Maskapai Baru Tak Mengubah Harga Tiket Pesawat ke Timika

Selasa, 22 Okt 2019 21:29 WIT
Saleh Alhamid

TIMIKA | Masuknya maskapai baru Batik Air melayani penerbangan dari dan ke Timika, Papua, rupanya belum menjawab mahalnya harga tiket pesawat di wilayah itu. 

Selama ini, diketahui harga tiket pesawat ke kota-kota di wilayah timur Indonesia memang cenderung lebih mahal. Bahkan, harga tiket Timika-Jakarta atau Jayapura-Jakarta lebih mahal dari harga tiket ke luar negeri.

Di Timika, masyarakat begitu antusias mendengar kabar masuknya maskapai Batik Air, Group Lion Air yang rencananya mulai melakukan penerbangan perdana pada Senin 28 Oktober. 

Alih-alih harga tiket lebih murah, Batik Air yang masuk dengan layanan full service dengan pesawat jenis Airbus A320 buatan Perancis, tentu menerapkan tarif di atas lebih mahal dari Sriwijaya Air. 

Legislator di DPRD Mimika, Saleh Alhamid, mengatakan pengguna jasa penerbangan tidak bisa berbuat apa-apa bilamana harga tiket pesawat masih disesuaikan dengan Tarif Batas Atas (TBA) saat ini. 

"Sekalipun berbagai macam maskapai penerbangan melayani rute Timika-Makassar-Jakarta, dan lain-lain," kata Saleh ketika dihubungi Seputarpapua, Selasa (22/10). 

Apalagi, salah satu penyebab adalah faktor jarak tempuh. Misalnya, Jakarta-Singapura memiliki jarak yang lebih dekat, sehingga justru lebih murah dari Jakarta ke Papua. 

Faktor lain, adalah jenis pesawat. Jika sebuah maskapai menggunakan pesawat yang tidak hemat bahan bakar, maka dipastikan harga tiket sedikit Iebih mahal. 

Meski begitu, kata Saleh, pemerintah seharusnya bisa mencari solusi yang tepat khususnya bagi masyarakat di wilayah timur Indonesia sehingga ketimpangan di berbagai aspek dapat ditekan.

"Semua maskapai penerbangan itu adalah bisnis murni. Yang dapat membantu masyarakat adalah pemerintah itu sendiri. Pemerintah bisa membuat regulasi untuk menekan harga tiket," katanya. 

Kementerian Perhubungan dinilai tidak efektif mengendalikan harga tiket pesawat hanya dengan menerapkan batas atas dan batas bawah. Sebab, penerapan batasan tarif tersebut komponen utamanya juga berdasarkan harga bahan bakar Avtur.

Di samping itu, perlu ada persaingan bisnis baik maskapai maupun seluruh komponen pendukung penerbangan itu sendiri, yang membebani biaya operasional maskapai sehingga berdampak pada mahalnya harga tiket. 

Menurut Saleh, selain mendorong agar beban operasional maskapai di seluruh bandara, pemerintah seharusnya sudah bisa menekan sistem bisnis maskapai penerbangan agar tidak terlalu membebani masyarakat. 

"Atau bisa dengan menurunkan harga tiket Garuda yang adalah satu-satunya milik pemerintah. Dengan begitu, secara otomatis semua penerbangan komersil lainnya akan menurunkan harga tiket," kata Saleh. 

Ia juga menyoroti sistem pengendalian pemerintah terhadap persaingan bisnis maskapai penerbangan dengan seenaknya menaikkan harga tiket pesawat kapan saja semau mereka. 

"Di Indonesia harga tiket berubah setiap menit. Bukankah ini bisa dikatakan adanya dugaan pungli secara terang-terangan? Tidak ada pilihan bagi para pengguna jasa penerbangan, tidak ada uang ya tidak naik pesawat," kata dia. 


Reporter: Sevianto
Editor: Aditra

 

 

 
Kategori:
Bagikan