Cakalele Hingga Lantunan ‘Hena Masa Waya’ Iringi Obor Pattimura di Timika

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
CAKALELE | Tarian Cakalele oleh Komunitas Alifuru Cakalele pada peringatan Hari Pattimura di Mimika. Sabtu (15/5/2021). (Foto: Anya Fatma/Seputarpapua)
CAKALELE | Tarian Cakalele oleh Komunitas Alifuru Cakalele pada peringatan Hari Pattimura di Mimika. Sabtu (15/5/2021). (Foto: Anya Fatma/Seputarpapua)

Parang dan Salawaku berdenging bersamaan dengan musik dari tifa dan tahuri mengiringi tarian cakalele yang dibawakan oleh pemuda-pemuda Maluku.

Siang itu, terik matahari semakin membakar semangat para pemuda yang mengenakan celana berwarna merah dan kain berang di kepala.

Tarian cakalele dibawakan untuk mengawal obor Pattimura yang sebelumnya telah dibawa oleh pemuda lainnya atau biasa dikenal dengan prosesi lari obor.

Lari obor dan tarian cakalele ditampilkan pada peringatan Hari Pattimura ke 204 Tahun di Kota Timika, Papua, Sabtu (15/5/2021).

Peringatan Hari Pattimura diselenggarakan oleh Komunitas Laeng Panggel Laeng (LPL) bekerjasama dengan Komunitas Alifuru Cakalele dan Komunitas Motor King Ambon, dihadiri oleh warga kerukunan-kerukunan Maluku mulai dari Maluku Tengah, Maluku Tenggara dan Maluku Utara.

Obor Pattimura yang dibawa masuk dikawal oleh pemuda-pemuda Maluku yang menari cakalele semakin mencairkan suasana dengan lantunan lagu daerah Maluku berjudul ‘Hena Masa Waya’.

Perayaan Hari Pattimura biasanya ditandai dengan prosesi lari obor yang menurut para leluhur, obor sebagai penyemangat perjuangan Kapitan Pattimura.

Pada peringatan Hari Pattimura, selalu dilakukan pembakaran obor di Gunung Saniri dan obor tersebut hanya bisa dibakar oleh anak adat Negeri Tuhaha.

 

Penyerahan dilanjutkan pembakaran Obor Pusaka oleh Ketua Ikemal sebagai lambang semangat Kapitan Pattimura.

 

Perjuangan Kapitan Pattimura

Thomas Matulessy atau yang lebih dikenal Kapitan Pattimura adalah pahlawan nasional yang namanya mahsyur karena keberaniannya melawan hingga mengusir penjajah Belanda dari Bumi Maluku.

Sebutan Kapitan Pattimura disematkan kepada pahlawan yang lahir di Saparua, Maluku, 8 Juni 1783 ini tepat pada 14 Mei 1817 oleh rakyat Saparua sebagai pemimpin pemberontakan.

Pada 14 Mei 1817, Kapitan Pattimura melakukan musyawarah besar di Gunung Saniri, Negeri Tuhaha, Maluku dengan semua Kapitan dari Pulau Ambon, Seram, Saparua, Haruku dan Nusalaut untuk menyusun strategi mengusjr Belanda dari Maluku.

Sehari setelahnya, terjadi gejolak di daerah-daerah lain di Nusa Laut, Seram dan Ambon.

Sebelum terjadi pemberontakan, Belanda telah mengajak bernegosiasi tetapi Pattimura menolak dan berkata orang-orang telah menunjuk Beta Pattimura, dengan Rahmat Tuhan maka kami tidak mau dikuasai lagi.

Dan dibawah kepemimpinan Pattimura, Benteng Durstede berhasil direbut dari tangan Belanda pada 16 Mei 1817.

Pada saat itu, semua tentara Belanda termasuk Residen Van Der Berg dan keluarganya mati, kecuali satu anaknya dibiarkan lari meninggalkan benteng Durstede.

Pattimura berjuang sekuat tenaga mempertahankan Benteng Durstede sari serangan Belanda yang datang bergantian.

Pattimura dan kawan-kawan bangkit dan berjuang melawan Belanda pada 20 Mei 1817 dan terjadi perang besar-besaran di Pantai Waisisil, Saparua.

Sayangnya penghianatan dari orang-orang di sekitarnya membuat Pattimura ditangkap pada 11 November 1817 di Sirisori, dan kemudian dihukum mati.

“Sebelum dihukum, Pattimura berseru hiduplah orang Maluku, lanjutkan pertempuran. Orang-orang akan menjadi bebas, cengkeh dan pala akan tumbuh lagi,” begitu kata Sin Wenno saat menceritakan sepenggal kisah perjuangan Kapitan Pattimura.

Nama Pattimura dan perjuangannya terus dikenang sampai pada 6 November 1973, Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Pattimura sebagai Pahlawan Nasional dan diperingati setiap tanggal 15 Mei.

