Proses Hukum Dokter Gadungan Lanjut, Polisi Tunggu Keterangan IDI Papua

Selasa, 22 Okt 2019 17:21 WIT
BARANG BUKTI | Wakapolres Mimika Kompol I Nyoman Punia (tenga) yang didamping Kanit 3 Tipidkor Satreskrim Polres Mimika Ipda Lexi Mediyanto saat menunjukkan barang bukti. (Foto: Muji/SP)

TIMIKA | Terkait kelanjutan proses kasus dokter gadungan dengan tersangka Hadi Susanto alias HS, Satuan Reskrim (Satreskrim) Polres Mimika masih menunggu keterangan ahli dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tingkat Provinsi Papua di Jayapura.

Kanit 3 Tipidkor Satreskrim Polres Mimika, Ipda Lexi Mediyanto mengatakan, sampai saa ini perkembangan kasus HS sebagai dokter gadungan yang ditangani Satreskrim Polres Mimika masih berlanjut. 

“Kami masih menunggu hasil dari ahli IDI tingkat Provinsi Papua," kata Lexi di Pusat Pelayanan Polres Mimika, Selasa (22/10).

Sementara  dari IDI Mimika sudah  dimintai keterangan dan nama HS tidak terdaftar sebagai anggota IDI di Mimika. 

Begitu juga dari Dinkes Mimika, yang menyampaikan selama ini mereka tidak pernah mengeluarkan surat ijin dan praktek terhadap HS. Ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan HS illegal.

“ Nanti kami komparasikan dengan tingkat yang lebih tinggi lagi, yakni Dewan Kehormatan IDI Papua, agar ada keterangan, hal-hal apa saja yang dilanggar,” katanya.

Perlu diketahui, HS dijerat dengan pasal 77 juncto pasal 73 ayat 1, Undang undang RI nomor 29 tahun 2004, tentang praktek kedokteran. Dan pasal 378 KUHP tentang penipuan. HS bisa dipidana penjara paling lama lima tahun dan denda Rp150 juta.

Pasal ini dikenakan, karena HS yang tidak terdaftar dan memiliki ijin praktek, mengaku-ngaku sebagai dokter dengan melakukan kegiatan kedokteran, mulai dari pengambilan sampel darah, penyuntikan, memasang infus, dan pemberian resep di klinik B-Care di Jalan Budi Utomo sejak 2012 hingga 2018.

HS mengaku sebagai dokter S1 lulusan Universitas Indonesia serta lulus S3 kedokteran luar negeri, dan pernah praktek di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Namun disaat ditanyakan, HS mengaku bahwa ijasahnya terbakarnsehingga tidak bisa menunjukkannya.

Dari pengungkapan ini, sejumlah barang bukti (BB) diamankan, seperti satu buah tas merek ZEGARI bertuliskan B-Care, stetoskop warna hitam merek LITMANN, alat pengukur tensi otomatis merek OMRON, enam buah jarum suntik dan tabung.

Empat  buah botol plastik berisi kapas alcohol, empat sachet kapas alcohol, satu buah alat pengukur oksigen dalam darah merek PULSE OXIMETER, 16  buah tabung termpat darah.

Satu botol BENODON, satu buah kartu klinik B-Care, satu lembar struktur klinik B-Care, satu rangkap surat kerja sama investasi klinik B-Care, satu lembar fotocopy KTP atas nama HADI SUSANTO pekerjaan DOKTER, SIM A dan SIM C atas nama HADI SUSANTO pekerjaan DOKTER. Dan satu buah kartu nama DR HADI SUSANTO pada RS. TNI AL Dr. MINTO HARDJO.

Ditambah satu rangkap hasil pemeriksaan laboratorium pasien atas nama ABDUL WAHID tanggal 23 Desember 2016 yang dikeluarkan Klinik B-Care. Serta satu rangkap fotocopy salinan akta perjanjian Nomor 11-antara Tn. ABDUL WAHID ACHBERIA dan Tn. Dokter HADI SUSANTO tanggal 28 Desember 216 yang dibuat di hadapan Notaris AJI SUSANTO, SH., MK.n.


Reporter: Mujiono
Editor: Misba

 

Kategori:
Bagikan