Billy Mambrasar: Glenn Fredly, Inspirator Generasi Muda Indonesia Timur

Billy Mambrasar (Foto: Ist/SP)
Billy Mambrasar (Foto: Ist/SP)

TIMIKA | Almarhum penyanyi Glenn Fredly yang meninggal Kamis (9/4 dimata Staf Khusus Presiden RI, Billy Mambrasar merupakan inspirator generasi muda Indonesia Timur.

Berikut penjelasan Pendiri Yayasan Kitong Bisa dan Duta SDGs Youth Asia-Pacific, Gracia Billy Mambrasar, kenapa Glenn Fredly menjadi inspirator baginya seperti dalam rilis yang dikirim ke Seputarpapua.com.

Masih teringat sekitar tahun 2005 hingga 2007 di Kota Kembang Bandung, saat itu dirinya masih menjadi mahasiswa Sarjana di ITB, dan menjadi penyanyi jalanan yang juga manggung dari kafe ke kafe untuk mencari sesuap nasi.

Lagu-lagu yang diciptakan Penyanyi dan Musisi idolanya, Glenn Fredly, yang selalu dibawakan, mulai dari, Januari, Kasih Putih, Akhir Cerita Cinta, hingga lagu etnik ambon yang dipopulerkan beliau, seperti: Rame-rame dan Toki-toki Gaba-gaba.

“Masih teringat jelas kala tampil di kampus, atau di jalan saat mengamen dan di Kafe saat manggung, saya menggunakan baju putih, dengan jaket “ngatung”, topi ala pelukis Italia, dan satu anting menempel di telinga kanan saya. Semuanya terinspirasi dari gaya berpakaian Glenn Fredly saat itu,” kenang Billy.

Mukanya yang coklat gelap, dengan raut wajah Indonesia timur, badan cungkring dan senyum lebar dengan rahang khas Papua, semakin memperkuat asosiasi Billy dengan Penyanyi asal Maluku tersebut.

Glenn saat itu, bukan hanya menjadi inspirasi bernyanyi dan bermusik baginya. Akan tetapi, lebih dari itu, keberadaannya membuat Billy, anak Indonesia Timur, yang saat itu sedang berjuang di tanah rantau dan jauh memiliki kepercayaan diri kembali, untuk terus berjuang meraih cita dan mimpi.

“Kemunculan Glenn menjadi oase energi untuk meraih cita-cita bagi saya di tengah-tengah glorifikasi role model dan figur publik Indonesia, yang sebagian besar berwajah Melayu atau Oriental ala-ala Nicholas Saputra atau Afgan, yang sulit saya jadikan inspirasi dan asosiasi, karena saya merasa, saya tidak setampan dan semeyakinkan mereka,” ujar Billy.

Rambut ikal Glen Fredly kala itu (sebelum kemudian dia lebih sering memakai Topi), rahang tirusnya, membuat dirinya yang sering panggil : “Kribo” dan “Monyong”, yang awalnya mengaitkan kedua panggilan tersebut dengan ejekan, berubah seketika rasanya, ketika mendengar kedua kata tersebut bak menerima sanjungan.

Warna kulit Glenn Fredly yang gelap, mengubah pandangannya bahwa hitam juga ternyata macho dan keren.

“Awal-awalnya ketika saya dipanggil “Si Billy Hitam”, saya akan menunduk dan berlari, malu dan rendah diri. Kemudian, tampilah seorang Glenn Fredly, saya akan menoleh dan tersenyum ramah sambil merespons panggilan tersebut dengan hati yang positif,” tuturnya.

Tahun 2006 adalah tahun dimana sebuah film yang sangat memotivasi hasil karya produser asal Indonesia Timur, Ary Sihasale keluar di bioskop dan memenangkan beberapa kategori piala citra.

Film tersebut berkisah tentang perjuangan seorang anak Papua di pegununganyang bernama Denias, menempuh pendidikan setinggi-tingginya.

Pemeran film tersebut adalah Albert Fakdawer, putra Asli Papua, yang juga adalah seorang penyanyi. Sebelumnya sempat berkolaborasi dengan Glenn Fredly, meluncurkan lagu, “Salam Bagi Sahabat”. Kekompakan mereka berdua di video clipnya dan kesuksesan lagu tersebut menjadi trending kala itu, semakin mengangkat energi Billy untuk percaya kembali kepada diri dan asalnya.

Tahun lalu, ketika terjadi sebuah insiden berbau rasisme, yang mendorong kampanye-kampanye: “Saya Cinta Papua” di seluruh Indonesia, Glenn Fredly mengadakan sebuah konser kemanusiaan.

Dengan bertopi dan beraksesoris Papua, Glenn Fredly bernyanyi lagu etnik Ambon dan Papua dan berpidato singkat.

Dalam narasinya, Glenn menyatakan rasa cinta kasihnya untuk Papua dan berdoa yang terbaik bagi persatuan dan kesatuan bangsa.

“Baru kali itu saya melihat, kemampuan retoriknya yang luar biasa, yang menambah daftar panjang alasan saya mengagumi sosok satu ini,” kata Billy.

Bung Glenn Fredly, demikian biasanya beliau disapa, telah menjadi panutan bagi anak-anak seperti Billy. Beliau lebih dari sekadar seorang penghibur, akan tetapi juga inspirator yang memberikan pesan secara tidak langsung. “Berkaryalah, maka kamu akan memperoleh penghargaan”

Glenn memberikan motivasi yang menjadi nilai yang pegang Billy hingga hari ini.

“Bahwa karya kita harus menghasilkan dampak positif bagi seluruh masyarakat Indonesia dan itu jauh lebih penting dari seperti apa warna kulit kita, bentuk muka, atau jenis rambut kita, dan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama, untuk dapat mendapatkan penghargaan dan pengakuan tersebut, dan lebih lagi, menjadi inspirasi untuk orang lain.

“Terimakasih sang Maestro Maluku, Putra Indonesia, sang Inspirator dari ufuk timur Indonesia yang membuat anak-anak Indonesia Timur percaya bahwa kita semua di Nusantara ini Sejajar. Sosok yang telah mengajarkan saya sebuah pesan tentang hidup yang saya bawa selamanya. Pergilah dalam Damai, Tuhan akan menyediakan tempat yang terbaik untukmu di seberang sana,”kata Billy.

Reporter: Mujiono
Editor: Misba Latuapo

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
INFOGRAFI IGbar
BERITA TERKAITbar
BERITA VIRALbar
BERITA UTAMAbar
BERITA PILIHANbar
BERITA POPULERbar