Di Nabire, Ibu Tiri Aniaya Anak Hingga Tak Berdaya

Di Nabire, Ibu Tiri Aniaya Anak Hingga Tak Berdaya
Polres Nabire usai melakukan press release kasus kekerasan terhadap anak. (Foto: Ist/SP)

TIMIKA | Nayla Nuryani seorang bocah berusia lima tahun terpaksa harus dirawat dengan kondisi tidak berdaya di RSUD Nabire setelah dianiaya oleh ibu tirinya Eni Sutisna (48). Kejadian ini terjadi pada Senin (2/12) lalu di rumah pelaku, Jalan Yan Mamoribo Smoker, Kelurahan Siriwini, Distrik Nabire, Nabire.

Kasat Reskrim Polres Nabire, AKP Dionisius VDP. Helan menjelaskan,  penganiayaan ini berawal pada Senin malam, Nayla yang tidur sendiri di dalam kamarnya merasa ingin buang air besar. Namun, Ia tidak berani keluar dari kamar ke kamar mandi karena takut dengan pelaku yang saat itu sedang tidur di ruang tengah.

Karena takut, Nayla kemudian buang air di celana dan menyimpan kotorannya di dalam tumpukan pakaian bersih. Ibu tirinya yang sedang tidur mencium bau kotoran dan kemudian mencari di dalam kamar dan mendapatinya di dalam tumpukan pakaian.

"Pelaku marah dan lalu memukul wajah korban sebanyak satu kali dengan tangan terbuka dan kena di wajah bagian mata tapi korban dilarang menangis agar tidak terdengar oleh kakak dan adik korban di kamar depan," kata AKP Dion usai melakukan press release di Polres Nabire kepada Seputar Papua melalui pesan singkat WhatsApp, Selasa (10/12).

Keesokan harinya, Nayla bangun dengan keadaan mata lebam dan membiru di sekitar mata dan mengalami demam tinggi.
Eni Sutisna kemudian mengaku bahwa korban dipukul oleh roh gaib di dalam rumahnya dan menyuruh korban untuk mengakui hal yang sama. 

Karena panik dengan keadaan anak tirinya yang semakin parah, Eni kemudian menghubungi suaminya Johardin Sanarari yang saat itu sedang bekerja untuk pulang dan melihat kondisi anaknya. Kepada tetangga, Eni mengakui Nayla dipukul oleh roh gaib, namun tetangga menyarankan Eni untuk membawa korban ke RSUD Nabire untuk ditangani pihak medis.

IKLAN-TENGAH-berita

 "Pada saat anggota ke RSUD, korban dalam penanganan medis dan kedua mata korban biru lebam dan menggunakan nafas bantu dari tabung oksigen, memakai kateter Karen belum bisa bangun melakukan aktifitas," katanya.

Eni yang sehari-sehari bekerja sebagai ibu rumah tangga ini menikah dengan Johardin dan memiliki anak yang berusia sebaya dengan Nayla.

Mantan Kasat Reskrim Polres Mimika ini mengungkapkan, Nayla kerap mendapatkan tindakan kekerasan sejak tinggal bersama ibu tirinya itu.

"Korban kerap kali mendapat tindakan kekerasan sejak pindah ke Nabire di karenakan pelaku marah dan emosi setiap kali melihat korban. Pelaku selalu teringat akan almarhum ibu dan kelurga korban sehingga pelaku emosi dan selalu melakukan kekerasan tersebut terhadap korban," ungkapnya.

Atas perlakuannya, Eni diancam dengan Pasal 76C Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

"Setiap orang di larang membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak di pidana dengan pidana penjara paling lama (3) Tiga tahun (6) bulan atau denda paling banyak Rp.72.000.000.00,-(tujuh puluh dia juta rupiah) di tambah sepertiga dari ketentuan karena yang melakukan Penganiayaan tersebut orang tuanya" jelas Dion.

 

Reporter: Anya Fatma
Editor:Misba

 

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
INFOGRAFI IGbar
BERITA TERKAITbar
BERITA VIRALbar
BERITA UTAMAbar
BERITA PILIHANbar
BERITA POPULERbar