Pembina PS Elang Pertanyakan Sikap Asprov PSSI Papua Soal Persemi Masuk Liga Nasional

Selasa, 19 Nov 2019 20:29 WIT
Pembina PS Elang Jermias Rontini (Kanan) dan Manejer Persemi Roby Omaleng (Kiri)

TIMIKA | Pembina PS Elang, Jermias Rontini mempertanyakan sikap Asosiasi PSSI Provinsi (Asprov) Papua yang mengirim Persemi Mimika mengikuti kejuaraan tingkat nasional pada 21 November 2019 nanti.

“Atas alasan dan dasar apa Persemi Mimika bisa diikutkan dalam kejuaraan tingkat nasional menghadapi Persika Kaimana, perwakilan dari Papua Barat,” kata Jermias di Jalan Cenderawasih, Mimika, Papua, Selasa (19/11).

Kata dia, Turnamen Liga 3 yang digelar  Asprov Papua dilaksanakan mulai Agustus sampai September 2019 sesuai kalender PSSI Nasional.  Liga 3 Papua ini diikuti oleh 13 tim, salah satunya PS Elang.

Namun baru menjalani 3-4 dari 7-8 pertandingan, turnamen terpaksa dihentikan karena alasan keamanan.

“Asprov Papua kemudian mengumpulkan 13 tim yang ikut Turnamen Liga 3 di GOR Waringin pada 7 September 2019 lalu,” katanya.

Hasil dari pertemuan diputuskan beberapa hal yang tertuang dalam berita acara. Poin-poinnya adalah menghentikan Turnamen Liga 3 atas rekomendasi pihak keamanan terkait situasi Kota Jayapura pasca demo 28 Agustus 2019.

Kemudian Asprov Papua tidak akan mengirimkan perwakilan Papua ke  pertandingan tingkat nasional dan panitia akan mengembalikan uang yang sudah dikeluarkan oleh tim atau klub.

“Saya tidak persoalkan masalah biaya. Tapi yang menjadi masalah adalah ketidakprofesionalannya Asosiasi Provinsi Papua yang mengelola Liga 3 melalui panitia,” ujarnya.

Ketidakprofesionalan yang dimaksud Rontini adalah, dalam berita acara sudah dicantumkan dan disepakati bahwa tidak akan mengirimkan wakil dari Papua, namun kenyataannya pada 21 November 2019 nanti, Persemi Mimika (salah satu peserta Liga 3) akan mengikuti pertandingan nasional menghadapi Persika Kaimana dari Papua Barat.

“Ini jadi pertayaan besar, siapa yang menunjuk Persemi untuk bertanding. Padahal semua sudah sepakat bahwa tidak akan mengirimkan wakil Papua untuk kejuaraan tingkat nasional.  Asprov harus menjawabnya. Kalau tidak, saya akan bawa sampai ke PSSI di pusat,” tegasnya. 

Ia berharap Asprov bisa merespon dan memanggil semua klub-klub peserta Liga 3, serta menjelaskan alasan secara detail. Kalau tidak, maka pihaknya akan mengambil langkah hukum.

Kata Rontini, apa keistimewaan Persemi Mimika sehingga ditunjuk mewakili Papua di tingkat nasionaln padahal semua sudah sepakat pertandingan dihentikan dan masih menjalani empat pertandingan dari 7-8 pertandingan.

“Panggil kami untuk bicara, tidak dilakukan secara diam. Kami akan mengambil langkah-langkah karena tidak ada surat pemberitahuan kepada klub untuk penunjukkan Persemi Mimika,” tuturnya.

Pihaknya berharap penyelenggaraan Liga 3 di Papua dievaluasi. Kalaupun ada kendala keamanan, maka harus ada alternative tempat yang dikira aman, misalnya di Sarmi, Keerom, dan lainnya.

“Kami ini di Papua sudah termajinalkan paling jauh. Namun masih dibuat bodoh oleh oknum-oknum tertentu dan tidak ada surat penunjukkan Persemi ikut tingkat nasional,” ujarnya.

Manajer Persemi, Robby Kamaniel Omaleng menjelaskan, PSSI memiliki regulasi dan semuanya terikat. Apalagi kompetisi ataupun turnamennya sudah berjalan dan menyisakan 2-3 kali pertandingan. Asprov kemudian menawarkan kepada tim apakah menyelesaikan pertandingan dan mengikutkan keterwakilan Papua dengan melihat poin. 

Dua poin tersebut kata Roby ditawarkan kepada tim. Namun 12 tim menolak bahwa keterwakilan dari Papua tidak ada yang mengikuti kemudian dituangkan dalam berita acara yang hanya ditandatangani 12 tim dan Persemi tidak ikut menandatangani.

“Disitulah penilaian dari PSSI Pusat bahwa Persemi layak mewakili Papua dengan selisih poin tertinggi, yakni 12 poin. Sementara selisi dengan tim lainnya lima poin,” kata Robby yang dihubungi melalui telepon selulernya.

Diungkapkan Roby, PSSI pusat juga mengatakan jika tidak ada perwakilan dari Papua, maka akan masuk keterwakilan dari provinsi lain. Dengan pertimbangan tersebut, maka Persemi layak untuk ikut Liga Regional.

“Kalau perwakilan dari Papua tidak ada keterwakilan, maka tahun depan tidak bisa ikut Liga. Dan ini sangat disayangkan, kalau hal itu terjadi,” jelas Roby.

Sementara media ini mencoba untuk mengkonfirmasi pihak Asprov Papua belum memberikan tanggapan.

 

Reporter : Mujiono
Editor: Misba

 

 

Kategori:
Bagikan