Dua Anak Tertembak di Sugapa, Amnesty: Siapapun Pelaku Harus Diadili

ilustrasi
Ilustrasi

TIMIKA | Amnesty International Indonesia kembali menyayangkan dampak konflik bersenjata di wilayah Kabupaten Intan Jaya, Papua yang kali ini mengorbankan anak-anak.

Direktur Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menyampaikan dukacita mendalam kepada keluarga korban, sembari mengoreksi operasi keamanan di wilayah konflik bersenjata yang mestinya menghormati prinsip-prinsip humaniter.

“Warga sipil, apalagi anak-anak, tidak boleh menjadi korban hingga terluka, apalagi meninggal dunia,” katanya dalam siaran pers, Kamis (28/10/2021).

Amnesty mendesak aparat berwenang segera melakukan investigasi menyeluruh, independen, transparan, dan tidak berpihak. Aparat harus memastikan siapa yang bertanggung jawab atas tragedi ini.

“Jika ada bukti awal yang cukup dan mengindikasikan terjadi pelanggaran hukum HAM dan humaniter, maka pelaku, siapapun dia, harus diadili di pengadilan yang adil dan terbuka bagi masyarakat,” imbuh dia.

Di samping itu, Amnesty mengingatkan pemerintah dan aparat keamanan wajib memastikan agar kejadian seperti ini tidak terulang dan warga atau obyek sipil tidak menjadi sasaran saat operasi keamanan.

“Pemerintah juga seharusnya menyediakan akses terhadap layanan kesehatan dan bantuan kemanusiaan lainnya yang dibutuhkan oleh warga yang terdampak oleh operasi keamanan,” ujar Usman.

Lagi-lagi Amnesty mendesak pemerintah untuk mempertimbangkan kembali pendekatan keamanan yang digunakan untuk merespon masalah di Papua, guna mengakhiri siklus kekerasan yang mengorbankan warga sipil dan kerusakan fasilitas sipil.

“Jumlah korban yang terus bertambah dari warga sipil menunjukkan bahwa pendekatan ini tidak kunjung berhasil menciptakan dan menjaga keamanan di Papua,” ucapnya.

Ada pun dua orang anak menderita luka tembak saat terjadi kontak senjata antara aparat keamanan dengan kelompok bersenjata di Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, sejak tanggal 26 Oktober 2021 malam.

Salah satu dari kedua anak tersebut, NS (2), dilaporkan meninggal dunia karena terluka akibat tembakan pada 27 Oktober pagi. Kedua anak tersebut juga dilaporkan tidak bisa mendapat perawatan medis karena tidak ada tenaga kesehatan di Puskesmas setempat.

“Dalam hukum HAM internasional, Pasal 6 Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik (ICCPR), yang telah diratifikasi Indonesia melalui UU Nomor 12 Tahun 2005, telah menegaskan bahwa setiap individu memiliki hak untuk hidup dan tidak boleh ada seorang pun yang boleh dirampas hak hidupnya,” tegas Usman.

Amnesty menilai, ketidakmampuan pemerintah untuk menyelidiki dugaan pelanggaran HAM, mengidentifikasi, mengadili, menghukum para pelanggarnya, serta ketidakmampuan pemerintah untuk memberikan kompensasi bagi para korban atau keluarganya merupakan bentuk pelanggaran HAM yang terpisah.

*Polisi Tuding KKB*

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Ahmad Musthofa Kamal, Rabu (27/10/2021), mengatakan awalnya KKB melakukan penembakan terhadap Pos Koramil dan Polsek Sugapa.

Serangan tembakan oleh KKB, sebut Kamal, memaksa aparat melakukan tembakan balasan sehingga terjadi baku tembak.

Pada saat terjadi baku tembak, lanjut dia, dua anak sedang bersama orangtuanya beraktivitas di sekitar rumah, yang kemudian menjadi sasaran KKB.

“Diketahui kedua anak tersebut mengalami luka serpihan tembak, satu meninggal dunia dan satu terkena tembakan di punggung belakang,” sebut Kamal.

Melihat kejadian tersebut, kata Kamal, keluarga korban hendak membawa kedua putranya ke Puskesmas. Namun tidak adanya tenaga medis di Puskesmas sehingga korban dibawa kembali ke rumah.

Kemudian, pada malam harinya barulah keluarga korban melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Sugapa.

“Selain masyarakat, pada siang harinya terjadi penyerangan terhadap anggota TNI yang sedang berpatroli,” katanya.

Saat ini personel gabungan TNI-Polri masih melakukan pengejaran dan pengamanan untuk mengantisipasi gangguan Kamtibmas oleh KKB.

“Kami mengajak seluruh stakeholder dan masyarakat untuk terus mendukung upaya TNI-Polri menjaga situasi kamtibmas, sehingga pembangunan dan kesejahteraan di Kabupaten Intan Jaya dapat segera terwujud,” imbuhnya.

reporter : Sevianto Pakiding
editor : Aditra

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.