Atlet Bulutangkis Paralimpik ini Ingin Bangun Pusat Olahraga di Solo

KONFERENSI PERS | Atlet Peparnas XVI Papua cabor Bulu Tangkis Leani Ratri Oktila saat melakukan konferensi pers bertajuk "Mengejar Prestasi, Meraih Mimpi" di Media Center Kominfo Peparnas XVI Papua, Jayapura, Minggu (7/11/2021). (Foto/ InfoPublik/Ryiadhy BN)
KONFERENSI PERS | Atlet Peparnas XVI Papua cabor Bulu Tangkis Leani Ratri Oktila saat melakukan konferensi pers bertajuk "Mengejar Prestasi, Meraih Mimpi" di Media Center Kominfo Peparnas XVI Papua, Jayapura, Minggu (7/11/2021). (Foto/ InfoPublik/Ryiadhy BN)

TIMIKA | Peraih dua medali emas dan sekeping perak cabang bulu tangkis pada ajang Paralimpiade Tokyo 2020, Leani Ratri Oktila telah menyiapkan sejumlah rencana jika suatu saat dirinya gantung raket.

Salah satu rencana tersebut adalah membangun sebuah fasilitas olahraga lengkap di Kota Solo, Jawa Tengah.

Ratri, panggilan akrabnya, akan mengikuti jejak legenda bulu tangkis Indonesia seperti Taufik Hidayat, Candra Wijaya, Sony Dwi Kuncoro, dan sejumlah nama lainnya yang telah membangun pusat olahraga. Serta pembinaan atlet usia dini usai pensiun sebagai atlet.

Demikian dikatakan Ratri usai mengikuti konferensi pers di Media Center Kominfo Peparnas Papua di Swiss-belhotel Papua, Kota Jayapura, Minggu (7/11/2021).

Menurut Ratri, gedung olahraga (GOR) itu akan berstandar internasional dan diutamakan bagi para penyandang disabilitas di Solo, kota kelahiran Presiden Joko Widodo.

Kendati lahir dan besar di Riau, atlet putri terbaik Federasi Bulu Tangkis Dunia, Ratri lebih memilih Solo. Ini karena, dia melihat potensi atlet-atlet disabilitas banyak terdapat di kota yang terkenal dengan batik tulisnya itu.

Ia ingin muncul lebih banyak lagi bibit atlet disabilitas dan mampu menciptakan prestasi jauh lebih baik dari dirinya. Ia menargetkan pusat olahraga itu juga bisa menjadi tempat pembinaan atlet usia dini dari penyandang disabilitas, terutama untuk cabang bulu tangkis.

“Saya ingin ada sebuah pusat olahraga mengkhususkan diri bagi pengembangan bakat para penyandang disabilitas, terutama mereka yang berkursi roda. Fasilitas seperti bisa dibilang masih sangat sedikit. Kenapa tidak di Riau? Salah satunya karena di sana pemerintah setempat sudah menyiapkan bangunan serupa usai saya dari Paralimpiade Tokyo 2020,” kata atlet kelahiran Bangkinang, Kampar, 6 Mei 1991.

Juara Asian Paragames 2018 ini akan turun di nomor tunggal putri klasifikasi SL4 pada Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) 2021 di Papua.

Peringkat pertama dunia tunggal putri parabulu tangkis BWF ini mengincar sekeping emas untuk dibawa pulang ke Riau. Di nomor ini, ia diperkirakan akan berjumpa dengan Khalimatus Sadiyah di partai final.

Khalimatus yang membela kontingen Jawa Timur adalah pasangannya ketika merebut emas di final ganda putri klasifikasi SL3-SU5 Paralimpiade Tokyo 2020. Mereka merupakan ganda putri terbaik dunia saat ini.

“Meskipun kami bersahabat di lapangan dan luar lapangan, ketika turun di nomor tunggal di Peparnas Papua, maka kami akan saling mengalahkan,” kata pemilik tiga gelar juara dunia ini.

Juara dunia tunggal putri pada Kejuaraan Dunia Parabulu Tangkis 2019 di Basel, Swiss itu sepakat dengan pola pembatasan atlet disabilitas berkelas internasional hanya boleh main di satu nomor. Lantaran ini sebagai bentuk regenerasi dan memberi kesempatan atlet-atlet lain untuk merebut prestasi yang lebih baik. (Media Center Peparnas XVI Papua)

editor : Mujiono

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.