Buah Tangan Papua dari Ketinggian 2.150 Mdpl

Foto: InfoPublik.id

Sebelum Festival Kopi 2018 itu, kopi dari Tiom belum mendapat perhatian publik. Lantaran itulah, kopi itu juga belum menjadi komoditi kopi yang diburu. Kala itu kopi asal Papua yang sudah beken adalah kopi dari Monemane dan kopi khas wamena. Boleh jadi, itu karena secara geografis, Monemane dan Wamena terletak di dataran yang lebih rendah dibandingkan Tiom.

Kendati baru dikenal belakangan, konon kopi asal Tiom sudah mulai ditanam sejak 1960-an, atau bersamaan dengan masuknya misionaris ke kawasan Pegunungan Tengah Papua. Diketahui, selain menyebarkan agama, kedatangan para misionaris sekaligus mengenalkan budi daya pertanian dan pendidikan.

Penggiat kopi asal Tiom, yakni Denny Jigibalom mengisahkan, berpuluh-puluh tahun lalu pohon kopi di Tiom hanya hidup dan berbuah. Namun, masyarakat tidak mengerti bagaimana cara mengolah dan menjualnya. Maklum saja, saat itu, akses transportasi ke Wamena hanya pesawat atau jalan kaki. Perjalanan dengan jalan kaki ke Wamena, memerlukan waktu beberapa hari, dan jadwal pesawat tidak tertentu.

Baru pada 1980-an, ketika Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) menggerakkan lagi budi daya pertanian, kopi dari Tiom itu menjadi salah satu komoditas pilihan. Lalu, dibentuklah beberapa kelompok petani dan mereka bercocok tanam didampingi BPTP. Tradisi berkebun masyarakat pegunungan membuat pertanian berkembang baik. Di masa itu hingga tahun 2000 awal, kawasan pegunungan terkenal dengan penghasil sayur. Dan lagi-lagi kopi menjadi komoditi yang tidak menarik, sehingga dilupakan petani.

Ketika kopi mulai booming, beberapa tahun lalu, tanaman kopi di Tiom tinggallah sisa-sisa. Dalam kondisi itulah, Denny Jigibalom dan kawan-kawan mengawali kebangkitan budi daya kopi tiom. Bekas pilot tersebut, dibantu rekan-rekan semasa kuliahnya di Bandung, menjadikan kopi tiom sebagai brand. Mereka pun mulai gencar melakukan pengurusan perizinan, mencari peluang pasar, dan bantuan modal.

Denny sendiri memulai pengadaan kopi dari petani yang masih punya hubungan keluarga dan juga ada Kelompok Tani Makmur, di Kampung Unom, Distrik Nogi, Kabupaten Lanny Jaya. Denny juga mengajari para petani kopi agar mampu menjaga kualitas kopinya, mulai dari pengolahan kopi, termasuk pengeringan, roasting, dan pengemasan. Untuk kegiatan itu, Denny melibatkan anak-anak muda setempat yang sudah selesai atau putus sekolah.

Persoalan sempat muncul. Tatkala untuk menjaga konsistensi produksi dan distribusi kopi, ada kendala pada persoalan ketidakstabilan harga BBM dan jaringan sinyal. Maklum, jarak tempuh dari Gunung Susu, di pinggiran Kota Wamena, tempat Denny mengolah kopi, ke Tiom sekitar 74 kilometer. Dengan kondisi jalan yang melintasi pegunungan dan sebagian belum beraspal, waktu tempuh bisa menjadi tiga jam lamanya.

Saat ini kopi tiom sudah kondang di kalangan penggiat kopi. Bertani kopi terbukti dapat menjadi peluang untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat di pegunungan. Karena permintaan pasar kopi tiom cukup tinggi, Denny bahkan acap tak bisa memenuhi permintaan karena keterbatasan luas kebun kopi dan jumlah petani kopi.

Kopi tiom kini juga sudah masuk pasar online. Di toko online, roasted bean (kopi sangrai) tiom dijual Rp250.000 hingga–Rp300.000 per 200 gram. Cuma kadang, komoditi ini tidak tersedia karena kehabisan stok.

Di perhelatan PON kali ini, pedagang kopi tiom menjajakan rasa kopinya dengan berkeliling ke venue-venue pertandingan. Mereka mempromosikan kopi tiom sebagai oleh-oleh khas Papua.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.