Aktivis Sebut Tailing Freeport Sebabkan Malapetaka di Perairan Mimika

Aktivis Sebut Tailing Freeport Sebabkan Malapetaka di Perairan Mimika
Adolfina Kuum

TIMIKA | Masyarakat di wilayah pesisir pantai Mimika, Papua, mengeluhkan dampak pasir sisa tambang atau tailing PT. Freeport Indonesia yang mengakibatkan pendangkalan di jalur transportasi.

Selama 9 tahun sejak 2013 masyarakat pesisir Agimuga dan Jita terdiri dari tua-tua adat, pemuda, dan pelajar yang tergabung dalam Lembaga Peduli Masyarakat Mimika Timur Jauh (Lepemawi) telah menyuarakan hal itu.

Adolfina Kuum, aktivis lingkungan di Mimika yang juga Ketua Lepemawi menyebut pendangkalan alur sungai dan jalur transportasi laut akibat tailing telah menimbulkan berbagai malapetaka.

"Sejak tahun 2013 hingga 2019 ini banyak sekali temuan kasus dan korban nyawa di muara kali sampan Pulau Puriri dan Pasir Hitam akibat limbah tailing," sebut Adolfina dalam rilisnya kepada Seputarpapua, Sabtu (7/12).

Menurut Adolfina, perahu tradisional yang menjadi satu-satunya alat transportasi masyarakat lokal di wilayah pesisir telah kehilangan akses alaminya akibat pendangkalan dimana-mana. 

Beberapa kasus ketika perahu terjebak dalam tumpukan tailing. Bahkan, tailing juga telah mengubah kondisi alami untuk akses tepi pantai bagi perahu dan kapal motor kapasitas kecil, kini menjadi cukup berbahaya. 

Sejumlah kasus kecelakaan laut terjadi ketika perahu yang mengangkut barang kebutuhan pokok dan manusia, terpaksa memilih jalur laut yang ganas setelah akses sungai sulit dulalui akibat pendangkalan. 

"Ini telah menelan korban jiwa, harta benda, hasil buruan, bahkan bahan pokok selalu hilang tenggelam disana. Perahu juga rusak tertanam dalam lumpur tumpukan pasir tailing," katanya.

Lepemawi, katanya, sejak lama sudah mengadvokasi aspirasi masyarakat dari beberapa wilayah yang bermasalah dengan akses transportasi, seperti distrik Jita, Agimuga, Manasari, Otakwa dan Omoga Pantai .
 
"Lepemawi sudah menyuarakan agar Freeeport dan pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup, para elit  lokal, LSM, bahkan lembaga adat. Tapi itu diabaikan, diam tidak mendengar suara rakyat," sesalnya.

Menurut dia, andai saja aspirasi masyarakat didengar sejak 2013 maka tak dipungkiri kasus-kasus kecelakaan laut dan sulitnya akses transportasi melalui jalur sungai bisa dihindari. 

"Yang terjadi hari ini adalah kasus kesekian kalinya. Baru-baru ini ada anggota TNI hilang akibat kecelakaan perahu di Pulai Puriri. Sudah banyak korban di tempat itu," katanya. 

Karena itu, Adolfina berharap aspirasi masyarakat yang dibawa Lepemawi dapat didengar Freeport dan pemerintah, untuk segera mengatasi masalah jalur transportasi laut dan sungai di wilayah pesisir Mimika. 

Adapun beberapa aspirasi itu antaralain, meminta Freeport dan pemerintah daerah segera menyediakan alat transportasi kapal yang bisa aman melalui jalur laut. 

Kemudian, membangun pelabuhan baru di Otakwa, rumah singgah buat masyarakat yang menunggu air pasang, menyedot limbah ke laut, dan membuat jembatan layang.

"Seandainya sungai tidak terganggu oleh  limbah tailing Freeport, masyarakat bisa melalui sungai yang kini sudah hilang dan  menjadi daratan," kata Adolfina.

Reporter: Sevianto Pakiding
Editor: Aditra

 

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
INFOGRAFI IGbar
BERITA TERKAITbar
BERITA VIRALbar
BERITA UTAMAbar
BERITA PILIHANbar
BERITA POPULERbar