seputarpapua.com

Gereja di Deyai ini Tak Lelah Terapkan Protokol Kesehatan Sebelum dan saat Ibadah

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Para jemaat Gereja GKI Yudea Waghete yang selalu diperiksa suhu tubuhnya sebelum masuk ke dalam gereja. (Foto: Ist)

TIMIKA | Menerapkan protokol kesehatan 3 M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan) untuk mencegah Covid-19 mungkin menjadi beban atau kesulitan bagi sebagian orang. Karena memang itu adalah kebiasaan baru bagi sebagian besar penduduk di Indonesia maupun di Papua khususnya.

Meskipun begitu, ada juga kabar bahagia dari daerah-daerah di Papua, dimana ternyata ada tempat-tempat yang berkomitmen membantu pemerintah untuk mencegah penularan Covid-19.

Seperti di salah satu gereja yang ada di Waghete, Kabupaten Deyai, yakni Gereja GKI Yudea Waghete.

Terletak di dalam Kota Waghete, tepatnya di depan terminal Waghete, Distrik Tigi, Gereja GKI Yudea ini tidak lelah menerapkan protokol kesehatan bagi jemaatnya dari awal pandemi hingga saat ini.

Saat dihubungi Seputarpapua.com Selasa (8/12), Ketua Jemaat GKI Yudea Waghete, Pdt. Lensi Larenaung, S.Th mengungkapkan, sejak pemerintah mengungumkan adanya Pandemi Covid-19, gerejanya langsung menerapkan protokol kesehatan. Para jemaatnya diinstruksikan untuk menggunakan masker, jaga jarak dan harus mencuci tangan sebelum masuk dan beribadah di GKI Yudea.

“Dari awal pandemi sampai sekarang kita tidak kenal lelah untuk menerapkan protokol kesehatan. Kita lakukan ini untuk mendukung pemerintah sekaligus kita menyadari pentingnya menjaga kesehatan saat beribadah,” ungkapnya.

Pdt. Lensi menjelaskan, saat pemerintah mengumumkan Pendemi Covid-19, gereja langsung menyiapkan tempat cuci tangan, handsanitazer, pengukur suhu tubuh. Semuanya dibeli dengan biaya gereja sendiri, tanpa bantuan pemerintah.

“Hingga kini jemaat kita ada 300 orang lebih. Waktu ibadahnya pun kita bagi menjadi dua sift, sehingga tidak terjadi penumpukan pasien dalam satu waktu. Dan mereka bisa selalu menjaga jarak,” terangnya.

Pdt. Lensi menyatakan, letak gereja yang berada di dekat pusat perekonomian warga adalah sarana bagus untuk mengkampanyekan praktek 3M. Karena ketika beribadah, jemaatnya datang menggunakan masker ditambah sebelum masuk gereja, mereka selalu cuci tangan dan diperiksa suhu tubuhnya.

“Pemahaman masyarakat di Deyai ini masih minim terutama terkait praktek 3M. Kita berharap pemerintah bisa terus sosialisasi pada masyarakat,” ujarnya.

Selain pemerintah giat sosialisasi, Pdt Lensi berharap, pemerintah juga bisa memberikan bantuan pada tempat-tempat ibadah seperti pengadaan masker. Menurutnya, saat ini masker sudah cukup langka di Kabupaten Deyai. Jikapun ada, harganya cukup mahal.

“Dulu kita pernah membuat proposal meminta bantuan masker di RSUD. Hingga sekarang, kita hanya mendapat bantuan satu kali saja, itupun hanya 1 dus. Harapan saya pemerintah bisa memberi bantuan masker atau handsanitizer, karena sangat penting buat kami,” pungkasnya.

 

Reporter: NIA
Editor: Misba Latuapo
Berita Terkait
Baca Juga