Uskup Agats: Gereja Katolik Merawat Nilai-nilai Budaya Asmat

Jumat, 22 Nov 2019 00:42 WIT
BERJALAN | Uskup Agats Mgr. Aloysius dan Bupati Asmat Elisa Kambu ketika menabur kapur sirih bertanda dimulai Festival Asmat Pokman (Foto: Sevianto/SP)

AGATS | Uskup Keuskupan Agats Mgr. Aloysius Murwito, OFM bersama Bupati Asmat Elisa Kambu membuka sekaligus meresmikan Festival Asmat Pokman yang semula dikenal Pesta Budaya Asmat. 

Pembukaan Festival Asmat Pokman ke-34 tahun 2019 di halaman Museum Budaya, Kamis (21/11), dihadiri 445 seniman tradisional terdiri dari 225 pengukir, 70 penganyam, 90 penari, dan 60 formasi perahu. 

Festival Budaya Asmat kali ini dirangkaikan dengan perayaan hari ulang tahun ke-50 Keuskupan Agats-Asmat. 

Puncak perayaan tahun emas Keuskupan Agats pada Minggu (24/11), akan dihadiri Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Mgr. Piero Pioppo dan Kardinal Vatikan Mgr. Ignatius Suharyo, yang juga Uskup Agung Jakarta. 

Uskup mengatakan, dua perayaan ini sengaja dirangkaikan atas beberapa alasan paling mendasar, bahwa kedua event yang berdekatan memang lebih baik disatukan.

Uskup mengemukakan, sejak awal Gereja Katolik masuk bukan untuk melepaskan diri dari adat budaya masyarakat Asmat. Ini sebuah pandangan dan penghayatan dari Gereja Katolik yang sudah dimulai oleh para misionaris sebelumnya. 

"Bahwa tidak mau para misionaris mewartakan injil dengan meninggalkan sama sekali nilai-nilai budaya lokal di sini," kata Mgr. Aloysius dalam sambutannya. 

Ia menegaskan, para pewarta injil Gereja Katolik datang bukan untuk melupakan, datang bukan untuk menghapuskan adat budaya, gereja datang bukan untuk mengganti segala sesuatu menjadi baru.

"Kami yakin bahwa Tuhan sudah menyatakan rencana dari awal sejak dunia ini diciptakan, sejak leluhur-leluhur ada di sini. Hal-hal yang baik datang dari Tuhan telah hadir di sini," katanya. 

Uskup mengatakan, sudah merupakan dasar kepercayaan Gereja Katolik untuk senantiasa melestarikan adat budaya warisan leluhur masyarakat Asmat. 

"Dan ini tidak bisa dilepaskan, tapi justru dihargai dan dihormati sekaligus diterangi dengan injil yang diwartakan oleh para misionaris, oleh gereja sampai saat ini," kata dia. 

Dengan dasar-dasar itu lah, kata Uskup, festival budaya Asmat dan pesta ulang tahun Keuskupan Agats digelar bersama-sama. Dimana gereja ingin agar umat hidup dalam terang injil dan berakar dalam budaya setempat. 

"Kami menginginkan masyarakat Asmat dan suku-suku di sekitarnya ini tetap hidup di dalam cahaya ajaran injil, tetapi juga tetap berakar di dalam nilai-nilai yang diwariskan oleh para leluhur," jelasnya. 

Bupati Asmat Elisa Kambu mengapresiasi antusias seluruh masyarakat yang turut serta dalam memeriahkan festival budaya Asmat. 

Menurutnya, ini adalah bukti bahwa semua yang hadir senantiasa mengakui dan menghargai budaya Asmat. 

"Kita semua sepakat, bahwa ini tetap dilestarikan dan dipertahankan," imbuhnya. 

Ia juga menyampaikan terima kasih khususnya kepada Gereja Katolik yang telah menginisiasi upaya pengembangan seni budaya di Asmat, hingga akhirnya embrio seniman lokal terus tumbuh berkembang.

"Saya lihat para seniman, pengukir, makin hari makin berkembang. Ukiran yang ada juga bagus-bagus. Saya lihat juga, hampir sebagian besar adalah anak-anak muda, ini sangat luarbiasa," katanya.

Bupati Kambu mengatakan, festival budaya yang sarat dengan keunikannya ini tak dapat dijumpai di belahan dunia mana pun, dan merupakan identitas yang melekat pada masyarakat dan daerah. 

"Ini hanya ada di Asmat, tidak ada di belahan dunia lain. Maka itu harus tetap dipertahankan dan dilestarikan," imbuhnya. 

Sekedar diketahui, Kabupaten Asmat didiami sekitar 65 persen masyarakat asli setempat yang beragama Katolik. Sejak para misionaris masuk mewartakan injil, adat budaya Asmat tetap terpelihara hingga saat ini. 

 

Reporter: Sevianto
Editor: Aditra

 

Kategori:
Bagikan