dr.Carrina: MPASI Penting Bagi Pertumbuhan Anak, dan Cegah Stunting

Dokter Spesialis Anak RSUD Mimika dr.Carrina N.Dewanti saat ditemui wartawan di salah satu hotel di Jalan Cenderawasih, Mimika, Papua Tengah, Jumat (11/8/2023). (Foto: Fachruddin Aji/Seputarpapua)
Dokter Spesialis Anak RSUD Mimika dr.Carrina N.Dewanti saat ditemui wartawan di salah satu hotel di Jalan Cenderawasih, Mimika, Papua Tengah, Jumat (11/8/2023). (Foto: Fachruddin Aji/Seputarpapua)

TIMIKA | Dokter Spesialis Anak RSUD Mimika dr. Carrina Ninggar Dewanti menekankan pentingnya Makanan Pendamping ASI (MPASI) berbahan tinggi kalori.

Carrina mengatakan, makanan dengan tinggi kalori terkandung di henis makanan yang mengandung protein, karbohidrat dan lemak.

“kayak Balita, dari dulu kita (masyarakat) selalu diajarkan makan sayur-sayuran yang bagus yah, padahal seharusnya makan yang tinggi kalori, tinggi kalori itu hanya ada di protein, karbohidrat dan lemak. Nah itu biasa yang salah, orang tua hanya mencampur bubur labu, pisang, itu biasa tidak menaikkan berat badan,” ungkapnya saat ditemui di salah satu hotel di Jalan Cenderawasih, Mimika, Papua Tengah, Jumat (11/8/2023).

Ia melanjutkan, salah satu penyebab utama anak menderita stunting adalah karena kurangnya asupan gizi yang bagus.

Selain itu, Carrina menyebut stunting bisa terjadi sejak ibu sedang hamil atau mengandung.

“Jika ibu kekurangan asupan gizi dan kurus sewaktu hamil, anak yang dikandungnya akan berpotensi mengalami stunting,” ujarnya.

Untuk mengatasi stunting sejak dini, pemerintah telah mencanangkan program untuk memberantas stunting. Sebab hal itu berpengaruh kepada SDM masyarakat. Bahkan stunting kata Carrina membuat IQ penderita menjadi lebih rendah dari standar umumnya.

“Program pemerintah itu dimulai dari pasangan usia subur, mereka yang baru mau menikah sudah dipersiapkan, agar pengetahuan gizinya bagus, sehingga ibu dan anaknya tidak stunting,” jelasnya.

Ditanya soal kasus stunting Carrina mengaku hanya bisa menyebutkan kasus yang ditangani oleh RSUD Mimika. Menurutnya sejauh ini berdasarkan analisa, pihaknya menangani 7 kasus.

Kendati demikian, menurut Carrina, ketujuh kasus tersebut tidak murni stunting, karena kondisi mereka ditemukan saat dilakukan pemeriksaan kesehatan.

“Maksudnya bukan hanya stunting sendiri, jadi karena dia sakit yang lain, terus pas masuk (RSUD), kita ukur eh ternyata stunting,” katanya.

Carrina menambahkan metode analisis stunting berdasarkan berat badan yang tidak sesuai dengan usianya.

Advertisements

“Kalau stunting itu di ukur hanya satu yaitu tinggi badan per usia, tidak berdasarkan lain-lain,” tutupnya.

 

penulis : Fachruddin Aji

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan