Polres Mimika Gelar Lomba Menghafal Biografi Empat Pahlawan Asal Papua

Sabtu, 16 Nov 2019 12:30 WIT
LOMBA | Suasana lomba menghafal biografi Pahlawan Nasional Papua yang diselenggarakan Polres Mimika dalam rangka memperingati Hari Pahlawan. (Foto: Muji/SP)

TIMIKA | Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November, Polres Mimika menggelar lomba menghafal biografi Pahlawan Nasional asal Papua. 
Kegiatan yang dipusatkan di Diana Shopping Center, Sabtu (16/11) diikuti 40 peserta dari tingkatan SD, SMP, dan SMA.

Empat Pahlawan Nasional Papua yang dimaksud adalah Silas Papare, Frans Kaisiepo, Marthen Indey, dan Johannes Abraham Dimara.

Perlombaan memperebutkan piala Kapolres Mimika, panitia  menyeleksi tiga juara untuk tingkat SD dan SMP. Sementara untuk tingkat SMA dan Mahasiswa dijadikan satu, dengan mengambil tiga juara.

Penilaian dilihat dari penampilan, isi dari pidato, kostum, kelancaran mebghafal biografi pahlawan yang dipilih serta ekspresi dan notasi.

Kapolres Mimika, AKBP I Gusti Gede Era Adhinata mengatakan, kegiatan ini untuk memperingati Hari Pahlawan. Dimana masyarakat Indonesia, khususnya di Papua banyak yang belum mengetahui siapa saja Pahlawan Nasional asal Papua, yang sudah berjuang demi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

"Kegiatan ini baru pertama kali diadakan, karena sebelumnya belum pernah ada even seperti ini. Sehingga diharapkan dengan kegiatan ini, semua masyarakat mengetahui bahwa ada Pahlawan Nasional asal Papua yang memperjuangkan NKRI. Sehingga jasa beliau bisa dikenang sampai akhir hayat," tuturnya.

Berikut biografi Pahlawan Nasional Papua yang dikutip dari sejarahlengkap.com:

1. Frans Kaisiepo, lahir di Wardo, Biak, Papua pada 10 Oktober 1921. Ia terlibat sebagai wakil Papua pada Konferensi Malino di tahun 1946 yang membicarakan tentang pembentukan Republik Indonesia Serikat. 

Selama tiga hari menjelang proklamasi atau tanggal 14 Agustus 1945, Kaisiepo dan rekan – rekan seperjuangannya memperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya di Kampung Harapan Jayapura.

Beberapa hari kemudian setelah proklamasi atau tanggal 31 Agustus 1945, Ia dan rekan-rekan mengadakan upacara pengibaran Bendera Merah Putih dan bernyanyi lagu kebangsaan. 

Frans Kaisiepo juga pernah menjadi Gubernur Irian Barat keempat pada 1964 – 1973. Ia meninggal pada 10 April 1979 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Jayapura. 

Namanya dijadikan nama bandara Frans Kaisiepo di Biak, juga sebagai nama KRI Frans Kaisiepo. Gelar pahlawan nasional ditetapkan pada 1993 bersama penganugerahan Bintang Mahaputera Adi Pradana kelas dua. Frans Kaisiepo juga diabadikan dalam uang kertas Rupiah cetakan baru pada pecahan 10 ribu rupiah. 

2. Johannes Abraham Dimara, merupakan putra asli Papua yang lahir di Korem, Biak Utara, Papua pada 16 April 1916. Pada tahun 1946, ia ikut serta dalam peristiwa pengibaran Bendera Merah Putih di Namlea, Pulau Buru, Maluku. 

Ia juga ikut berjuang untuk mengembalikan Irian Barat ke wilayah Indonesia. Pada tahun 1950 ia diangkat menjadi ketua OPI (Organisasi Pembebasan Irian Barat).

Johannes kemudian menjadi anggota TNI dan melakukan infiltrasi ke Irian Barat di tahun 1954, sehingga ditangkap oleh tentara Belanda dan dibuang ke Digul sampai dibebaskan tahun 1960. 

Ia ikut menyerukan Trikora bersama Bung Karno di Yogyakarta dan menyerukan seluruh masyarakat Irian Barat agar mendukung penyatuan wilayah Irian Barat ke dalam NKRI. Pada tahun 1962 ketika diadakan perjanjian New York, Johannes menjadi salah satu delegasi bersama Menteri Luar Negeri Indonesia.

Isi perjanjian tersebut pada akhirnya mengharuskan pemerintah kerajaan Belanda untuk menyerahkan wilayah Irian Barat kepada Pemerintah RI. Sejak itulah wilayah Irian Barat menjadi bagian dari NKRI. Johannes wafat pada tanggal 20 Oktober 2000 dan mendapat penghargaan berupa tanda jasa Satyalancana Perang Kemerdekaan Kesatu dan Satyalancana Bhakti. 

Pemerintah juga menganugerahkan gelar pahlawan nasional dari Papua pada tahun 2011. Ketahui juga mengenai pahlawan nasional non muslim dan penyebab perang antar suku di Papua.

3. Silas Papare, lahir di Serui, Papua pada 18 Desember 1918. Silas Papare adalah seorang pejuang yang berusaha menyatukan Irian Jaya (Papua) ke dalam wilayah NKRI dalam perjuangan pembebasan Irian Barat.

Perjuangan kemerdekaan Papua dilakukannya dengan sangat gigih, sehingga kerap berurusan dengan aparat keamanan Belanda. Dalam perlawanannya terhadap kolinialisme Belanda, ia sampai dipenjarakan di Belanda karena mempengaruhi Batalyon Papua untuk memberontak.

Ketika sedang ditahan di Serui, ia bertemu dengan Dr. Sam Ratulangi, Gubernur Sulawesi yang diasingkan oleh Belanda. Dari situ ia semakin berkeyakinan bahwa Papua harus bebas dari penjajah dan bergabung dengan Republik Indonesia. Pada Oktober 1949 di Yogyakarta, ia mendirikan Badan Perjuangan Irian untuk membantu pemerintah RI untuk memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah Indonesia. 

Ketika itu Silas aktif dalam Front Nasional Pembebasan Irian Barat (FNPIB) juga ditunjuk oleh Soekarno untuk menjadi salah seorang utusan Indonesia dalam New York Agreement yang ditandatangani pada 15 Agustus 1962. Perjanjian tersebut mengakhiri konfrontasi Indonesia dengan Belanda mengenai masalah Irian Barat.

Setelah Irian Barat bersatu dengan RI, Silas Papare diangkat menjadi anggota MPRS. Sepeninggalnya pada usia 60 tahun di 7 Maret 1978, namanya diabadikan sebagai salah satu Kapal Perang Korvet kelas Parchim yaitu KRI Silas Papare bernomor lambung 386. Monumen Silas Papare juga didirikan di dekat pantai dan pelabuhan laut Serui. 

Di Jayapura, namanya digunakan untuk Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Politik (STISIPOL) Silas Papare di jalan Diponegoro. Dan di kota Nabire, namanya diabadikan dalam bentuk nama jalan. Gelar pahlawan nasional disematkan pada tahun 1993 bersama dengan Marthen Indey dan Frans Kaisiepo.

4. Marthen Indey, lahir di Doromena, Papua pada 14 Maret 1912 dan mendapatkan gelar pahlawan nasional dari Papua pada 1993, ia adalah polisi Belanda yang berbalik mendukung Indonesia. Ketika sedang bertugas menjaga para tahanan politik di Digul, ia bertemu dengan tahanan seperti Sugoro Atmoprasojo yang mengubah cara berpikirnya. 

Marthen kemudian bergabung dengan organisasi politik bernama Komite Indonesia Merdeka (KIM) pada 1946, yang di kemudian hari dikenal dengan nama Partai Indonesia Merdeka (PIM). Ketika menjadi ketua, ia dan beberapa kepala suku Papua lainnya menyampaikan protes kepada Belanda yang berencana untuk memisahkan Irian Barat dari wilayah kesatuan Indonesia.

Ketika mengetahui Marthen membelot, Belanda kemudian menangkapnya dan menahannya selama 3 tahun di Digul. Pada tahun 1962 ia bergerilya untuk menyelamatkan anggota RPKAD yang didaratkan di Papua pada masa Trikora. 

Ia juga menyampaikan Piagam Kota Baru yang berisi keinginan kuat penduduk Papua untuk tetap setia pada wilayah NKRI. Berkat piagam itu ia dikirim untuk ikut Perundingan New York. 

Setelah itu ia diangkat sebagai anggota MPRS sejak tahun 1963 – 1968, dan juga diangkat sebagai kontrolir diperbantukan pada Residen Jayapura dengan pangkat Mayor Tituler selama 20 tahun. Marthen wafat di Doromena pada usia 74 tahun tanggal 17 Juli 1986.


Reporter: Mujiono
Editor: Misba

 

 

Kategori:
Bagikan