Cuaca Ekstrem di Lanny Jaya, PMI Lakukan Assesment, 500 Lebih KK Terdampak

Ketua PMI Provinsi Papua, Zakius Degei (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)
Ketua PMI Provinsi Papua, Zakius Degei (Foto: Kristin Rejang/Seputarpapua)

TIMIKA | Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Papua telah melakukan assessment (upaya mendapatkan data/informasi) terkait cuaca ekstrem di Lanny Jaya sejak 1 Juli 2022 lalu.

Ketua PMI Provinsi Papua, Zakius Degei menuturkan berdasarkan hasil assessment diketahui ada 500 lebih Kepala Keluarga (KK) yang terkena dampak.

“Untuk bencana di sana PMI sudah melakukan asessment, ada sekitar 500 lebih KK yang terdampak, laporan kami juga sudah sampaikan ke Ketua PMI Pusat, Jusuf Kalla, mudah-mudahan dalam satu dua minggu ini PMI pusat merespon,” kata Zakius ketika diwawancarai di Hotel Horison Ultima, Selasa (9/8/2022).

Saat ini, pihaknya sementara menyiapkan beberapa kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat berdasarkan hasil assesment PMI.

“Kebetulan di gudang kita ada khususnya untuk selimut ada 500 yang tersedia terus karena disana membutuhkan bantuan air karena disana air juga tercemar sehingga mereka musti harus ambil air dari tempat lain untuk masukan kesana jadi kami ada siapkan 200 ember untuk masyarakat,” ujarnya.

Sayangnya PMI Provinsi sudah mempersiapkan kebutuhan namun masih menunggu arahan dari pusat agat ada kebutuhan lainnya yang bisa dilengkapi lalu bersama-sama mengirim bantuan ke Lanny Jaya.

Sebelumnya, Kepala Balai Besar Wilayah V BMKG Jayapura Hendro Nugroho, ST, M.Si, pada 2 Agustus 2022 telah mengeluarkan rilis dimana terjadi embun beku dan kemarau di wilayah Lanny Jaya yakni di kampung Kuyawage, Kampung Luarem, dan Jugu Nomba.

Kondisi ini mengakibatkan
masyarakat di kampung tersebut mengalami kelaparan karena hasil bercocok tanam mengalami gagal panen.

Dijelaskan BMKG telah melakukan press Conference tentang awal musim kemarau pada bulan Maret 2022 dan sesuai prakiraan BMKG di Wilayah Kabupaten Lanny Jaya yang termasuk dalam ZOM 340 awal musim kemarau terjadi pada Juni Dasarian I dengan puncak musim
kemarau juga terjadi pada bulan Juni 2022.

Dimana pada saat musim kemarau ada
beberapa hal yang terjadi diantaranya Penurunan curah hujan dikarenakan potensi pembentukan awan cenderung
tidak signifikan.

Pertumbuhan awan yang tidak signifikan juga menyebabkan suhu udara menjadi lebih dingin karena panas yang di terima dapat langsung di pantulkan kembali keluar bumi.

Udara akan terasa lebih dingin dikarenakan massa udara dari selatan yang bersifat kering dan dingin. Proses evapotranpirasi mengakibatkan tumbuhan semakin kering dan tidak dapat bertahan hidup.

“Berdasarkan analisis hujan dasarian III Juni hingga dasarian I Juli wilayah Lanny Jaya termasuk dalam kategori menengah hingga rendah dengan curah hujan antara 25 – 75 mm/dasarian,” jelas Hendro dalam rilis tersebut.

Suhu udara minimum di wilayah Jayawijaya berkisar antara 12 – 15 OC yang mana suhu udara di wilayah Lanny Jaya dapat lebih rendah karena perbedaan ketinggian antara Lanny Jaya dan Jayawijaya.

“BMKG menghimbau kepada pemerintah kabupaten dan juga masyarakat Lanny Jaya untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang terjadi seperti embun beku, hujan es, dan angin kencang. Selain itu perlu di bangun lumbung untuk menyimpan makanan agar saat kemarau masyarakat tidak mengalami kelaparan,” tulisnya.

 

reporter : Kristin Rejang

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.