Di Penjara Jadi Seniman, Komedian Hingga Youtuber, Kok Bisa?

ILUSTRASI NARAPIDANA | Potongan frame dari film _4:20_ karya Yoikatra dan BNNK Mimika
ILUSTRASI NARAPIDANA | Potongan frame dari film _4:20_ karya Yoikatra dan BNNK Mimika

“Tidak semua yang ada di dalam penjara itu napi. Dan tidak semua napi berada di dalam penjara”. -Arswendo Atmowiloto, Sastrawan dan Budayawan Indonesia (1948-2019).

Empat orang pemuda memanggil pemuda lainnya yang tampangnya seperti nara pidana (napi) baru. Empat pemuda menunjukkan tato di tubuhnya yang menjadi simbol kejahatan mereka di penjara, mereka berlaku seolah abang-abangan di kawasan itu.

“Ini tato apa?”
“Lucifer, kakak,” jawab si napi baru.

“Ini apa?” Sahut abang-abang yang lain.
“Segitiga mata satu kah?” Terka si napi baru, polos.

“itu saya,” jawabnya. “Ini tato tengkorak, saya setannya.” Abang yang lain menimpali.

“Ini joker. Ini saya,” tambah yang lain sambil tunjukan letak tatonya di perut.

Si napi baru pun dengan polos mengangkat bajunya hingga ke dada. Tampaklah tato bergambar wajah Yesus Kristus. Tato itu langsung membuat keempat pemuda ketakutan. Mereka langsung tunduk ke napi baru baru itu. Sebelum si napi baru berlalu dari mereka, seorang abang menyahut, “Kalau ada apa-apa, minta uang di kakak sini. Nant kakak kasih.”

Itulah sepenggal cuplikan video berjudul “Pamer Tato, Jago-jago Hilang” karya Prison Komedi yang sudah menarik satu juta lebih mata penonton ke kanal youtube mereka.

Kanal youtube para napi kreatif ini sudah dihuni oleh 179 subscriber. Tidak hanya berkomedi, Prison Komedy juga merilis lagu Jail dan Melanesian Queen. Respon warganet pun tidak tanggung-tanggun. Lagu Jail kini ditonton 382 ribu orang dan Melanesian Queen mencapai 679 ribu penonton.

Kepala Kanwil Kemenkumham Papua, Anthonius Ayorbaba beberapa waktu lalu mengatakan bahwa pihaknya benar-benar mendukung kreativitas narapidana yang berada di Papua.

Dijelaskan Anthon, pihak Kemenkumham bahkan mendukung para napi memperoleh perlindungan hukum atas karyanya melalui hak cipta.

“Teman-teman bisa lihat, sekarang ada Prison Komedi di Lapas Abepura yang satu kontennya telah ditonton lebih dari 1 juta orang. Nah, mereka sudah dibayar juga,” terangnya kepada wartawan saat ditemui di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Timika, Jumat (21/1/2022).

Jauh sebelum Prison Komedi viral, para napi di Lapas Kelas IIA Muara Padang juga berkarya senirupa terapan di dalam penjara.

Disebutkan dalam laman resmi Ditjen Permasyarakatan-Kemenkumham yang terbit pada 3 Maret 2015 itu, ketiga perupa yang merupakan napi yakni Dasrial, Adi Sutrisno, dan Bambang sudah memproduksi ratusan karya seni bernilai tinggi.

“Mereka seniman dadakan yang bakat seninya terasah di ‘hotel prodeo’. Karya seni mereka meliputi vas bunga, asbak, lampu tidur dan lentera serta rumah adat. Semuanya berbahan dasar serbuk kayu yang dicampur dengan nasi,” terang laman Ditjen Permasyarakatan-Kemenkumham yang dikutip seputarpapua.com pada Selasa (25/1/2022).

Setahun, sebelum kabar dari trio perupa dari Padang itu dipublis, di London-Inggris tersohor Charles Bronson, napi-seniman lukis beraliran surealis.

Dilansir di Daily Mail, Selasa (25/1/2022), saat ini Bronson sudah menghabiskan 41 tahun di penjara dan bahkan 37 tahun di sel isolasi. Meski begitu, saat ini ia merilis buku lukisan, puisi, dan gambar yang diselesaikannya di balik jeruji besi.

Melansir Sistem Database Pemasyarakatan (SDP), Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS), per 24 Maret 2020, terdapat 293,583 napi. Kapasitas rumah tahanan yang dimiliki saat ini 131,931 rutan atau 123 persen dari kapasitas normal.

Kanwil yang memiliki tahanan paling banyak ada di Jawa Timur, yakni hingga 51,5 ribu. Kapasitas rumah tahanannya 12,8 ribu atau hingga 304 persen.

Kanwil Yogyakarta, Maluku Utara, dan Sulawesi Barat disebutkan memiliki rutan dengan jumlah tahanan normal. Sementara, sisanya melebihi kapasitas rumah tahanan yang disediakan, termasuk di Papua.

Dua seniman besar dunia, yang pertama Herbert Read menyebut seni sebagai ekspresi dari penuangan hasil pengamatan dan pengalaman yang dikaitkan dengan perasaan, aktivitas fisik dan psikologis ke dalam bentuk karya.

Sedangkan Leo Tolstoy mendefinisikan seni sebagai ungkapan perasaan pencipta yang kemudian diungkapkan pada orang lain dengan harapan mereka dapat merasakan apa yang dirasakan oleh penciptanya. Kedua secara tersirat mengatakan seni sebagai bagian pengobatan atau bahkan pertobatan.

Saat ini, mungkin ada hembusan angin segar bagi napi yang haus berkarya di Papua, usai melihat keberhasilan Prison Komedi. Kanwil Papua saat ini memiliki 11 Lembaga Permasyarakatan dan 2 Balai Permasyarakatan. Baru Prison Komedi yang merupakan warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang muncul di permukaan. Selebihnya, publik hanya mendengar kabar tahanan kabur atau bahkan yang menghebohkan pada Juli 2021 lalu adalah dugaan pengendalian bisnis narkotika dari dalam Lapas Kelas II Timika.

“Sekolah kehidupan punya jalan yg terbaik. _We crime but we still fine_. In the name of Papa Jesus, I tell what you wanna (Kami kriminal, tapi kami masih baik-baik saja. Dalam nama Papa Yesus, saya memberi tahu apa yang kau inginkan)” Kutipan lagu Prison Komedi bertajuk “Jail”, sarat ucapan implisit.

reporter : Yonri

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.