seputarpapua.com

Aktivis HAM Sebut Jokowi Tak Berniat Selesaikan Masalah Papua, Mengapa?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Jenazah Yonatan Renden, guru yang tewas tertembak di Beoga, Kabupaten Puncak dievakuasi ke Timika pada 10 April 2021.
Jenazah Yonatan Renden, guru yang tewas tertembak di Beoga, Kabupaten Puncak dievakuasi ke Timika pada 10 April 2021.

TIMIKA | Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua Theo Hesegem menilai Presiden Joko Widodo telah gagal dan tak punya niat baik menyelesaikan masalah keamanan dan krisis kemanusiaan di Papua.

“Presiden Ir. Joko Widodo tidak punya niat baik untuk menyelesaikan persoalan Papua melalui dialog yang bermartabat dan berwibawa,” kata Hesegem kepada Seputarpapua,com Senin (19/4/2021).

Theo menyayangkan sikap Presiden Jokowi yang justru mengaminkan operasi penegakan hukum terus berlanjut di Papua dan menelan banyak korban jiwa. Jokowi, menurut dia, tidak belajar dari kegagalan operasi penegakan hukum yang berlangsung sejak 2018.

“Operasi penegakan hukum menurut saya sudah gagal selama berlangsung. Artinya kalau kita bicara penegakan hukum, berarti pelaku-pelaku yang melanggar hukum ditangkap. Tetapi nyatanya tidak seperti itu,” kata dia.

Ia mengatakan, kekerasan di Papua berlangsung sejak 2018 di Kabupaten Nduga, kemudian bergeser ke Intan Jaya dan Puncak. Siklus kekerasan di Papua pun semakin meningkat dan sulit untuk dikendalikan oleh siapa pun.

“Sekalipun operasi dilakukan oleh aparat, saya pikir pemerintah daerah telah mengetahui kondisi ril konflik kekerasan di Papua, tetapi tidak ada langkah satu pun yang dilakukan untuk mengendalikan situasi ini,” katanya.

Menurut dia, ketidakmampuan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam menangani persoalan konflik berkepanjangan ini, membuat Papua kehilangan dua tenaga pendidik di Puncak dan sejumlah warga sipil tewas sia-sia.

Kondisi ini pun memaksa Theo Hesegem menyurat kepada Gubernur Papua pada tanggal 11 April 2021 dan mendesaknya segera membentuk tim independen untuk melakukan investigasi khusus terkait penembakan dua guru di Beoga, Kabupaten Puncak.

“Terkait dengan penembakan terhadap dua guru dan sejumlah warga sipil di Kabupaten Puncak, dibutuhkan langkah-langkah kongkrit dari pemerintah pusat dan daerah,” kata Theo.

Berita Terkait
Baca Juga