BBM Naik, Pedagang Bakso Bermotor di Timika tak Bisa Naikan Harga Bakso

Wahyu, pedagang bakso bermotor di Timika (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)
Wahyu, pedagang bakso bermotor di Timika (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)

TIMIKA | Naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) turut dirasakan oleh masyarakat, salah satunya adalah pedagang bakso bermotor di Timika, Provinsi Papua Tengah.

Pedagang bakso keliling, setiap hari hanya bisa menjajakan dagangannya dengan menggunakan kendaraan bermotor roda dua yang membutuhkan BBM.

Wahyu misalnya, seorang pedagang bakso yang setiap hari berkeliling di kota Timika, SP2-SP3 hingga SP5 ini mengaku sangat merasakan dampak dari kenaikan harga BBM.

“Untuk kami pedagang setiap hari pakai motor terasa sekali dampaknya, biasanya sehari habiskan bensin 2 sampai 3 liter, sekarang BBM naik, otomatis harus keluarkan anggaran lebih lagi,” kata Wahyu kepada Seputarpapua.com, Selasa (6/9/2022).

Dijelaskan, ia jarang mengantri di SPBU sebab ia biasa membeli di pedagang eceran yang harga Rp10 ribu masih bisa dijangkau dan mudah ditemui.

“Sekarang terasa sekali karena kalau beli eceran yang Rp10 ribu sudah tidak bisa dapat lagi karena ada yang jual Rp18 ribu bahkan sampai Rp20 ribu,” ungkapnya.

Pria yang memiliki dua anak ini, setiap hari menjual bakso milik bosnya, dimana motor tersebut juga adalah milik bosnya, namun untuk bensin, menjadi tanggung jawab-nya untuk mengisi setiap hari.

Meskipun kini ia harus berjuang ditengah naiknya BBM, namun ia tak bisa menaikan harga baksonya.

“Mungkin karena tidak kompak, maksudnya satu Timika kan banyak penjual keliling coba kalau ada kekompakan, ada wadah untuk naikan harga mungkin bisa, tapi kalau sendiri-sendiri tidak bisa naikan. Cuman ya begitu kalau tidak naik resikonya pemasukan tentu akan kurang, tapi mau apa lagi, tetap semangat jualan bakso,” ungkapnya.

Selain itu, saat ini banyak sekali persaingan karena banyaknya pedagang bakso keliling dan warung-warung bakso sehingga agak kesulitan jika harga bakso dinaikan. Harga bakso yang dijual adalah Rp15 ribu namun jika ada pembeli yang minta harga Rp10 ribu tetap dilayani.

“Sekarang saja kalau untuk 50 porsi masih dapatlah, dulu istilahnya 150 porsi masih enteng karena penjual juga belum banyak. Sekarang susah capai target apa lagi semua serba naik begini, sekarang juga banyak warung, saingan keliling juga banyak,” ungkapnga.

Selama tahun 2018 ia menjadi penjual keliling dan menetap di Mimika tepatnya di Jalan Ahmad Yani, dirinya mengaku belum pernah mendapatkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) atau bantuan lainnya dari program pemerintah.

“Belum pernah dapat BLT, makanya yang BLT BBM juga mungkin tidak dapat,” pungkasnya.

 

Tanggapi Berita ini
reporter : Kristin Rejang
editor : Felix

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.