Yonif 754/ENK Kostrad Tebarkan Keceriaan di Hari Disabilitas Internasional

Selasa, 03 Des 2019 14:22 WIT
BERMAIN | Prajurit Yonif 754/ENk Kostrad saat bermain bersama anak-anak SLB Negeri Mimika. (Foto: Hadija/SP)

TIMIKA | Banyak cara yang dilakukan untuk memperingati Hari Disabilitas Internasional yang jatuh setiap tanggal 3 Desember. 

Seperti yang dilakukan Yonif 754/ENK/ 20/  IJK - Devisi 3 Kostrad yang bermarkas di Mimika. 

Peringati Hari Disabilitas Internasional 2019, sejumlah prajurit Yonif  mengunjungi Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Mimika, Selasa (3/12).

Kunjungan tersebut untuk berbagi keceriaan dan kebahagiaan bersama anak-anak spesial penyandang kebutuhan khusus.
 
Kehadiran para prajurit Yonif pun  disambut hangat oleh seluruh pihak sekolah. Terutama siswa siswi yang begitu ceria saat belajar dan bermain bersama prajurit. 

Kepala Sekolah SLB Negeri Mimika Sunardin sangat berterimakasih atas kunjungan Yonif/754  yang sudah meluangkan waktu memperhatikan siswa siswi berkebutuhan khusus dengan ikut memberikan edukasi.

"Semoga kedepannya hubungan ini bisa tetap berlanjut bukan hanya saat moment tertentu saja," kata Sunardin. 

Sekolah dengan jumlah pelajar 81 untuk SD, SMP dan SMA dengan sembilan guru tersebut melayani berbagai macam anak berkebutuhan khusus, seperti tuna netra (gangguan penglihatan), tuna rungu (bisu), tuna grahita (penghambatan intelektual), sindrom (gangguan kromosom dan intelektual, tuna Daksa (gangguan fisik) dan autisme (gangguan interaksi sosial, komunikasi dan bahasa). 

"Dengan jumlah siswa dan jumlah guru kalau secara kuantitas sangat tidak memadai karena masing-masing anak dengan kebutuhan khusus yang berbeda-beda dan semua harus dalam pengawasan," kata Sunardin. 

Jika dikaitkan jumlah anak dan guru dengan berbagai macam kebutuhan, maka untuk satu kelas saja tidak bisa hanya satu guru yang mengawasi. Karena jika ada anak yang hendak ke toilet pun harus didampingi guru. 

"Guru harus mendampingi jika hendak ke toilet karena kami juga menerapkan pembelajaran toilet traning," ungkap Sunardin. 

Sementara khusus untuk penanganan guru kepada siswa penyandang autis yaitu gangguan interaksi dan komunikasi memang perlu penanganan lebih, sehingga minimal satu guru harus menangani dua siswa, itupun guru yang harus memiliki kemampuan atau basicnya bahasa isyarat. 

"Kebetulan saya sendiri sudah punya kemampuan untuk berbahasa isyarat jadi saya salurkan itu untuk guru-guru yang ada sehingga dapat berinteraksi dengan 12 siswa SD penyandang autis yang ada disini," jelasnya. 

"Disini juga mereka dianjurkan berbagai macam kesenian seperti nyanyi, menari berpuisi dan lain-lain," tambah Sunardin.

Sunardin memiliki harapan besar untuk SLB yang telah berdiri selama lima tahun tersebut memiliki transportasi.

Karena menurutnya, kurangnya kemauan orang tua untuk menyekolahkan anak berkebutuhan khusus itu salah satunya masalah transportasi. 

"Mereka tidak mungkin kesekolah sendirian, jika orang tua yang mampu mereka bisa mengantarkan anaknya, lalu bagaimana dengan orang tua yang kurang mampu. Disitulah kadang kurangnya kemauan orang tua untuk menyekolahkan anknya yang berkebutuhan khusus sehingga mereka tidak mendapatkan pendidikan yang layak," katanya. 

Ia mengaku telah membicarakan masalah kurangnya tenaga pendidik dan transportasi kepada Dinas Pendidikan, namun hingga kini belum terakomodir.

"Sekolah lain yang pada umumnya saja difasilitasi mobil, kenapa kita yang dengan segala keterbatasan yang ada sepertinya susah untuk mendapatkan itu," kata Sunardin dengan nada sedih. 

Pasi Intel Yonif/ 754 Letda Rochmadian juga mengatakan bahwa mereka bersyukur di moment Hari Disabilitas ini dapat mengunjungi anak-anak luar biasa dengan berkebutuhan khusus, namun memiliki semangat yang tinggi. 

"Saya yakin mereka memiliki semangat yang tinggi dan luar biasa. Mereka pasti bisa menjadi lebih baik lagi, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan namun bagaimana kita bersyukur dan menjalani itu dengan semangat," katanya. 

 

Reporter: Hadija Laisouw
Editor: Misba

 

Kategori:
Bagikan