Sanitasi Sekolah di Balik Sebuah Foto

Rabu, 20 Nov 2019 07:22 WIT
PELATIHAN | Anak-anak dan guru saat mendapatkan materi pelatihan Photografi dari M. Yamin di Wisata Air Pelangi, Kilo 8, 5 September 2019

TIMIKA | Upaya mencapai target akses untuk air minum dan sanitasi sekolah di Kabupaten Mimika berhadapan dengan tantangan berat. Berdasarkan data pokok pendidikan (dapodik) Dinas Pendidikan Kabupatan Mimika tahun 2018, dari 129 sekolah dasar terdapat 71 persen sekolah tidak memiliki jamban atau sudah rusak. 

“30 persen sekolah tidak memiliki sumber air layak dan cukup, 70 persen lebih sekolah tanpa sarana cuci tangan dengan sabun dan hanya 29 persen sekolah yang memiliki toilet terpisah laki-laki dan perempuan,” ungkap Job Supangkat, Water, Sanitation and Hygiene (WASH) Officer UNICEF, Selasa (19/11/2019).

Job menjelaskan, kondisi ini terjadi karena kurangnya perhatian dari pemerintah daerah secara umum dan bukan hanya Dinas Pendidikan saja.

Selama ini, kata Job, urusan sekolah hanya dianggap menjadi tanggungjawab Dinas Pendidikan semata. Padahal, sanitasi sekolah memerlukan dukungan lintas sektor pemerintah, sekolah dan masyarakat. 

Sebagai bagian dari advokasi untuk menempatkan sanitasi sekolah menjadi perhatian bersama, UNICEF bekerja sama dengan Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (POKJA AMPL) Kabupaten Mimika dan Yayasan Pembangunan Pendidikan dan Kesehatan (YP2KP) melakukan kampanye pentingnya sanitasi sekolah melalui pameran foto sanitasi sekolah. 

Job menerangkan, pameran foto sanitasi sekolah adalah kumpulan pemenang dari lomba foto yang diikuti 30 siswa dari 15 sekolah. Namun, sebelum mengikuti lomba photo, dua siswa dan guru masing-masing sekolah dari 15 sekolah peserta program sanitasi sekolah terlebih dulu diberi pelatihan dasar fotografi. 

“Anak-anak kemudian diminta untuk mendokumentasikan segala hal yang berhubungan dengan sanitasi di sekolah masing-masing dengan bimbingan guru. Selain hasil foto, anak-anak juga disiapkan untuk mengungkapkan cerita dibalik sebuah foto,” terangnya. 

 

alt text

MEMOTRET | Anak-anak peserta pelatihan fotografi belajar memotret untuk mempraktikan teori yang didapat dari pelatihan.

 

Ia menambahkan, setelah terkumpul, foto-foto itu kemudian dikurasi oleh tim YP2KP dan dipersiapkan untuk acara puncak advokasi sanitasi sekolah di Kabupaten Mimika. 

“Harapannya, foto dan cerita dari anak-anak tentang sanitasi sekolah dapat membawa sanitasi sekolah menjadi prioritas di Kabupaten Mimika,” kata dia.

Job mengatakan, buruknya sanitasi di sekolah pada akhirnya akan berpengaruh pada kualitas pendidikan seperti, hilangnya waktu belajar, sering sakit, sulit belajar dan berprestasi.

Jika anak-anak tidak menjalankan praktik Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di sekolah, maka anak tidak akan merasa perlu untuk melakukannya di rumah.

“Seorang anak tidak akan menjadi agen perubahan perilaku bersih dan sehat. Anak-anak tidak akan tumbuh dan berkembang menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.  Bagaimana Kabupaten Mimika dapat membangun dan sejajar dengan daerah lain jika kualitas anak-anaknya tidak dapat bersaing,” jelasnya.

Program Manajer WASH YP2KP, Yusuf Pala Pakiding menerangkan, sebelum mengikuti lomba dan fotonya dipamerkan, terlebih dulu anak-anak dan guru diberi pelatihan di Wisata Air Pelangi Kilo 8 pada awal September. Mereka dilatih bagaimana bisa mengambil foto yang bercerita dan bukan hanya sembarangan foto.

“Narasumber pelatihan tersebut adalah photografer yang sudah malang melintang di media, yaitu bang Yamin. Kita memilih lokasi di Kilo 8 agar anak-anak bisa belajar, sekaligus praktek dan sekaligus refreshing,” ujarnya.

Yusuf menjelaskan, setelah diberi pelatihan, selama lebih dari sebulan anak-anak dipersilahkan untuk bisa memotret kondisi sanitasi di sekolahnya berdasarkan sudut pandang mereka.

Media untuk mengambil foto tidak dibatasi, bisa menggunakan handphone (HP) maupun kamera digital. Jika anak-anak tidak mempunyai HP atau kamera, bahkan bisa menggunakan milik gurunya.

“Untuk penjurian kita bekerjasama dengan para Photografer dari Pewarta Foto Indonesia (PFI). Mereka menilai lebih dari 300 foto dan dipilih hanya 20 foto terbaik yang hasilnya bisa dilihat saat pemeran di Hotel Horison, Kamis (21/11) besok,” jelasnya.


Reporter: Sevianto/**

 

Kategori:
Bagikan