Pertamina Bantu Bangun Toilet SD Torsina Timika

Senin, 04 Nov 2019 20:40 WIT
Bangunan toilet SD Torsina bantuan dari Pertamiana. (Foto: Anya/SP

TIMIKA | Toilet merupakan salah satu komponen penting yang harus ada dan tentu dibutuhkan setiap manusia tidak terkecuali anak-anak sekolah tingkat SD. Toilet dibuat dengan kondisi yang layak maupun tidak layak akan tetap digunakan.

SD Torsina di Jalan Leo Mamiri, Timika, mulanya memiliki satu bangunan toilet yang dibuat hanya dari atap seng sebagai dinding sekaligus atapnya. Ini tentu sangat tidak layak untuk digunakan oleh puluhan anak di sekolah tersebut.

​​​​Kepala SD Torsina, Yerry Layuk saat diwawancarai menjelaskan, bangunan sekolah tersebut dibangun sejak tiga tahun lalu oleh Yayasan GPI Papua dan pada saat itu hanya ada empat kelas. 

"Waktu itu memang toilet kami cuma dari seng dan hanya satu saja," katanya saat diwawancara Seputarpapua.com di sekolahnya, Rabu (30/10).

Ia menceritakan, dengan kondisi toilet itu, ada salah satu orang tua siswa yang mengarahkan untuk pihak sekolah membuat proposal dan membantu menyampaikannya. 

Pihak sekolah kemudian membuat proposal dengan pengajuan dana sebesar Rp80 juta ke Pertamina untuk dua toilet di akhir tahun 2017.

 

alt text

Kepala SD Torsina Yerry Layuk

 

Sebelum menjawab proposal tersebut, Yerry mengungkapkan, pihak Pertamina dari Jayapura langsung datang ke sekolahnya untuk melakukan survei dan menurut mereka toilet yang ada memang sangat tidak layak.

Namun, lanjut Yerry, Pertamina menjawab proposal itu dengan merealisasikan dana sebesar Rp60 juta dua minggu setelah melakukan survei.

"Jadi dari dana itu saya berpikir siswa SD kan kecil-kecil, jadi kita bikin jadi 4 dengan dana 60 itu, jadi dua untuk cowok dua untuk cewek," katanya. 

Lanjutnya, setelah dana tersebut diberikan, pihaknya langsung mengerjakan toilet tersebut yang mana setelah pengerjaannya, pihak Pertamina kembali untuk melihat toilet yang telah dibangun dan cukup kaget dengan empat toilet yang dibangun karena didalam proposal hanya diminta untuk dua toilet.

"Saya bilang ke mereka, anak-anak kan kecil-kecil saja jadi tidak perlu toilet yang besar," tutur Yerry.

Sekolah ini memiliki jumlah 93 siswa yang terdiri dari 46 siswa laki-laki dan 47 siswa perempuan yang mana untuk rasio penggunaan toilet lebih dari cukup.

"Rasio toilet itu satu toilet untuk 50 siswa, jadi ini lebih dari cukup," ujarnya.

Meski telah memiliki toilet yang layak dan lebih dari cukup untuk digunakan oleh para siswa, Yerry mengaku sekolah tersebut masih menggunakan air sumur yang berdasarkan penuturannya tidak bersih.

"Airnya juga jelek, kuning. Air kami ambil sumur tapi karena kuning terus kami bor lagi, setelah dibor sama saja," katanya.

 

alt text

SD Torsina terapkan program cuci tangan

 

SD Torsinia adalah salah satu dari 15 sekolah di Kabupaten Mimika yang tahun ini menjadi sekolah binaan UNICEF Tanah Papua-YP2KP untuk program sanitasi sekolah.

Setelah mengikuti orientasi sanitasi bersama YP2KP, Yerry mengaku telah diarahkan untuk membuat proposal untuk mendapatkan bantuan penyaring air agar bisa menggunakan air bersih di sekolah tersebut.

"Jadi kami buat proposal itu untuk penyaring air," ujarnya.

Sementara untuk kebersihan toilet, Yerry mengaku para siswa di sekolah tersebut selalu diarahkan untuk menjaga kebersihan toilet dan diikuti dengan baik. 

"Tapi memang ada penjaga sekolah yang paling kalau setelah anak-anak pulang dan tidak bersih baru dia bersihkan," tuturnya.

"Kadang kalau mereka buat salah, mereka yang minta 'ah kita bersihkan toilet aja bu. Tapi sebenarnya tidak boleh ya karena anak-anak datang sekolah kan mau belajar bukan itu, Itu jadi semacam pembiasaan juga untuk mereka agar tetap jaga kebersihan," jelas Yerry.

Sekolah ini juga menerapkan program cuci tangan pakai sabun (CTPS) secara berkelompok yang mana dilakukan setiap selesai jam istirahat. 

Tempat-tempat air yang digunakan untuk mencuci tangan dibantu oleh YP2KP dan diletakkan diluar kelas, namun setelah jam pulang sekolah selalu dimasukkan kedalam ruang kelas karena lokasi sekolah tersebut dinilai cukup rawan dan belum memiliki pagar.

"Sampai sekarang kami belum sempat mau bikin tempatnya, tapi kalau begitu juga nanti mau angkat keluar masuk susah karena disini lokasinya rawan," kata Yerry.


Reporter: Anya Fatma
Editor: Sev

 

Kategori:
Bagikan