Cerita Toleransi Hingga Masjid Berusia 56 Tahun di ‘Kota Tua’ Kokonao

Masjid An-Nur di Kokonao (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)
Masjid An-Nur di Kokonao (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)

TIMIKA | Pemandangan hijau dari hamparan pohon sagu dan bakau menjadi salah satu potensi surga wisata bahari di sepanjang pesisir Selatan Papua.

Pesisir selatan antaralain meliputi wilayah pesisir Kabupaten Mimika. Termasuk Kokonao, ibu kota Distrik Mimika Barat yang berjuluk ‘kota tua’ karena menjadi sejarah bagi Mimika.

Untuk bisa sampai di Kokonao membutuhkan waktu kurang lebih dua setengah jam lebih menggunakan speedboat dari Pomako, dengan menyusuri sungai yang bercabang dan berkelok-kelok.

Seperti daerah pesisir lainnya, jika mau menggunakan kendaraan laut harus menunggu air pasang di jam-jam tertentu.

Selain menggunakan transportasi laut, bisa juga menggunakan transportasi udara karena di Kokonao juga terdapat lapangan terbang. Ini menjadi lapangan terbang pertama Mimika didarati pesawat kala itu.

Sedikit tentang Kokonao, berasal dari kata Kaokandau dimana Kaoka artinya perempuan dan Ndau artinya dibunuh. Kampung yang memiliki nilai sejarah tinggi ini karena Kokonao pernah menjadi pangkalan militer Jepang.

Selain itu, Kokonao juga menjadi kota pendidikan Yayasan Katolik yang terkenal sejak jaman Belanda.

Di Kokonao juga masyarakat yang tinggal tidak hanya masyarakat suku asli yaitu Kamoro, namun masyarakat dari berbagai suku yang sudah lama tinggal di Kokonao untuk berdagang, bekerja sebagai guru, ASN, juga tenaga kesehatan.

Terdapat tiga rumah ibadah di Kokonao yaitu Gereja Katolik Paroki Maria Bintang Laut yang memiliki umat cukup banyak karena Kokonao merupakan basis agama Katolik, selain itu ada Gereja Kristen Injil (GKI) Jemaat Imanuel, dan satu Masjid yaitu Masjid An-Nur.

Masjid An-Nur berdiri di Kampung Kokonao sejak tahun 1966, kini telah berusia 56 tahun.

Disana terdapat 34 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di Kokonao. Mereka yang tinggal di Kokonao notabene adalah pedagang dan memiliki kios-kios, ada pula guru dan tenaga kesehatan.

Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), Nanang Hermawan yang juga berprofesi sebagai guru SMA menjelaskan ia sudah tinggal di Kokonao selama 18 tahun.

Advertisements

“Untuk sejarahnya memang yang lebih tau ada Almarhum Hj. Wahid tapi kami juga mendengar dan melihat surat pelepasan tanah masjid di Kokonao dibangun sejak tahun 1966,” kata Nanang.

Awalnya di tahun 1966, Masjid An-Nur hanya dibangun berdinding papan dan masih di lokasi yang lama yakni di desa Mimika, Kampung Kokonao.

Namun karena disana sering banjir, lalu gelap sehingga dipindahkan lokasinya di samping jalan utama.

Advertisements

Dipindahkan sekitar tahun 1981 dan dibangun permanen (beton). Namun sejak dipindahkan hingga kini hanya atap masjid saja yang diperbaiki.

“Pernah dapat bantuan juga dari Almarhum Wakil Gubernur Klemen Tinal (dulu adalah Bupati Mimika),” katanya.

“Kita disini umat muslim 34 KK, masyarakat disini nomaden artinya banyak pengusaha beli barang di Timika, pergi berbelanja, turun lagi begitu terus kadang dalam satu minggu baru bisa kembali, jadi tidak ada kepastian,” sambung dia.

Advertisements

Nanang mengungkapkan, kehidupan bertoleransi di Kampung Kokonao sangat patut dicontoh.

“Disini toleransinya paling tinggi antara tiga tempat ibadah kita tidak pernah saling mengganggu. Kita sama-sama saling menghargai,” ungkapnya.

Kondisi masjid An-Nur kini perlu ada perbaikan dimana pagar sudah mengalami kerusakan. Namun, dalam waktu dekat direncanakan akan ada pembangunan masjid yang baru.

“Nanti rencannaya akan ada pelebaran jalan jadi masjid ini akan dipindahkan agak kebelakang lagi akan ada dua tahap pembangunan,” pungkasnya.

Advertisements

Kepada Seputarpapua.com, Hj. Hamid yang merupakan jemaah di Masjid An-Nur bercerita, dulu sebelum ia berkeluarga sudah ada di Kokonao sejak tahun 1978 karena ikut dengan kakaknya berdagang.

Dari tahun 1978 tersebut hidup toleransi di Kokonao sangat erat. Masyarakat saling menerima satu sama yang lain.

“Semua sangat baik, tapi saya sempat pulang ke Makassar tahun 1985, lalu kembali lagi ke Kokonao bersama keluarga tahun 2009, tidak ada yang berubah toleransi itu tetap terjalin,” ungkapnya.

Di bulan Puasa ini, umat muslim di Kokonao meskipun jauh dari kota namun semangat berdoa dan berpuasa sangat tinggi.

“Di kota bisa makan apa saja, disini kami seadanya saja tapi semangat kami sangat luar biasa, ibadahnya, persatuan dan toleransi dengan masyarakat lainnya sangat baik,” pungkasnya.

penulis : Kristin Rejang

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan