Ignatius Adii: Penghapusan UN Ada Dampak Untung dan Rugi

Jumat, 13 Des 2019 22:34 WIT
Ignatius Adii (Foto: Anya Fatma/SP)

TIMIKA | Penghapusan Ujian Nasional oleh Menteri Pendidikan Nadiem Makarim menuai tanggapan dari banyak pihak. 

Pemerhati pendidikan Kabupaten Mimika, Ignatius Adii menyebutkan, penghapusan ujian nasional ini memberikan dampak untung dan rugi.

Adii menjelaskan, keuntungan dari dihapusnya ujian nasional yang merupakan kebijakan Kemendikbud ini merupakan penghematan biaya serta meringankan operasional sekolah khususnya yang berada di pinggiran hingga ke daerah pedalaman.

Menurutnya, saat ini UN mengarah ke ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Sebelumnya juga sering dilakukan perubahan kurikulum.

"Sehingga sekolah-sekolah di pedalaman itu guru-gurunya tidak berubah, tapi kurikulumnya berubah," katanya di salah satu hotel di Jalan Cenderawasih, Timika, Jumat (23/12).

Sedangkan, lanjut Adii, kerugian dari penghapusan ini ialah tidak bisa mengukur dan juga mengawasi sudah sejauh mana sekolah benar-benar menjaga kualitasnya. Kualitas dimaksud diantaranya, proses pembelajaran, perawatan, pengembangan serta kualitas kelulusan dari sekolah itu sendiri.

"Suatu kebijakan itu tentunya ada untung dan rugi. Sekarang UN itu sudah dilaksanakan dengan sistim UNBK, jadi wajar saja berubah. Tapi di satu sisi, akan kesulitan dalam mengawasi kualitas pendidikan di sekolah," katanya.

Kualitas yang dimaksud menurutnya berlaku hanya di sekolah-sekolah yang berada di pusat kota yang mana dinas pendidikan pada kota tersebut dengan kinerja Kepala Dinas, Kepala Bagian serta pengawas yang baik. 

Selain itu, kualitas pendidikan identik dengan kualitas guru. Lanjutnya, jika guru berkualitas maka siswa juga sudah tentu berkualitas.

Lebih lanjut Adii menyebutkan, kerugian dari penghapusan ujian nasional ialah hilangnya kualitas psiko motorik, karena tidak ada lagi pengawas yang terlibat karena tidak semua mengetahui apa yang harus dilakukan.

"Selain itu banyak pegawai dinas yang merasa proyeknya hilang. Pelaksanaan UNBK saja saat ini banyak yang kecewa karena anggarannya tidak banyak. Sekarang HP saja bisa digunakan untuk UN. Berarti tidak ada lagi anggaran khsusus untuk pengadaan kertas, biaya pengawas dan yang lainnya," tuturnya.

Menurutnya, saat ini banyak masyarakat keliru bahwa seolah-seolah kualitas pendidikan itu diukur  dari sarana dan fasilitas di sekolah. Padahal kualitas pendidikan sebenarnya dinilai dari aspek pengetahuan, keterampilan dan psiko motorik.

"Contohnya adalah tidak semua orang hebat mau bertahan jalani profesi sebagai jurnalis. Tidak semua anak muda mau tekuni satu profesi, karena mungkin pengetahuan yang didapat tidak identik dengan apa yang mereka lakukan. Pengetahuan itu harus seimbang dengan keterampilan. Kalau jurnalis itu keterampilannya dalam menulis berita," katanya.

 

Reporter: Anya Fatma
Editor: Misba

 

 
Kategori:
Bagikan