-Ishlah (Foto: Hadija/SP)

 

Sementara itu, SDS Plus Al-Ishlah yang memiliki 16 ruang kelas juga menerapkan program cuci tangan sebelum dan sesudah makan. Sebagai pendukung program itu, sekolah menyediakan jerigen di setiap depan kelas. 

SDS Plus Al-Ishlah adalah salah satu dari 15 sekolah di Kabupaten Mimika yang tahun ini menjadi sekolah binaan UNICEF Tanah Papua melalui Yayasan Pembangunan Pendidikan dan Kesehatan Papua (YP2KP) untuk program sanitasi sekolah.

Mulardin mengatakan, program cuci tangan sebelum dan sesudah makan diterapkan sudah sejak lama. Namun untuk jerigen di masing-masing depan kelas itu baru diterapkan sejak seminggu yang lalu. 

"Jadi sebelumnya itu mereka cuci tangannya dibelakang, tapi karena sudah ada jerigen depan kelas sehingga mereka sudah tidak lagi ke belakang. Kalau untuk Wudhu dan ke toilet saja baru mereka ke belakang," jelasnya. 


Reporter: Hadija Laisouw
Editor: Sevianto

 

Kategori:
Bagikan