Aksi Tolak Investasi Jilid II, Masyarakat Adat Kembali Demo ke DPRD Merauke

Aksi Demo Jilid II Masyarakat Adat Suku Kimahima dan Maklew di Gedung DPRD Merauke menolak investasi perkebunan tebu di Pulau Kimaam, Merauke, Papua Selatan, Jumat (21/6/2024). (Foto: Hendrik Resi/Seputarpapua)
Aksi Demo Jilid II Masyarakat Adat Suku Kimahima dan Maklew di Gedung DPRD Merauke menolak investasi perkebunan tebu di Pulau Kimaam, Merauke, Papua Selatan, Jumat (21/6/2024). (Foto: Hendrik Resi/Seputarpapua)

MERAUKE, Seputarpapua.com | Aksi penolakan masuknya investasi di Pulau Kimaam, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan kembali disuarakan masyarakat adat Suku Kimahima (Kimaam) dan Maklew (Ilwayab) dengan mendatangi Kantor DPRD Merauke, Jumat (21/6/2024).

Sepekan sebelumnya, Kamis, 13 Juni 2024, aksi serupa telah dilakukan dengan membawa delapan poin pernyataan sikap yang merupakan tuntutan dari masyarakat adat Suku Kimahima dan Maklew.

Kali ini, masyarakat adat kedua suku menduduki Kantor DPRD Merauke dari pukul 09.30 hingga 16.30 WIT. Mereka, lagi-lagi menggelar orasi penolakan investasi perkebunan tebu di Pulau Kimaam yang diakhiri dengan penandatanganan petisi di atas kain putih sepanjang 10 meter.

Aksi penolakan investasi perkebunan tebu jilid II ini disampaikan dalam tiga poin pernyataan sikap. Pertama, masyarakat adat Suku Kimahima dan Maklew menolak perusahaan di wilayah tanah adat Pulau Kimaam.

Kedua, masyarakat adat Kimahima dan Maklew mendesak Bupati Merauke segera mengeluarkan surat resmi tentang tidak adanya investasi di Kimaam dan Maklew.

Ketiga, masyarakat adat Suku Kimahima dan Maklew mengingatkan apabila kedua poin di atas tidak diindahkan, maka mereka akan datang kembali dengan jumlah massa yang lebih besar lagi.

Koordinator Lapangan Aksi Masyarakat Adat Kimahima dan Maklew, Idelfonsius Cambu mengatakan, aksi jilid II sedikit mendapatkan hasil yang jelas dibandingkan aksi penolakan jilid I sebelumnya. Pihaknya akan terus melakukan aksi berikutnya (jilid III) hingga mendapatkan keputusan yang tidak merugikan masyarakat Kimahima dan Maklew.

“Pertemuan ketiga kalinya nanti akan kami lakukan di MRP Papua Selatan. Kita juga minta kejelasan dari kepala daerah, Bupati Merauke maupun kepala wilayah, dalam hal ini Pj Gubernur Papua Selatan untuk memberikan keterangan kepada kami, apakah benar perusahaan akan masuk di Pulau Kimaam atau tidak,” kata Idelfonsius Cambu kepada awak media.

“Kenapa kami harus datang? Karena berdasarkan surat edaran Bupati Merauke yang menyatakan bahwa beliau meminta helikopter dan sebuah kapal ke Kementerian untuk pengambilan sampel di wilayah Kimahima dan Maklew. Itu yang menjadi pertanyaan, ada apa dengan pengambilan sampel itu. Sementara ada isu besar masuknya investasi tebu dan bioetanol,” sambungnya.

Masyarakat adat, kata Idelfonsius Cambu, telah mendapatkan jawaban dari dinas terkait bahwa belum ada satu pun izin yang dikeluarkan tentang investasi yang masuk ke Pulau Kimaam.

“Tetapi kami tetap komitmen untuk menyuarakan, sampai kami bertemu dengan kepala daerah, dalam hal ini Bupati dan Pj Gubernur untuk memastikan bahwa benar-benar tidak ada investasi yang masuk ke sana,” tegasnya.

“Dasar penolakan kami, pertama, Pulau Kimaam ini adalah tanah endapan, di mana dataran tinggi itu ada di bibir pantai. Sementara di tengah kebanyakan rawa-rawa. Tidak ada pohon, cuma rumput rawa saja di sana. Ketika perusahaan mau masuk di sana, kami mau tinggal dimana?,” imbuhnya.

Advertisements

Menurutnya, jika perusahaan masuk ke Pulau Kimaam, maka mengancam keberlangsungan hidup masyarakat adat yang masih menggantungkan mata pencarian dari sumber daya alam.

“Masyarakat di sana hidup dan makan dari rawa. Mereka takut lingkungan dicemari. Mereka pergi berburu dan cari makan di rawa. Masyarakat Kimaam merasa terancam sehingga harus menolak dengan tegas kehadiran investasi,” pungkasnya.

penulis : Hendrik Resi
editor : Saldi Hermanto

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan