Besok, Direncankan Korban Mutilasi Dikremasi di Jalan Masuk KM 11 Kampung Kadun Jaya

Karel Gwijangge
Karel Gwijangge

TIMIKA | Potongan tubuh korban pembunuhan disertai mutilasi yang terjadi di Mimika, Papua Tengah, rencananya  dikremasi atau dibakar, pada Jumat (16/9/2022) besok.

Tempat kremasi menurut rencana dilakukan di jalan masuk Kilometer (Km) 11, Kampung Kadun Jaya, Distrik Wania.

Hal ini disampaikan Karel Gwijangge selaku keluarga korban.

Dikatakan Karel, hingga Kamis (15/9/2022) potongan tubuh korban mutilasi masih disimpan di ruang jenazah RSUD Mimika, pasca pihak Kepolisian mengumumkan hasil identifikasi DNA, pada Selasa (13/9/2022) lalu.

“Walaupun demikian, potongan tubuh lainnya sampai sekarang belum ditemukan, seperti 4 kepala, seluruh kaki, dan sebagian tangan,” kata Karel di Kantor DPRD Mimika, Kamis (15/9/2022).

Menurut Karel, meski sempat terjadi perdebatan, namun telah disepakati potongan tubuh korban akan dikremasi di jalan masuk Km 11.

Sedangkan, untuk pengambilan potongan tubuh korban di kamar jenazah akan dilakukan besok pukul 09.00 WIT.

Karel mengakui, pihak keluarga memutuskan untuk melakukan kremasi karena sebagai bentuk protes, sebab korban dibunuh secara tidak manusiawi.

Dan, kata Karel, yang dikremasi itu bukan tubuh atau mayat, tapi hanya potongan tubuh. Sedangkan tempat kremasi di daerah tersebut untuk meredam amarah atas pembunuhan keji ini.

Kerel pun mewakili keluarga korban mengimbau kepada masyarakat untuk memperhatikan semua proses.

Apalagi dari awal peristiwa ini terjadi, keluarga korban mempercayakan kepada aparat keamanan untuk proses hukum seadil-adilnya dan tidak melakukan hal apapun.

Walaupun sejak peristiwa ini terjadi, banyak sekali muncul isu-isu di lapangan, dan telah dibantah pihaknya.

“Ini pembunuhan keji, tapi kami percaya penegak hukum bisa melakukan ini secara adil-adilnya,” tegasnya.

*Keluarga Tanya Motif*

Karel menambahkan, pihak keluarga sampai sekarang masih menanyakan motif kasus tersebut. Karena hampir hasil BAP dari pelaku, keluarga korban menolak.

Dengan alasan, mana mungkin masyarakat sipil bisa kendalikan perwira menengah untuk melakukan pembunuhan sampai kepada mutilasi.

Hasil rekonstruksi, BAP disebutkan bahwa Roy yang sedang buron ini adalah otak dari peristiwa. Pihak keluarga tidak percaya sama sekali, karena seorang sipil memerintah perwira menengah.

“Kami mau ini harus jelas, peran dari masing-masing pelaku. Si A perannya ini, B ini, dan seterusnya,” ujarnya.

Karenanya, peristiwa ini harus dibuka setransparan mungkin. Karena keluarga tidak melakukan tindakan apapun dan lebih mempercayakan kepada penegak hukum.

“Jadi kami mau para pelaku dihukum semaksimal mungkin atas perbuatannya. Ini sangat ditekankan, karena jangan sampai muncul tindakan ala Papua. Ini harus dijaga, agar orang tidak bersalah tidak jadi korban,” tuturnya.

 

Tanggapi Berita ini
reporter : Mujiono
editor : Aditra

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.