Ada Ancaman di Lokasi Dulang Limbah Freeport

Senin, 11 Nov 2019 20:11 WIT
Dandim 1710 Mimika Letkol Inf Pio L Naiggolan. (Foto: Mujiono/SP)

TIMIKA | Menyikapi masalah keamanan  menjelang 1 Desember yang merupakan HUT OPM,  masyarakat yang melakukan pendulangan di wilayah pembuangan hasil tambang PT Freeport Indonesia (PTFI), dihimbau untuk segera keluar dari area tersebut.

Dandim 1710 Mimika, Letkol Inf Pio L Nainggolan mengatakan, terkait dengan informasi ancaman yang berkembang di masyarakat yang berhubungan dengan 1 Desember, pihaknya menghimbau kepada para pendulang untuk segera keluar dari  lokasi pendulangan di sepanjang sungai pembuangan limbah PTFI. 

Hal ini dikarenakan, pihaknya menangkap informasi bahwa ada semacam seruan atau ancaman secara halus, agar masyarakat pendatang yang mendulang untuk keluar dari lokasi pendulangan.

Dikatakan, pihaknya sudah berkomunikasi dengan ketua paguyuban yang mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai pendulang, seperti KKSS dan lainnya. 

“Walaupun ancaman ini belum nyata, tapi bisa dianggap indikasi yang perlu disikapi. Dan memang pendulang berharap tidak terjadi apa-apa di wilayah pendulangan. Tapi, himbauan ini disampaikan sebagai bentuk antisipasi dini,” kata Dandim di Makodim 1710 Mimika, Senin (11/11). 

Dandim menjelaskan, wilayah pendulangan ini sangat banyak mulai dari Banti sampai ke Mile 38. Namun pihaknya mendapatkan informasi yang menjadi titik berat ancaman adalah di Mile 50 sampai 38.

Himbauan ini kata dia  difokuskan untuk antisipasi 1 Desember nanti. Karena berkaca pada catatan sejarah atau pengalaman tahun lalu. 

“Data yang ada, jumlah pendulang mencapai 16 ribu orang. Sehingga kalau pulang seketika, maka akan mempengaruhi aspek sosial. Dengan demikian, perlu langkah penanganan yang tidak hanya melibatkan TNI-Polri, tetapi juga Pemda dan paguyuban," katanya.

Ia menambahkan, sampai ini belum ada pembatasan secara tegas terhadap pendulang yang mendulang. Namun apabila kedepan ancaman itu nyata, maka mau tidak mau  akan batasi.

“Kami sudah berupaya menahan arus. Namun kami tidak bisa secara keras melarang, karena menyangkut kebutuhan ekonomi. Karenanya, kami awali dengan himbauan. Tapi apabila ada ancaman nyata, maka kami akan tegas,” tuturnya.

 

Reporter: Mujiono
Editor: Misba

 

Kategori:
Bagikan