 

Tari lenso yang ditampilkan pada peringatan Hari Pattimura di Timika.

 

Tarian Adat Maluku

Pada peringatan Hari Pattimura ini, ada dua tarian asal daerah Maluku yang ditampilkan yaitu tari lenso dan tari cakalele.

Tari lenso adalah tarian adat Maluku yang biasa ditampilkan saat upacara penyambutan tamu, pesta pernikahan hingga panen cengkeh.

Pada peringatan 204 Tahun Kapitan Pattimura dibawakan oleh delapan orang jujaro (anak muda perempuan) yang mengenakan baju adat kebaya putih dan kain berwarna merah yang diiringi musik.

Sedangkan tari cakalele adalah tarian perang tradisional Maluku yang juga biasa ditampilkan untuk menyambut tamu atau acara adat lainnya.

Tarian cakalele dibawakan oleh sekitar 30 pemuda Maluku dari komunitas Alifuru Cakalele menggunakan celana berwarna merah, memegang parang (Pedang) dan salawaku (perisai) dengan iringan musik pukulan tifa dan tahuri (kulit bia/kerang).

 

Foto bersama Komunitas Laeng Panggel Laeng (LPL) sebagai panitia penyelenggara peringatan Hari Pattimura di Timika.

 

Peringatan Hari Pattimura di Mimika

Pada peringatan 204 Tahun Kapitan Pattimura, dilakukan berbagai kegiatan yang biasanya dilakukan di Maluku secara umum.

Ada tari lenso, lari obor, penyambutan obor Pattimura dikawal dengan tarian cakalele dilanjutkan dengan pembakaran obor pusaka oleh Ketua Ikatan Keluarga Maluku (Ikemal) Piet Rafra dan makan patita (makan bersama).

Ketua Panitia Peringatan Hari Pattimura, Yanrie Sedubun menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang ikut menyelenggarakan peringatan ini.

Ia berharap kepada semua warga Maluku yang ada di Mimika untuk ikut berpartisipasi membantu Pemerintah membangun daerah ini.

Sementara Ketua Ikemal, Piet Rafra menyampaikan pesan kepada warga Maluku khususnya para pemuda agar tetap menghidupkan semangat Pattimura dengan hidup damai bersama.

Ia juga mengingatkan agar tidak ada yang terbawa situasi sosial, politik dan lainnya.

“Tunjukkan bahwa Maluku punya adat istiadat hidup dalam kedamaian,” pesannya.

Peringatan Hari Pattimura dilaksanakan secara sederhana di salah satu pusat rekreasi di Kota Timika dan diikuti sekitar 150 orang untuk bisa tetap menjaga protokol kesehatan.

Reporter: Anya Fatma
Berita Terkait
Video Seputar Papua TV Terbaru
1/10 videos
Empat Kepala Daerah Deklarasikan Provinsi Papua Selatan
Empat Kepala Daerah Deklarasikan Provinsi Papua Selatan
Detik-detik Kontak Tembak Aparat Gabungan TNI Polri dengan KKB di Ilaga
Detik-detik Kontak Tembak Aparat Gabungan TNI Polri dengan KKB di Ilaga
Jenazah Korban Tembak di Puncak Tiba di Timika, Bupati Wandik: Turut Berdukacita
Jenazah Korban Tembak di Puncak Tiba di Timika, Bupati Wandik: Turut Berdukacita
Bupati Puncak Ajak Kelompok Bersenjata Terbuka Agar Konflik Segera Selesai
Bupati Puncak Ajak Kelompok Bersenjata Terbuka Agar Konflik Segera Selesai
Bupati Puncak Ajak Anak Bangsa Doakan Pegunungan Tengah Papua
Bupati Puncak Ajak Anak Bangsa Doakan Pegunungan Tengah Papua
Detik detik Evakuasi Korban Penembakan di Ilaga Papua
Detik detik Evakuasi Korban Penembakan di Ilaga Papua
Seluruh Pemilik Sound System se-Mimika Bergabung, Langit Timika ‘Bergetar’
Seluruh Pemilik Sound System se-Mimika Bergabung, Langit Timika ‘Bergetar’
Prosesi Pemakaman Klemen Tinal | Bupati Puncak Beberkan Penyebab Wafatnya Wakil Gubernur Papua
Prosesi Pemakaman Klemen Tinal | Bupati Puncak Beberkan Penyebab Wafatnya Wakil Gubernur Papua
Keluarga Harap Jansen Tinal Gantikan Dua Jabatan yang Ditinggal Klemen Tinal
Keluarga Harap Jansen Tinal Gantikan Dua Jabatan yang Ditinggal Klemen Tinal
Klemen Tinal dalam Kenangan
Klemen Tinal dalam Kenangan
Baca Juga